Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 35 Kehadiran Bu Dela.


__ADS_3

Aku tersungkur jatuh ke atas lantai bertabrakan dengan Kak Indah. Membuat wanita yang menjadi kakaku itu mengerutu kesal.


"Anna, kalau jalan, hati hati donk."


Tangan mulus kakaku memegang jidanya, yang mungkin terasa sangat sakit.


Sedangkan aku berusaha berdiri, dari atas lantai. Merasakan rasa sakit pada badan dan juga pinggangku.


Pak Galih, masih berada di dalam mobil, tertawa terbahak bahak, melihat aku dan kak Indah bertabrakan.


"Hati-hati Anna," teriaknya membuat aku menganggukkan kepala, menahan rasa malu karna kecerobohanku sendiri.


Menarik tangan kak Indah kedalam rumah, dan berkata,"kak, kakak tahu tidak?"


"Mm. Apa!?"


Kak Indah terlihat masih santai, saat aku ingin bercerita tentang mantan suaminya. Cerita tidak? Aku takut nanti kak Indah marah dan sakit hati!


"Enggak jadi deh kak."


Kuputar balikan badan untuk segera menghampiri ketiga anak anak yang tengah bermain,


"Ih, rese."


Kak Indah meraih tanganku, membuat aku berhadapan dengan wajahnya." Tadi kamu mau ..."


Belum perkataan Kak Indah terlontar semuanya, suara ketukan pintu kini terdengar.


Tok .... Tok.


"Siapa?"


Kak Indah melepaskan tanganku, bergegas menghampiri pintu rumah.


Hingga dimana suara cacian dan hinaan kini terdengar kembali pada kedua telinga, aku seperti mengenal suara itu.


Karna penasaran, kaki ini bergegas melangkah menghampiri pintu rumah. Betapa terkejutnya sosok orang yang datang, ternyata wanita tua dengan rambut belakang model gelung sanggul.


Wanita tua itu, mantan mertua kak Indah. Ada apa dia ke sini? Apa si wanita muda bernama Siren mengadu pada ibu Mas Danu?


Aku berusaha tenang dan memikirkan hal baik, semoga orang tua itu tak membuat Kak Indah menangis.


Hanya bisa mengintip di dekat tembok yang tak jauh dari pintu rumah, mendengar percakapan mereka.

__ADS_1


"Indah, nak."


Wanita tua itu memegang kedua pipi kak Indah, kedua matanya berkaca-kaca. Ada raut wajah sedih yang tak bisa ditebak olehku.


"Ibu, kenapa datang ke sini?"


Pertanyaan Kak Indah, membuat mantan mertuanya menangis.


"Ibu datang ke sini, berharap kamu bisa balik lagi dengan Danu!"


Jawaban wanita tua dengan rambut belakang tergulung, menyisakan harapan dari wajahnya. Ia terlihat begitu menyayangi Kak Indah seperti anaknya sendiri.


Berbeda dengan nasib ini, mertua dan suamiku menganggap aku seperti babu. Ahk, mengigat semua itu malah membuat aku sakit hati.


"Indah, ibu berharap kalian rujuk lagi," ucap wanita tua bernama Bu Dela. Ia begitu lembut, tutur katanya selalu nyaman jika di degar.


Kak Indah, kini berusaha tak memperlihatkan kesedihanya, dengan berpura pura tegar.


"Maaf bu, sepertinya aku tak bisa? Hatiku sudah sakit dengan penghianat yang dilakukan Mas Danu."


Bu Dela mendekat ke arah Kak Indah, mengusap pelan kepala rambut kakaku. Pemandangan yang selalu aku dambakan, dikala seorang lelaki berkhianat. Masih ada pelindung dan penyembuh luka seperti mantan ibu mertua Kak Indah.


"Indah, semua bisa di perbaiki dengan kepala dingin. Dan meluruskan kesalah pahaman yang terjadi, ibu tahu jika Danu bukan selingkuh. Tapi, ia di jebak Indah. Ayolah mengerti, nak. Ibu ...."


Belum perkataan Bu Dela terlontar semuanya, Kak Indah kini menimpal," cukup bu. Kalau memang Mas Danu di jebak, kenapa dia memilih wanita itu. Kenapa? Apa karna dia mengandung anak Mas Danu? Anak yang selama ini di inginkan anak ibu, dimana aku belum menghadirkan seorang anak untuk Mas Danu?"


