Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 49 Aneh


__ADS_3

Aku dan Pak Galih sudah sampai di rumah sakit.


"Ayo An." Pak Galih begitu perhatian dengan sigap, ia membawa kursi roda untukku.


Padahal baru saja kaki ini mulai menyentuh tanah, Pak Galih secara sepontan membopong tubuhku lagi pada kursi roda.


"Terima kasih, pak."


Lelaki itu tersenyum kecil, setelah aku mengatakan kata terima kasih.


"Mm, mmm. Mmmm ...."


Setelah meletakan aku di kursi roda, Mas Raka sudah ada di depan mata begitu saja. Entah kenapa bisa kebetulan sekali.


Pantas saja, dari rumah aku malas sekali datang ke rumah sakit, ternyata akan bertemu dengan mantan suamiku Mas Raka.


"Mas, kamu lihat si Anna. Baru saja kemarin cerai denganmu, dia sudah bermesraan dengan lelaki lain, pake acara dibopong segala. Embarrassing."


Ajeng seperti sengaja meledekku di depan Mas Raka, agar lelaki itu menghinaku lagi.


Aku berusaha tak menanggapi perkataan Ajeng." Pak, ayo kita masuk. Takut antrian rumah sakit sudah habis."


Menyuruh Pak Galih untuk medorong kursi roda dan pergi dari manusia mansuia tak berguna seperti Ajeng.


"Tunggu."


Teriakan Mas Raka tak aku pedulikan, aku dan Pak Galih masuk ke rumah sakit.


Kedua manusai itu ternyata malah mengikutiku, membuat aku semakin kesal.


Mereka berjalan bergandengan tangan, begitu mesra membuat aku jijik.


Melewati tubuhku." Anna, aku kira kamu berubah tapi tetap saja."


Aku menyuruh Pak Galih berhenti dan bertanya," Apa maksud kalian?"


Ajeng mulai menghentikan langkah kakinya, dan menjawab," tidak bermaksud apa apa, hanya mengatakan kebenaran."


Kenapa wanita bernama Ajeng itu selalu membuat aku kesal, dan kenapa aku selalu di pertemukan dia.


"Ayo pak, kita jalan lagi. Malas rasanya aku berdebat wanita tidak tahu diri itu."


Ajeng tertawa di saat aku mengatakan hal seperti itu," hey. Kamu kali yang tak tahu diri, baru cerai. Datang ke rumah sakit sama lelaki. Jangan jangan kamu hamil ya."


Aku membulatkan kedua mataku," jaga ucapanmu Ajeng, siapa yang hami?"


"Ngeles, ngaku aja."

__ADS_1


Pak Galih mulai membisikan perkataan kepadaku," sudahlah, kamu tak usah meladeni dia lagi, Anna."


"Iya benar pak, sebaiknya kita pergi dari hadapan mereka."


Pak Galih mendorong kursi rodaku, hingga di mana Ajeng menahan dan berkata,"I will continue to make you suffer."


Tatapan matanya itu tak biasa, membuat aku mendorong tubuhnya." Sudahlah tak perlu pake acara sok ke inggrisan lagi. Urusan kita sudah selesai, jadi kamu tak usah lagi ikut campur kebahagianku."


Mas Raka merangkul Ajeng, membawa wanita itu pergi.


"Ada ya wanita seperti Ajeng?" tanya Pak Galih kepadaku.


"Ya, saya juga heran dengan dia!" jawabku. Sampai sekarang mereka masih mengusik hidupku.


Setelah sampai.


Dokter menyuruhku untuk berbaring, dimana ia memeriksaku.


Setelah selesai, Pak Galih bertanya dengan rasa penasaran.


"Bagaimana dok?"


"Sejauh ini tidak ada penyakit, apapun di tubuh pasien!"


Perkataan dokter membuat aku heran." Dok, aku sering mendadak sakit kepala, setiap mengingat sesuatu."


"Mm, baik dok."


Mengira jika hanya Sakit biasa, tapi nyatanya harus melewati beberapa hal yang aku tak mengerti. Saat dokter menjelaskan semuanya


Pak Galih terus menguatkanku agar menuruti apa perkataan dokter, aku tak mengerti setelah bercerainya dengan Mas Raka, begitu banyak masalah yang aku hadapi saat ini, aku mengira hidup ini akan bahagia setelah terlepasnya hidupku bersama Mas Raka.


