
Intan hanya bisa pasrah, mendengar kabar tak menyenangkan dari Justin, pagi hari sekali Intan harus ke kantor polisi untuk menjelaskan semuanya.
Mengenggam erat kedua tangan, gigi saling beradu menahan rasa kesal dengan berkata." kenapa kamu bisa sebodoh itu Justin, andai saja kamu tidak masuk ke dalam penjara. Mungkin aku tidak harus cape cape bangun pagi dan pergi ke kantor polisi."
Intan hanya bisa tidur dua jam saja, setelah mendengar kabar dari Justin, kedua mata merah dan bawah mata menghintam, membuat wajah tak enak di pandang.
Ia memegang kepala dengan kedua tangan, melihat wajah jelek pada cermin kaca, bergidig ngeri merasa hidup tak ada arti.
Ingin menghancurkan hidup orang, malah dirinya yang hancur, meremas rambut dengan kedua tangan. Intan kini bersiap siap mandi, membersihkan diri dari rasa ketidaknyamanan.
Setelah rapi, ia mulai berjalan menuju kantor polisi, dengan perasaan campur aduk antara takut dan merasa tak enak hati.
"Apa aku akan masuk ke dalam penjara? Tidak mungkin, aku pastikan tidak akan masuk ke dalam penjara. Tenang Intan, semua tidak akan terjadi apa apa. Bagaimana pun kamu harus tenang."
Intan berusaha menghibur dirinya sendiri, menghilangkan rasa takut, semua pasti akan baik baik saja. Setelah sampai di kantor polisi, ia melihat Justin duduk dengan kepala membungkuk. Terlihat wajah cupu Justin, membuat Intan mendelik kesal, bagaimana bisa seorang lelaki bisa kalah oleh satu wanita.
"Ada apa ya, pak?" tanya Intan berusaha bersikap tenang, mencoba menghilangkan rasa gugup. Agar polisi tidak mencurigai gerak geriknya.
"Saya hanya ingin memberi tahu kamu, bahwa adik kamu masuk ke dalam penjara. Karena menjadi tersangka pemerkosaan!" jawab polisi, mencoba menjelaskan sumuanya pada Intan.
Intan mengerutkan dahi, sejak kapan Justin mengatakan jika Intan adalah Kakaknya. Wanita manis bermata bulat merasa heran, padahal baru saja ia merasakan rasa gugup yang amat ia takuti, perasaan tak menentu memikirkan nasibnya kedepannya.
"Apa boleh saya bertemu dengan Justin, adik saya sendiri," pinta Intan pada polisi.
"Silahkan, batas penjengukan hanya setengah jam saja selebihnya anda harus kembali lagi besok," ucap polisi. Intan menganggukkan kepala setelah polisi memberinya waktu penjengukan.
Kini polisi membawa Intan pergi untuk menemui Justin, melihat lelaki muda itu berada dalam sel tahanan.
Justin tersenyum senang, melihat kedatangan Intan. Dengan bahagianya Justin, menyambut kedatangan Intan, ia memeluk wanita yang ia anggap sebagai kakaknya, memperlihatkan kedekatan, merasa tenang dan nyaman saat berada di dekat Intan.
__ADS_1
"Bodoh, kenapa kamu masuk ke dalam penjara. Aku sudah ingatkan kamu untuk berhati hati melawan Ainun," bisik Intan dalam pelukan Justin. Dengan nada kesal Justin membalas bisikan Intan." bagaimana bisa aku berhati hati, saat memperkosa dia. Ainun mengandalkan teriakanya, hingga orang orang di sekitar rumah datang menghampiri kami."
"Kabur bodoh, jangan kalah dengan wanita," ucap Intan.
"kenapa kamu tidak melaporkan aku, hah. Malah mengatakan kalau aku adalah kakakmu," ucap pelan Intan, kepada Justin. Terlihat raut wajah penuh kelicikan pada anak muda itu.
"Jika aku meleporkan kamu, siapa nanti yang akan menyelamatkanku dari dalam penjara ini," balas Justin dalam pelukan Intan, ia seakan membuat sebuah drama agar polisi percaya.
"Jangan bodoh kamu Justin, polisi itu lebih pintar dari pada kita," serga Intan, berusaha menasehati suruhannya.
"kalau mereka pintar kenapa masih percaya dengan kata kataku," ucap Justin, tak tahu saja jika belum di selidiki dengan benar. Ia pastinya bisa bersantai santai.
"Kita mulai drama kita, bagaimana," printah Justin, Intan tak yakin dengan semua yang direncanakan Justin, ia takut polisi membuat dirinya ikut masuk ke dalam penjara.
