Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 34 Menduga


__ADS_3

Pak Galih dengan sekuat tenaga berlari mengejar, orang itu. Sedangkan aku, menghampiri suster yang menjaga anak anakku.


Hatiku rasanya tak karuan, bagaimana jika orang itu berhasil membawa Lulu?


"Suster, tidak kenapa kenapa kan?"


Sang suster menganggukkan kepala, membuat aku langsung meraih Lulu dari tangannya.


Lulu yang menangis membuat aku berusaha menenangkan dia, " Cup, cup. Tenang ya sayang, jangan nangis lagi, ini mamah sayang."


Perlahan tangisan Lulu mulai mereda, membuat aku sedikit tenang. " Ma-ma-h."


Lulu masih belajar bicara, jadi aku memahami ketakutanya, Farhan dan Radit sudah ada di dalam mobil, membuat aku bertanya pada keadaan mereka." Kalian baik baik sajakan, Nak?"


"Iya mah, kami baik baik saja."


Jawaban anak anakku membuat aku sedikit tenang.


Aku sangat berterima kasih sekali pada sang suster yang begitu hebat, menolong anakku hingga tak bisa di ambil orang jahat.


"Terima kasih ya, Sus." ucapku pada sang suster yang berdiri berhadapan denganku.


"Ibu tenang saja, saya pasti akan melindungi anak anak ibu." jawab sang suster dengan begitu ramah.


Memeluk erat tubuh Lulu, hingga dimana Pak Galih datang dengan keringat bercucuran pada jidat dan juga kemeja yang ia kenakan.


Nafasnya terengah engah, ia mungkin kelelahan. Mengejar orang jahat yang mau mengambil Lulu dari tangan sang suster.


"Gimana Pak, orangnya ke tangkap?"


Bertanya di saat nafas Pak Galih tak tenang, membuat aku menyuruh Radit megambil air minum di dalam mobil Pak Galih.


Mengambil air minum dan menyodorkan pada Pak Galih yang terlihat begitu kelelahan.


"Maafkan saya, An. Orang itu ternyata sudah pergi jauh."


Membungkukan badan, merasakan rasa lelah. Membuat aku menjawab." tak apalah, Pak? Yang terpenting Lulu selamat.


Pak Galih kini berdiri tegak dan bertanya pada sang suster." Sus, dia wanita apa laki laki."


Sang suster langsung menjawab pada Pak Galih," saya melihat dari bentuk matanya dia seorang wanita. Dan perutnya yang lebar. Suaranya begitu lembut."


Jawaban sang suster membuat aku curiga pada tetanggaku, yang selalu membenci dan menghinaku.

__ADS_1


"Apa itu Bu Nunik?"


Aku terus menyangkal jika itu Bu Nunik, karna sudah beberapa kali dia datang ke rumah sakit, membuat Radit selalu ketakutan. Dan Farhan yang selalu memberitahu kedatangan Bu Nunik dikala penjagaanku lengah.


"Anna, bukanya Bu Nunik itu hanya tentangga kamu. Tapi kenapa dia begitu jahat kepadaku, An. Sebenarnya dia punya dendam apa kepadamu. Sampai dia tega melakukan hal yang jahat pada kamu dan anak anak?"


Pertanyaan Pak Galih, membuat aku bingung. Karna aku juga tak mengerti kenapa wanita tua yang menjadi tetanggaku itu begitu jahat, padahal. Aku tak pernah membuat masalah sama dia.


Yang ada dia selalu membuat masalah kepadaku, dari mencaci dan menghina. Apalagi dia selalu mentertawakan kesedihanku dikala aku masih tinggal di rumah ibu Mas Raka.


"Entahlah, pak. Saya juga tak mengerti dengan Bu Nunik yang begitu membenci saya."


Pak Galih mulai ingat dengan cerita Farhan, dimana Bu Nunik datang ke rumah sakit, dan Anna mengejar seseorang di rumah sakit.


"Sus, apa boleh kami mengecek CCTV Rumah sakit ini, untuk mengecek pelaku atas dasar kejahatan pada anak anak Ibu Anna."


Aku hanya menyimak, di saat Pak Galih bertanya pada sang suster.


"Tentu saja boleh pak."


