Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 70 Penjelasan Deni.


__ADS_3

Cih, hanya sebuah poto kemesraan yang terpapang. Tak membuat hatiku panas atau cemburu. Biasa saja.


(Norak mas, enggak guna.)


Aku langsung mematikan ponselku, membaringkan badan dan terlelap untuk tidur, semoga hari esok lebih baik lagi dari pada ini.


Pagi hari, seperti biasa aku mulai berangkat ke tempat usahaku. Semoga saja hari ini hari yang baik.


Setelah selesai sarapan, Mbok Nun datang memberitahu jika ada tamu yang datang.


"Maaf Nyonya, ada tamu yang datang? "


"Siapa?"


"Dua orang pemuda! "


"Apa mungkin itu Deni dan Adam? "


" Ya sudah suruh mereka masuk dan jangan lupa beri cemilan dan minuman ya. Mbok. "


Setelah selesai mengemasi keperluan untuk pergi, aku menghampiri dulu tamu yang tiba tiba datang tanpa aku tak tahu siapa orang itu.


Saat melihat ke arah ruang tamu, ternyata benar dugaanku. Adam dan Deni datang. Aku mengira mereka tidak akan datang.


"Anna."


"Silahkan duduk. "


Aku tetap memperlihatkan keramahanku, karna itu lah ciri khasku dari dulu.


Adam selalu tersenyum dan bersikap sopan, berbeda dengan Deni yang terlihat ketus.


"Maaf kami baru datang, karna kesibukan yang harus kami selesaikan. "


"Tidak apa apa. Aku juga mengerti. "

__ADS_1


Adam memberikan sebuah poto mobil kepadaku," Ini apa? "


"Oh ya, kami kemarin sudah menemukan mobil yang menabrak kamu dan Daniel. "


"Jadi maksud kalian ini mobilnya? "


Adam menganggukkan kepala dan berkata, " Iya, An. "


Mungpung mereka ada di sini, aku juga akan menunjukkan sebuah jam dan tangan yang di ambil anakku dari mobil Mas Raka.


Saat menampilkan semua benda itu, kedua mata Deni membulat. Iya memegang jam tangan mewah begitupun dengan kalung. " Dari mana kamu mendapatkan ini?"


Perkataan Deni sedikit bernada tinggi, membuat aku berusaha mengontrol diri agar tidak emosi. "Aku menemukan benda itu pada mobil mantan suamiku. "


Adam mulai meraih jam tangan dari tangan Deni, " Ini jam percis dengan jam milik Daniel. "


Kedua mata Deni berkaca kaca. " Kamu tahu, ini barang berharga milik kak Daniel. Dan kalung ini, ia pesan dengan nama inisial namamu dan juga Kak Daniel. Sebelum kecelakaan itu terjadi, aku yang mengantar kak Daniel memesan ini untuk memberikannya padamu."


"Semua bukti kini mengarah pada Mas Raka, tentu saja membuat aku semakin yakin. Bagaimana jika aku datang ke rumah Mantan suamiku sekarang. "


" Tapi semua bukti dan yang aku temukan jelas jelas mengarah pada lelaki yang menjadi mantan suamiku sekarang. Oh ya, aku ada bukti lagi. "


Saat itu aku mulai menunjukkan poto ayah Ajeng yang menjadi polisi, dimana Kedua mata Deni membulat kembali. Ia semakin kesal saat kutunjukkan poto polisi berbadan gendut itu.


" Dia polisi yang melarang aku dan ibu melihat mayat Kak Daniel, dia juga yang menekan aku dan ibu jika mayat sudah hancur dan tak bisa di lihat. "


Waw, ternyata bukti semakin kuat. Adam mulai mencerna semua bukti yang aku temukan. "Sepertinya, Raka. Ajeng. Dan Ibu mertuamu ada kaitanya dengan kecelakaan ini. "


"Jadi kita harus apa? "


"Kita harus menekan Raka untuk berkata jujur . "


"Pertahanan Raka kuat karna ada Ajeng. Kalau kita menekan dia, yang ada kita di penjara. Karna Ajeng mempunyai seorang ayah polisi. "


Deni ikut bicara. Karna ia sekarang sudah tahu kelicikan yang tersembunyi dari orang orang yang sudah membuat kakaknya meninggal dan tak di temukan mayatnya sama sekali.