Tapi kenyataannya itu tak seindah yang aku pikirkan, hidup masih penuh rintangan perjalanan dan juga ujian.


Aku ingin berjalan mengikuti arahan dokter di mana pertama kali darahku diambil untuk sekedar sampel, setelah itu aku harus menunggu beberapa jam untuk masuk ke ruangan, yang entah aku tak tahu ruangan apa itu, begitu terasa dingin walau tidak ada AC sedikitpun. Saat itulah setelah aku menunggu salah satu perawat datang, di mana dokter mulai memeriksa kepalaku dengan melakukan Ct scan dimana aku dimasukan pada mesin bulat yang terlihat menyala.


Mesin apa itu?


"Pak, aku tak mau dimasukan ke mesin itu?" ucapku ketakutan.


Pak Galih mengusap bahuku dan menenangkan setiap rasa takutku." Sudah tak usah takut, alat itu hanya ingin mendeteksi kepala kamu Anna, jadi kamu turutin apa yang dokter katakan. Oke."


"Tapi."


"Ayo, bu."


Dokter menyuruhku untuk berbaring sejenak, jangan sampai aku bergerak," ibu tenang dulu ya."

__ADS_1


Bagaimana aku bisa tenang, baru pertama kali aku ke rumah sakit, tentulah membuatku gemetar.


Aku hanya menuruti perkataan dokter, untuk tetap tenang. Hingga dimana mesin itu menyala dan bergerak maju, ada cahaya terang mempotoku saat itu.


Beberapa kalo ceklekan, membuat aku hanya bisa diam dan menurut.


"Sudah selesai."


Hah, aku kira aku bakal mati di mesin itu, nyatanya aku tidak kenapa kenapa? Betapa katronya.


"Gimana, enggak kenapa kenapa kan?"


Pak Galih bertanya kepadaku. Membuat aku mengerutkan bibir dan mengelengkan kepala, lelaki berkumis tipis itu mengusap pelan rambutku.


"Anna, kamu ini lucu."


Sudah beberapa kali Pak Galih, mengatakan bahwa aku ini lucu, membuat aku selalu menjadi wanita salah tingkah.


"Sudahlah pak, saya ini bukan boneka yang selalu terlihat lucu, saya ini emak emak anak 3."


Pak Galih tertawa, setelah mendengar ucapan yang aku katakan.


Kami mulai menemui dokter lagi, dimana sang dokter mengatakan." Ada masalah pada otak Bu Anna."


"Masalah apa?"


Dokter terdiam sejenak, ia seperti takut mengatakan hal yang tak terduga kepadaku.


"Kenapa, dok."


Pak Galih yang melihat dokter terlihat bingung, hingga dimana dokter menyerahkan sebuah tulisan pada kertas yang tak aku mengerti tulisannya.


SedangKan Pak Galih begitu terlihat paham sekali.


Kami segera keluar dari ruangan, setelah pemeriksaan. Dimana aku belum mengerti dan tak paham dengan penjelasan dokter, karna kepalaku yang selalu tiba tiba sakit. Membuat kefokusanku berkurang.


kami berjalan beriringan hingga aku bertanya pada pak Galih." Sebenarnya ada apa Pak? kok dokter itu enggak menjelasakan dengan detail, seharusnya ia mengatakan semuanya pada saya, bukan menyodorkan tulisan yang tak aku mengerti. "


Pak Galih tak menjawab perkataanku, ia malah berjalan fokus hingga aku bertanya kembali." Pal Galih, anda dengar saya tidak?"


Lelaki itu tetap saja diam, hingga aku memukul bahunya." iya Anna, ada apa?"


"Kenapa saat aku bertanya, bapak malah diam. Padahal dari tadi bibirku kumat kamit menanyakan tentang isi dari lembar kertas yang diberikan dokter!" Jawabku pada Pak Galih.


"Sebaiknya kita pulang dulu ya, biar nanti saya jelasakan di rumah bersama kakak kamu."


Ucapan pak Galih, membuat aku mengertukan dahi. Dan berkata dalam hati," Ini Aneh."

__ADS_1


__ADS_2