Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 202 Irinya Lulu


__ADS_3

Radit mulai mencari keberadaan adiknya, ia merasa tak tega dengan Lulu yang menangis karena sang Ibunda, dimana Anna kini mengandung benih dari Galih.


Anak kecil berumur belasan tahun, sudah menduga, jika Lulu sakit hati dan tidak ingin kasih sayangnya terbagi oleh kehadiran seorang bayi dari rahim ibunya sendiri.


Karena anak itu pastinya akan membawa ketidaknyamanan untuk Lulu. Pikiran negatip terus menyerang Lulu, membuat pikirannya semakin


Kacau karena ketakutannya.


Radit mencoba mengetuk pintu kamar adiknya, dengan perlahan mulutnya kini memanggil nama sang adik.


"Lu, Lulu. Ini kakak."


Tok .... Tok ....


Beberapa kali Radit melayangkan sebuah ketukan pintu, tetap saja Lulu tidak membuka pintu kamarnya, apalagi menjawab teriakan yang terlontar dari mulut sang kakak.


Radit berusaha tak putus asa untuk segera membuka pintu kamar sang adik.


"Lulu, ayo buka dong pintu kamarnya."


Lulu seakan diam, bibirnya seperti sengaja di jahit agar tidak berbicara dan menjawab panggilan dari sang kakak.


"Lulu, ayo keluar. Kamu ini sebenarnya Kenapa sih, tidak mau membuka pintu untuk kakak kandung kamu sendiri?"


Karena Mendengar hal yang diucapkan kakaknya, pada akhirnya Lulu beranjak turun dari ranjang tempat tidur, ia kini mendekat ke arah pintu kamar membukanya secara perlahan, terlihat Radit tersenyum sembari menangis. Anak berumur belasan tahun itu kini memeluk sang adik dengan begitu erat, "kenapa baru dibuka pintunya, Kakak dari tadi nungguin kamu. Kamu ini kenapa sih Dek sedih terus?"


Lulu mulai membalikkan badannya untuk duduk kembali di ranjang tempat tidur, sedangkan Radit mengikuti langkah kaki adiknya, ia ikut serta duduk di ranjang tempat tidur. Melihat sang adik tampak murung dengan kedua mata yang menunduk.


Melihat hal semacam itu, membuat Radit berusaha menghibur sang adik, walau mungkin terasa susah tapi bagi dirinya itu hal yang mudah.


Radit berusaha membuat Lulu tersenyum beberapa kali. Tapi tetap saja Lulu seakan membuang muka dan tak berani membalas senyuman Kakaknya sendiri.


"Lulu Kok gitu sih, Kan kakak pengen dengar cerita kamu. Ayolah cerita jangan pendam sendirian seperti itu, kakak pasti akan mendengarkan keluhan Lulu saat ini, dan kakak akan berusaha mencari solusi agar Lulu tidak sedih lagi seperti ini."


Anak kecil berumur tiga tahun itu, memajukan bibir bawah dan juga atasnya, terlihat sekali iya benar-benar enggan berbicara ataupun menjawab perkataan kakaknya.

__ADS_1


Radit perlahan mengusap rambut sang adik, ia berkata dengan penuh kelembutan dan juga rasa kasih sayang.


Karena Radit meluangkan perhatian pada adiknya, perlahan Lulu sedikit terbuka, menceritakan tentang isi hatinya.


Anak berumur tiga tahun seperti Lulu sangatlah pintar dalam bebicara, ia selalu celoteh dalam segala hal.


Menatap ke arah sang kakak dengan tetapan penuh kesedihan." Lulu sedih kalau mama hamil, nanti Lulu nggak di perhatiin mama lagi."


Memegang bahu sang adik dan berkata." Mama pasti merhatiin Lulu kok, Lulu ya aja yang nggak peka."


Bibir mungil itu kini ia majukkan sedikit, terlihat sekali Lulu tak mencerna perkataan sang kakak dalam pikirannya.


"Kakak, mama itu sudah lupa sama Lulu."


Semakin terlihat Lulu semakin tertekan dan stres, ia butuh dekapan Anna. Tapi Anna sibuk dengan kondisi tubuhnya yang drop.


