
Hati terasa teriris, melihat kenyataan jika Bu Suci meninggal dunia, dokter mulai melepaskan semua alat yang terpasang pada Bu suci.
Nita perlahan mendekat menatap raut wajah wanita tua yang sudah memberi tahu alamat Lulu," tante, terima kasih. "
Kain putih mulai menutupi wajah Bu Suci, para suster mulai memindahkan mayat Bu suci, ke ruang pemandian, dimana Nita yang akan mengurus pemakaman sang tante hingga selesai.
Keluar dari ruangan, memperlihatkan wajah sedih di hadapan Bu Nira dan Saiful, membuat keduanya kini bertanya," apa yang terjadi."
Mayat Bu suci baru dikeluarkan, terlihat Bu Nira terkejut.
"Bu Suci meninggal dunia. "
Mulut mengagah masih tak percaya dengan apa yang di dengar Nita," kenapa, bukanya tadi."
Nita langsung menangis histeris, ia tak sanggup menceritakan kematian Bu suci.
Bu Nira menenangkan Nita, hingga pelukan hangat ia layangkan.
"Kamu harus tenang."
"Iya bu."
Jenazah yang sudah dimandikan mulai dibawa pulang oleh Nita ke kampung halamannya, iya berencana untuk mensalatkan jenazah tantenya untuk segera dimakamkan.
Nira berusaha menenangkan calon menantunya itu, duduk di sebelahnya merangkul bahu Nita.
Polisi ikut bertanggung jawab atas tahanan yang akan dikuburkan.
para ibu-ibu yang melihat ambulans datang sangatlah terkejut, apalagi melihat mobil Saiful.
"Ada apa ya, tumbennya ke daerah kita ada ambulans. Siapa yang sakit?" tanya Bu Ratna kepada ibu-ibu yang di mana mereka terkejut saat melihat mayat yang sudah terbungkus kain kafan diturunkan dari mobil ambulans.
"Itu bukan orang sakit! Tapi itu orang mati, " balas Bu Sarah.
Mereka penasaran dengan mayat yang diturunkan oleh ambulans, mencoba mendekat pada Nita yang baru saja turun dari mobil.
Bu Nira dengan Sigap menahan para ibu-ibu yang akan bertanya siapa yang sudah mereka bawa, Bu Nira melakukan semua itu, takut jika keadaan Nita malah semakin memburuk.
__ADS_1
"Ibu ibu minggir dulu sebentar ya."
Bu Nira mulai membawa wanita masuk ke dalam rumah, menyuruh calon menantunya untuk beristirahat menenangkan diri dari kematian sang tante.
Bu Ratna dan Bu Sarah terlihat menggerutu kesal karena Bu Nira mencegah mereka untuk bertanya kepada Nita. Padahal mereka ingin tahu sekali Siapa yang sudah meninggal dunia.
"Tuh Saiful." Bu Ratna menuju ke arah lelaki yang baru saja turun dari dalam mobil.
Mereka menghampiri Saiful untuk segera bertanya, kepadanya. Memukul bahu lelaki berprofesi sebagai guru itu.
"Eh Saiful, kami mau tanya, mayat siapa yang kalian bawa?" tanya Bu Sarah, berharap mendapatkan jawaban dari Saiful.
"Mayat itu Bu suci!" jawab Saiful, menundukkan wajah, dia segera memberitahu para bapak-bapak untuk menyalatkan jenazah Bu suci.
" innalillahiwainnailaihirojiun, Kenapa bisa bukannya Bu suci itu ada di dalam penjara?" pertanyaan ibu-ibu membuat Saiful tidak menjawab, lelaki itu kini pergi meninggalkan para ibu-ibu yang penuh dengan pertanyaan.
"Saiful, malah pergi."
Saiful kini menjawab teriakan ibu-ibu," Maaf ibu-ibu saya mau cari bapak-bapak, untuk menyalatkan jenazah Bu suci."
Mendengar perkataan Saiful ibu-ibu kini turut membantu, mereka juga mencari para bapak-bapak untuk segera menyalatkan almarhum Bu suci.