__ADS_1


Aku berusaha berpikir, dengan jerni. Cara agar bisa mengelabuhi musuh mengatakan semuanya. Karna di satu sisi pihak ada seseorang yang kuat dan berkuasa.


"Aku tahu sekarang. Bagaimana kita kalau kita datang ke kampung Ibu Mas Raka dulu. Bukannya itu kampung kamu juga Deni. "


Deni menganggukan kepala. " iya."


Terlihat sekali ia masih membenciku. Hingga suatu ketika Deni berucap kembali dengan nada terlihat ragu. " Ibu menitipkan kata maaf kepada Kak Anna. "


.


Aku terkejut dengan perkataan Deni." Kenapa harus meminta maaf. "


"Karena, sudah salah paham dengan semua kejadian tabrakan itu. Sebenarnya ibu dulu sangat membenci Kak Anna karna menikah dengan Mas Raka, anak Bu Sari, yang dimana tetangga ibu sendiri. Ibu mengira Kak Anna sudah berkhianat kepada Kak Daniel, sampai tidak mencari tahu tentang mayat Kak Daniel yang tak ada. Dan belum di temukan sampai sekarang, maka dari itu Ibu saya berpura pura baik di depan Kak Anna, dan di belakang menghasut para ibu ibu begitu pun Bu Sari. Mertua kak Anna sendiri. Dan yang menguyur wajah Kak Anna adalah ibu saya sendiri. Karna saking bencinya sama Kak Anna. Tapi sekarang ibu merasa bersalah tidak tahu jika Kak Anna mangalami Amnesia pada kecelakaan itu. "


Aku tak menyangka di luar kejadian itu, Deni menceritakan semuanya. Aku baru tahu sekarang, apa aku harus marah atau membalaskan semuanya. Tapi rasanya itu tak mugkin karna kejadian itu sudah lama.


"Kak Anna, maafkan juga Deni. Karna Deni sudah meneror kehidupan Kak Anna. Karna rasa benci Deni yang sulit dikendalikan. Tapi sekarang Deni tidak akan mengulanginya lagi, karena Kak Adam sudah menyadarkan Deni. "


Aku tersenyum dan membalas ucapan Deni. " Deni, aku sudah memafkan ibu dan kamu dari awal, aku tidak ingin mengungkit masa lalu lagi, karna semua sudah jelas. Apalagi kejahatan kamu waktu kemarin kemarin, aku memaklumi semua. Karna aku juga salah tidak mencari tahu lebih awal, aku selalu mengabaikan mimpi buruk dan juga rasa sakit di kepalaku, tentang ingatan masa lalu. Yang aku pikirkan hanyalah bagaimana aku bahagia tanpa hinaa Ibu Mertua. Yang ternyata semua adalah sandiwara. Di sini aku yang jadi korban drama rumit ini. Sekarang aku ingin mencari orang yang sudah menambrakku dan juga kakak kamu. "


Aku teringat akan Bu Nunik, hingga dimana aku mulai bertanya tentang wanita tua itu. " Apa kamu tahu, Bu Nunik? "


"Bukanya Bu Nunik adalah tetangga ibu? Kenapa Kak Anna menayakan dia? " Terlihat keringat dingin bercucuran. Seperti Deni menyebunyikan sesuatu.


" Karna semenjak tinggal bersama mertua dia lebih agresip dan juga begitu dendam kepadaku. " Aku berharap Deni berkata jujur lagi. Aku menatap ke arahnya. Deni terlihat ragu menjawab apa yang aku tanyakan tentang Bu Nunik.


"Ayo ceritakan saja aku tidak akan marah. "


Sebenarnya Bu Nunik begitu karna ibu juga. Dimana ibu menfitnah Kak Anna pernah berhubungan badan dan hamil, hingga Ibu merekayasa jika Radit anak haram akibat perselingkuhan Kak Anna dan suami Bu Nunik.


Aku benar benar kaget dengan semua yang diceritakan Deni, pantas saja Radit selalu jadi korban.


"Deni juga pernah melihat ibu menyaksikan, Radit di siksa oleh Bu Nunik. Karna ibu terus mengompori Bu Nunik. "


Aku tidak ingin mendengar itu lagi, aku mengira rasa trauma itu karna Ajeng dan Mas Raka. Ternyata karna penyiksaan Bu Nunik.

__ADS_1


" Maafkan Ibu Kak Anna. Semua di luar kendali, karna kesalah pahaman yang terjadi, karna ibu tak tahu jika Kak Anna amnesia. "


__ADS_2