"Lulu pengen kaya dulu, mama sama papah Raka," ucap Lulu. Sontak membuat Radit merasa seperti itu, ia juga mengiginkan papah Raka di dekatnya.


"Kakak juga rindu papa Raka, sudah lama mama nggak ngajak kita berdua ketemu papah. Mama sibuk ngurusin Papah Galih sampai lupa pada kita," balas Radit, terlihat rasa cemburu pada hati kedua anak anak Anna yang masih butuh kasih sayang lebih dari ibunya sendiri.


"Apa kita buat, mamah tidak punya anak," ucap Lulu, entah kenapa pikiran anak itu seperti Raka. Yang selalu menaruh dendam dan penuh rencana.


Apa ada seseorang mempengaruhi otak anak berusia tiga tahun itu.


"Lulu kamu masih kecil, dan kakak juga belum tahu apa apa?" tanya Radit, masih terlihat heran dengan apa yang dikatakan adiknya.


"Kakak, kita tonjok aja perut mama sampe bayi itu hilang!" jawab Lulu.


Membuat Radit mengerutkan dahi," kamu tahu dari mana?"


Radit semakin heran dan aneh oleh perkataan Lulu, " jelas, dede bayi kan ada di perut mama. Kalau dede bayi di pukul pasti mati."


Radit menelan ludah, baru pertama kali mendengar Lulu berkata seperti itu. Apa karena pengaruh ponsel yang berisi rekaman Video, atau perkataan pengasuh.


"Tapi kakak takut, de," ucap Radit. Terlihat raut wajah tak yakin pada hatinya.

__ADS_1


"Takut kenapa kak?" tanya Lulu dengan raut wajah polosnya.


" Kakak takut melukai mama, kalau nanti kita melakukan hal yang kamu rencanakan!" jawab Radit dengan penuh keraguan, ia memikirkan risiko dan rasa takut.


Lulu anak berumur tiga tahun itu, terdiam. Entah kenapa Lulu, dipikirananya sampai ada niat jahat seperti itu.


"Terus gimana kak, kakak mau kasih sayang mama terbagi saat datangnya bayi dalam perut mama."


Betapa lancarnya Lulu berbicara, membuat Radit mengusap pelan rambut panjangnya. " ya tidak mau lah."


Ditengah obrolan kedua adik kakak beradik itu, sosok seorang pengasuh melihat dan mencoba mendengarkan mereka mengobrol.


Ada rasa curiga, sampai sang pengasuh datang. " Lulu, Radit. Kalian sedang apa?"


Mereka berdua tanpak terkejut dengan kedatangan sang pengasuh.


"Bibi, loh kok ada di sini?" tanya Radit, gelisah dan kaget melihat kedatangan pengasuh adiknya.


Wanita yang sudah lama berkerja menjadi pengasuh itu, kini melipatkan kedua tangan, merasa heran dengan gerak gerik Radit dan juga ucapan yang terlihat begitu gugup.


"Kok, bibi merasa ada yang kalian sembunyikan ya?" tanya wanita berambut tergulung rapi dengan tusuk kode yang ia pakai.


Radit menggelengkan kepala berusaha menyembunyikan apa yang ia ceritakan bersama adiknya," apaan sih, bibi nggak jelas banget."


Radit mulai berpamitan pada adiknya, yakini melangkah pergi untuk keluar kamar sang adik.


Sang bibi kini memanggil anak kedua dari majikan Anna," loh, kamu mau ke mana Radit, bibi belum selesai ngomong, langsung pergi begitu saja. Radit."


Pengasuh wanita itu diabaikan oleh Radit, anak itu pergi begitu saja, tak mendengarkan panggilan dari sang pengasuh.


Lulu mulai turun dari ranjang tempat tidur untuk menghampiri pengasuhnya, ia menarik tangan sang Bibi untuk menemaninya tidur.


"Ayo bi, Lulu udah ngatuk. Kita tidur."


"Tumben Lulu mau di temani bibi tidur, kan biasanya sendiri."

__ADS_1


"Ih, siapa yang selalu tidur sendiri, Lulu selalu di temani mama. Berhubung mama lagi sibuk jadi cuek terus sama Lulu, apa lagi mama mau punya anak lagi."


Deg ....


__ADS_2