
***Hai hai, masih di pov Raka. Terpesona. ****
Padahal dia lebih dewasa dariku, tapi pikiranya seperti anak kecil. Aku benar benar kesal dibuatnya. Menyalakan mesin mobil, tak peduli jika Ajeng menangis karna kesalah pahamanku saat berdebat dengan Anna.
Yang aku pikirkan sekarang adalah ibu, mudah mudahan Anna hanya mengetrak kusaja tanpa menyakiti ibu, setelah sampai di rumah nanti.
Masih dengan Ajeng dia tetap saja diam, sesekali mengusap air matanya yang terus keluar.
Mulut ini tak bertanya, aku berusaha mendiamkan dia saja. Jika bertanya di posisi sekarang. Lelaki akan tetap salah.
Perjalanan yang lumayan menempuh waktu dan tenanga, aku kini sudah sampai di rumah ibu. Terlihat 2 Yunit mobil terpapang di depan rumah ibuku.
Mobil siapa?
Apa Anna benar benar mempunyai mobil, mewah ini?
Aku mulai turun, untuk segera mengajak Ajeng yang masih terlihat cemberut. "Ajeng sayang, ayolah jangan cemberut seperti itu lagi. Aku minta maaf. "
Ajeng menatap wajahku dengan bibirnya yang sengaja di lebarkan.
Aku berusaha menggodanya agar dia tak marah lagi, memberi kecupan manja. Yang sebenarnya membuat aku jijik. Kalau di lihat Ajeng dan Anna itu lebih cantik Anna.
Setelah sampai di rumah, aku mulai mengetuk pintu, beberapa kali tapi tak ada yang membuka pintu.
"Anna, kamu jangan bercanda. "
Pintu rumah terbuka, Anna sudah berdiri dengan melipatkan kedua tangan. Menatap kearah wajahku. Ibu duduk sembari menundukkan pandangan.
"Akhirnya Mas Raka pulang juga. "
Anna bersikap manis di depanku dengan sedikit meledek. "Hentikan tingkah konyolmu ini, Anna."
Ajeng masih di belakangku, ia kini menghadapi wajah Anna. "Heh, jangan sok kecentilan ya kamu, " ucap Ajeng. Wajahnya terlihat memerah dengan kedua mata menatap tajam kearah Anna, terlihat ia begitu kesal pada mantan istriku ini
"Apa kamu bilang, kecentilan? I'm sorry, I don't like serving lowly class like you. "
Balasan yang terlontar dari mulut Anna begitu membuat aku terpaku, wanita amnesia yang hanya aku tahu lulusan sederajat itu. Bisa menguasai bahasa inggris. Apalagi dengan penampilan Anna begitu berbeda, ia terlihat seperti wanita berkelas, wajahnya terlihat berseri, cantik dan enak dipandang.
__ADS_1
Aku menyesal telah menduakan dia karna rasa takutku, apa Anna bisa menerimaku lagi.
"Mas."
"Mas."
Ajeng membuyarkan lamunanku saat kedua mata ini begitu detail melihat Anna dari ujung kaki, hingga ujung rambut. "Anna, seperti bidadari turun dari langit. "
Ajeng kini merangkul tanganku dengan manjanya ia berkata, " Mas, kenapa kamu enggak belain aku. "
Aku tak mengerti dengan Ajeng, dia berubah menjadi semakin manja. Padahal setiap kali berhadapan dengan Anna selalu pintar membela diri.
Anna melipatkan kedua tangan, dengan perpaduan lipstik berwarna merah muda. Membuat bibir tipisnya mempesona.
Body teposnya kini benar benar berubah, membuat aku menenguk air liur sesekali. "Anna. kamu begitu cantik. "
Ajeng memukul bahuku dan berkata. " Tadi kamu ngomonh apa? "
Karna terpana akan kecantikan Anna, aku sampai lupa dengan ibuku. Anna malah tertawa, lesung pipinya terlihat seklai.
"Anna, kenapa kamu malah datang ke sini, membuat ibuku ketakutan. "
"Mas, sudahlah jangan banyak drama. Aku tahu kamu ini menyebuyikan sesuatu dariku. Kamu itu penipu. "
Setelah mendengar penjelasan Anna tentu saja aku sangat marah, aku mulai melayangkan sebuah tamparan pada mantan istriku. Hingga dimana salah satu tangan menceegahku. "
"Jangan sekali kali menyakiti seorang wanita dengan tangan kotormu. "
Siapa lelaki ini? Kenapa dia ikut campur akan urusanku. Bukanya lelaki yang sekalu bersama Anna itu Pak Galih. Tapi sekarang begitu berbeda.