Selesai, kini jenazah Bu Suci mulai dikuburkan. Perasaan sedih dan menyesal membuat Nita berusaha tetap tenang, andai saja Iya tidak menyuruh sang tante untuk mencari tahu alamat keberadaan orang tua angkat Lulu, kemungkinan semua ini tidak akan terjadi padamu Bu suci.
Namun semua sudah terlambat, Bu Suci pergi untuk selamanya.
**********
Tiba dimana polisi datang, memberitahu akan kematian tahanan kepada para polisi lainnya, dimana Ita terkejut mendengar hal itu.
Ia merasa tak percaya akan kematian Bu Suci, membuat hidupnya tak punya teman lagi.
Marimar tersenyum ia menatap ke arah Bu Ita," kamu dengar itu. Sahabatmu mati, dan jika kamu mengatakan alamat itu kamu."
Marimar mempelihatkan tangan menggurat lehernya dihadapan Bu Ita, membuat wanita tua itu ketakutan seraya menelan ludah.
Marimar pergi dengan kebahagiaannya, entah kenapa iya begitu kejam tidak mau memberitahu keberadaan Lulu yang sebenarnya.
__ADS_1
Napas terlihat seakan tak setabil setelah mendapatkan ancaman.
Bu Ita hanya duduk merenung sendiri, berusaha tetap tenang, terbayang akan wajah sahabatnya yang sudah ia anggap sebagai saudara, kini telah pergi meninggalkannya selamanya.
kedua mata berkaca-kaca perlahan perlahan demi perlahan butiran air mata itu jatuh mengenai pipi, Bu Ita tak bisa menahan kesedihan yang mendera melukiskan wajah Bu suci dalam bayangannya.
"Bu Suci, kenapa kamu begitu cepat pergi. "
Terlihat Marimar tak memperdulikan Bu Ita yang menangis sendirian, ia mulai menyusun rencana untuk bisa keluar dari dalam penjara.
Di tengah kesedihan yang melanda Bu Ita, Nita datang menghampiri Bu Ita, Ia ingin melihat keadaan wanita tua itu, takut jika sesuatu terjadi pada Bu Ita.
Sama seperti halnya Bu suci yang kini mati karena ulah Marimar.
Saat penjengukan dilakukan, Nita melihat Bu Ita tengah sendirian, karena berulang kali polisi memanggil Bu Ita wanita tua itu tetap saja diam seperti memikirkan hal yang sangat menakutkan.
"Bu Ita."
Pada akhirnya polisi menyuruh Nita untuk melihat keadaan Bu Ita secara langsung.
Karena berulang kali, polisi memanggil Bu Ita, wanita tua itu seperti tak peduli, terlihat seperti depresi.
"Bu Ita."
panggilan kini dilayangkan oleh Nita kepada Bu Ita, dimana wanita tua itu mengenal suara keponakan Bu suci.
"Nita, kamu ke sini."
Setelah selesai pemakaman. Memang Nita dari awal sudah berniat ingin menemui ibu Ita takut jika terjadi apa-apa dengan wanita tua itu, terlihat Bu Ita seperti orang ketakutan ia mencoba menggenggam erat jeruji besi menitihkan air mata melihat jika dirinya sedang terancam.
Nita mencoba menggenggam punggung tangan Bu Ita," Bu Ita keluar ya Kita ngobrol di ruang penjengukan."
Bu Ita menyetujui perkataan Nita, wanita tua itu kini keluar sembari digandeng oleh Nita. Marimar melihat pemandangan itu sangatlah benci dan kesal. Ia takut jika pada akhirnya Nita mendesak Bu Ita untuk berkata jujur.
"Sialan Kenapa juga si Nita itu datang kemari, gawat ini kalau Bu Ita memberitahu alamat keberadaan Lulu sekarang, nyesel aku tidak membuat dia masuk ke dalam rumah sakit dan meninggal dunia seperti Bu suci," guru tuh Marimar, menatap kepergian Bu Ita dan juga Nita.
Wanita yang selalu disapa sebagai nyonya, lini mengacak rambutnya," apa yang harus aku lakukan."
__ADS_1
******
"Bu Ita, ini Nita bawakan makanan untuk Bu Ita agar ibu tetap tenang, Nita sudah tahu semuanya. Jadi bu Ita jangan takut ya."