"Kalau aku tidak mau bagaimana?" tanya Intan, membuat Justin murka dan menekan tangan Intan sedikit keras.
"Ini pasti rasanya sakit kan?" tanya balik Justin, Intan terlihat meringis kesakitan, ia berusaha melepaskan tangan yang sengaja ditekan anak muda dihadapannya.
Seperti menjilat ludah sendiri, Intan terjebak lagi pada kesalahan dirinya sendiri. Hidupnya tak seberuntung dulu, saat ia selalu menjadi wanita baik dan tak pernah iri kepada orang lain. Tapi sekarang hidupnya menjadi menyedihkan, Intan seperti menyesali semuanya.
Namun ia tak bisa lari dari jeratan Justin, malah tergenggam erat, dan mungkin akan menjadi seorang wanita penurut.
"Kenapa kamu lakukan ini, bukanya urusan kita sudah selesai," ucap Intan. Berusaha lari dari jeratan Justin, lelaki yang ia temui saat dirinya tengah kesulitan.
"Sudah selesai bagaimana, urusan kita masih berlanjut di sini, siapa suruh kamu memerintahku membuat orang menderita. Yang akhirnya aku gagal dan masuk penjara," balas Justin masih tak terima dengan kegagalan dirinya sendiri.
"Bukannya aku membayar kamu untuk berhasil, jadi jangan libatkan aku dari ketidak berhasilan kamu saat ini, lepaskan tangan dan pelukan ini, " Intan berusaha memberontak, ia melawan dan pada akhirnya. Justin mengelak kembali, menekan Intan.
"Teruti drama ini, atau kamu akan kubuat menderita, " tekan Justin, Intan kini menjawab." Baiklah."
__ADS_1
Justin melepaskan pelukan Intan, ia berusaha bersikap layaknya seorang adik, sedangkan Intan merasa risih akan tingkah anak muda yang menjadi suruhannya.
"kakak, akhirnya kamu datang juga, " ucap Justin berlaga sok terasakiti.
Intan mengerutkan dahi dan menjawab," Iya adikku kenapa?"
Justin mendengus kesal," lakukan dengan baik, aku tidak mau terus menerus berada di dalam penjara ini."
Menelan ludah, Intan sepertinya salah sasaran untuk mengerjakan pekerjaanya yang membuat Ainun menderita. "Bodoh kamu Intan, benar benar terjebak dengan kejahatan kamu sendiri." Gerutu hati Intan.
"Ya, aku mengerti. Justin," ucap Intan merasa tak respek dengan lelaki muda dihadapannya.
"Untuk keinginan kamu aku sudah turuti, walau sekarang imbasnya aku ada di dalam penjara," balas Justin, tersenyum. Berharap kabar gembira yang ia sampaikan, tentu saja membuat Intan senang.
"Apa maksud kamu Justin?" tanya Intan merasa tak yakin akan ucapan lelaki dihadapannya.
Lelaki berusia dua puluh tiga tahun itu, tersenyum sinis." Aku sudah berhasil memeperkosa dia, jadi kamu tak usah kuatir.
Mendengar apa yang dikatakan Justin, tentulah membuat Intan ingin tertawa terbahak bahak, tapi karena melihat situasi di penjara banyak penjaga, Intan berusaha tenang dan bersikap santai.
"Waw, aku tak menyangka jika kamu ternyata hebat juga, tak sia sia aku menyuruh kamu. Justin," ucap Intan, padahal dia hampir menduga jika Justin gagal memperkosa Ainun.
Maka dari itu ia kesal, tapi setelah mendengar kabar yang keluar dari mulut Justin membuat ia sedikit bersemangat.
"Jadi, kamu harus bisa membuat aku keluar dari dalam penjara," pinta Justin.
Awalnya Intan malas sekali, jika harus mengeluarkan Justin, tapi karena pekerjaan ya yang bagus ia akan usahakan dengan semampu yang ia bisa.
"Baik, aku akan berusaha, " ucap Intan, melipatkan kedua tangan. Sedangkan Justin hanya bisa bersikap santai, dan merasakan semuanya begitu mudah.
__ADS_1
"Lihat saja Ainun, kamu akan menderita setelah ini, dan keluarga Galih akan hancur, aku berharap jika Ainun hamil anak Justin. Agar Galih merasa kasihan dan kini menikahi Ainun, dan Anna tentu saja menderita kembali, memang wanita bernama Anna itu pantas menderita, dia tak pantas bahagia. Aku tidak menyukai dia karena kebaikannya yang terlalu di tebarkan. Apa aku iri, entahlah aku tak mengerti?" Gumam hati Intan.