Pak Galih tanpak senang dengan suster yang baik dan juga ramah itu, memperbolehkan mengecek cctv di kamar Radit.


"Ya sudah, Anna. Sekarang saya akan antarkan kamu dulu pulang dan nanti balik lagi ke sini. Untuk mengecek cctv."


Aku hanya menuruti apa perkataan Pak Galih, saat itulah Pak Galih mulai menyuruh kami untuk masuk ke dalam mobil, mengantarkan kami ke rumah kak Indah.


"Pak, setelah ini bapak mau ke rumah sakit lagi?" tanyaku yang penasaran setelah mendengar percakapan antara Pak Galih dan juga suster.


"Iya, An. Saya mau mengecek CCTV di ruangan Radit, untuk menjadi bukti di persidangan nanti dan melacak siapa sebenarnya Ibu Nunik itu. Kenapa dia bisa menjadi wanita jahat dan kejam kepada anak anakmu!" jawab Oak Galih dengan begitu serius disaat ia megendarai mobil dengan tatapan mata yang fokus.


Lelaki baik dan juga pintar dalam segala hal, membuat setiap wanita yang melihatnya pasti mengiginkan dirinya.


Pak Galih lelaki berkumis tipis itu, membuat pesonanya terpancar. Aku kagum dengan kebaikanya.


"Anna, kenapa kamu memperhatikan saya terus dari tadi."


Lamunanku seketika membunyar di saat Pak Galih, menatap ke arah wajahku.


"Mm, eh Pak."


Aku tentu saja gugup dan salah tingkah. Membuat aku mengaruk belakang kepala yang sebenarnya tak gatal.


"Kenapa?"

__ADS_1


Suara laki lakinya, membuat gelora jiwa meronta ronta. Ingin sekali dibuat dirinya meleleh.


Astaga, sadar Anna. Kamu ini belum cerai sepenuhnya dengan Mas Raka. Dosa dosa.


"Apa ada yang salah dengan perkataanku?"


Pak Galih kini bertanya kembali, aku hanya bisa tersenyum kecil.


"Oh tidak ada kok Pak, oh ya kenapa berhenti, mogok mobilnya?" Tanyaku, karna tiba tiba saja mobil Pak Galih berhenti mendadak.


Pak Galih mengerutkan dahinya, membuat aku mengangkat halis.


"kamu ini enggak sadar, apa emang sadar. Coba kamu lihat ke depan."


Aku mulai membalikkan wajah untuk menatap ke arah depan mobil, betapa terkejutnya mobil Pak Galih sudah berada di depan halaman rumah Kak Indah. Kedua pipi memerah, menahan malu, begitupun.


Dengan mulutku yang tiba tiba mengagah, melihat mobil ini sudah berhenti sejak tadi, berpikir dengan jerni, apa yang sudah aku lakukan dari tadi saat dalam perjalanan. Apa aku menatap Pak Galih? Hingga tak berkedip? Dan tak menyadari jika mobil sampai rumah?


Gila kamu Anna, sudah terpesona dengan ketampanan dan kebaikan lelaki yang sudah membantu kamu beberapa kali.


"Kenapa masih duduk?" Tanya Pak Galih membuyarkan lamunanku kembali.


"Oh, eh. I-ya! Lupa." Aku begitu gugup dibuat lelaki bernama Galih. Lelaki tampan berkumis tipis dengan setatusnya yang duda.


Pak Galih menggelengkan kepala melihat kegugupanku yang tiba tiba muncul tanpa di minta.


"Anak- anak ayo tur."


Aku menatap ke arah belakang mobil, anak anak ternyata sudah turun dari tadi. Mereka tertawa disaat aku masih berada di dalam mobil.


Ya Tuhan, ini sungguh memalukan.


"Anna, kamu sakit ya." Pak Galih memegang jidatku yang tak terasa sakit. Membuat aku seketika menghidar dari sentuhan tangannya yang hangat ini.


"Maaf pak, saya turun nih. Sampai bertemu besok di pengadilan."


ucapku pada Pak Galih. Yang terus menatap wajahku dari tadi.


Aku langsung turun dan menutup pintu mobil Pak Galih dan berkata," sampai jumpa Pak Galih."


Berlari hingga.


Bruggg ....

__ADS_1


__ADS_2