"Indah, ibu mengerti apa yang kamu rasakan saat ini. Anak ibu terlalu terbuai akan keinginanya, hingga ia tak bisa bersabar akan penantian seorang anak."


"Kalau ibu mengerti, kenapa ibu masih memohon kepadaku? Bukanya sudah ada menantu baru untuk ibu. Yang mau memberikan cucu untuk ibu?"


"Indah, tolonglah dengarkan dulu penjelasan ibu. Ibu ingin kamu membantu ibu!"


"Bantu apa bu? Indah sudah tidak mau berurusan dengan ibu lagi? Sudah cukup sepuluh tahun mengenal ibu sebagai ibu mertua, dan sekarang ...."


Kak Indah menangis tak meneruskan ucapanya, ia berusaha menahan, tak mau sampai melukai hati mantan mertuanya.


" Indah, kalau memang kamu tak bisa rujuk lagi dengan Danu, ibu berharap kamu mau membantu ibu."


Kak Indah hanya diam, di saat mantan mertuanya Bu Dela. Meminta bantuan. Entah apa yang sebenarnya terjadi? Apa ada masalah besar?


Aku dibuat penasaran dengan obrolan mereka berdua, bagaimana tidak. Bu Dela tiba tiba memberikan suatu map berwarna hijau muda dengan tulisan yang sedikit terbaca olehku.


Tulisan Medis, apa coba? Aku tak mengerti.

__ADS_1


Apa Ibu Dela sakit? Atau Mas Danu?


Semua itu tiba tiba menjadi sebuah pertanyaan dibenakku.


Terlihat Kak Indah membaca Map berwarna hijau muda itu, ia menangis sembari menutup mulutnya. Ekspresi seperti orang tak percaya.


"Berarti selama ini."


"Kamu simpan rahasia ini dulu, ya. Nak."


Kak Indah menganggukkan kepala, setelah Ibu Dela menyuruhnya menjaga rahasia. Aku benar benar menyesal, setelah mendengar percakapan kak Indah dan Bu Dela. Membuat aku menjadi penasaran dan ingin tahu.


"Mamah, sedang apa di sini?" tanya anakku Farhan, mengagetkanku seketika. Seperti sudah menjadi kebiasaan, saat aku mengintip dan mendengarkan percakapan orang lain, Farhan pasti mengangetkanku.


"Farhan, kamu kenapa ada di sini tiba tiba!?" balasku pada Farhan.


Dimana anak itu memutarkan bola matanya, seakan meminta sesuatu yang ia inginkan. "Kalau matanya udah muter muter gitu, pasti ada maunya ya?"


"Hehe."


Anakku memperlihatkan senyumannya yang khas.


"Mau apa?"


Aku bertanya, kini Farhan menjawab dengan nada manjanya." Mau jus buah."


"Mm, ya sudah mamah bikinin. Tunggu dulu sebentar ya!" Aku kini bergegas pergi ke dapur, untuk membuatkan ketiga anak anakku jus yang selalu mereka inginkan.


Di rumah kak Indah segala macam buah buahan, ada sampai buah berenukpun ada. Hehe bercanda.


Karna mantan mertua kak Indah masih ada di rumah, saat itulah aku mulai membuatkan minuman untuknya.


Setelah selesai, aku kini berjalan menghampiri ruang anak anak. Mengantarkan jus kesukaan mereka, setelah itu mengantarkan pada Bu Dela.


Ketegangan nampak aku rasakan, dimana mereka masih berbicara serius. Map hijau muda yang membuat aku penasaran kini tergeletak di atas meja. Rasanya aku ingin membuka map itu, bagaimana caranya?


"Anna?"


Aku tercengang kaget di saat Bu Dela langsung menyapakku.


"Bu Dela, saya tadi mendengar ada tamu. Saya kira siapa ternyata Bu Dela. Oh ya, kebetulan sekali saya buatkan jus buah!"


Berusaha bersikap ramah, dengan hati yang di gerumuti rasa penasaran.

__ADS_1


"Enggak usah repot repot Anna, sebentar lagi ibu mau pulang."


Mertua Kak Indah memang sosok ibu yang di idamkan wanita masa kini.


__ADS_2