Aku menghepaskan tanganku agar terlepas dari lelaki itu.
"Siapa lelaki ini? "
Aku menunjuk wajah lelaki yang berani menahan tanganku, dan berkata. " oh aku tahu, pastinya lelaki ini selingkuhan kamu kan? "
Pertanyaan dan ucapanku, malah membuat Anna menampar pipiku dengan sangat keras."selingkuhan, kamu benar benar lucu ya Mas. Aku ini sudah janda dan jika aku berkenalan dengan lelaki lain itu tidak masalah bukan, kenapa kamu mengatakan selingkuhan. Bodoh. "
__ADS_1
Apa yang dikatakan Anna memang benar, kenapa aku mengatakan seperti itu. Rasanya aku benar- benar di buat malu. Karna terpana akan pesonanya yang sekarang wajah ini seperti orang bodoh.
Tawa megelegar dari kedua lelaki itu, aku melihat wajah sama percis dengan lelaki yang pernah aku tabrak. " Daniel. " Gumamku dalam hati.
Lelaki itu mendekat memegang kerah bajuku dan berkata. "Hey. Kamu sudah membuat kakaku mati bukan, sekarang kamu yang akan kubuat mati. Cepat katakan dimana Kak Daniel kamu sembunyikan mayatnya. "
Apa dia adik lelaki yang aku tabrak itu?
"Heh, kenapa kamu diam saja? "
"Siapa kamu? "
Aku bertanya dengan rasa penasaran kepada lelaki berwajah percis seperti Daniel.
"kamu belum tahu siapa aku, kenalkan namaku Deni adik Daniel. "
Jadi dia anak Daniel, aku menatap lekat ke arah wajahnya. "Kenapa kamu diam saja? "
Anna menghampiriku, ia semakin dekat. " Sekarang kamu jujur pada kami semua mas. Dimana mayat Daniel, aku sudah tahu semuanya, rencana busuk kamu. Kamu dalang dari semua ini. "
Anna sudah mencari tahu tentang diriku, dan ia kini tahu siapa Daniel. Apa yang harus aku lakukan. Melarikan diri? Atau membohongi semua orang? Itu mana mungkin. Sekarang aku berada di situasi sulit.
Ajeng malah diam mengeluarkan suara sedikit pun, " Ayo katakan mas. Aku ingin tahu penjelasanmu. "
"Sudah tak usah memfitnah Anna, Raka itu tidak tahu menahu tentang Daniel. Dan apa untungnya dia menyembunyikan mayat. Sungguh bodoh dan tak masuk akal. "
Ajeng akhirnya membelaku, ia seperti merekam sesuatu pada ponselnya, apa dia membuat sebuah bukti rekayasa. Tapi jika itu tujuanya, aku merasa senang berarti Ajeng mempunyai cara menyelamatkanku.
Anna tiba tiba mendekat ke arah Ajeng, menarik tangan Ajeng hingga dimana ponsel Ajeng terjatuh ke atas lantai, tentu saja membuat sala satu dari lelaki itu mengambil ponsel Ajeng.
"Wah, ternyata kamu mau membuat sebuah tudingan? " Lelaki berbadan kekar yang aku tak tahu siapa dia, seketika menghapus rekaman itu. Menghancurkan ponsel Ajeng.
Kedua mata Ajeng membulat setelah tahu ponselnya hancur lembur karna di banting.
"Kalian. Kurang ajar. Aku akan melaporkan semua ini pada polisi, kalian tahu itu kalian akan menyesal. "
Teriakan Ajeng membuat Anna tertawa. .
__ADS_1
"Polisi itu ayah kamu bukan. Aku sudah tahu semua itu Ajeng. Jadi kamu tak usah cape cape, sebelum kamu melaporkan semua pada ayah kamu. Kamu akan tahu bagaimana nasib ayahmu setelah ini. "
Anna berkata sedemiakian seperti sebuah ancaman, ini benar benar membuat aku terdiam pilu. Bagaimana biasa Anna berubah menjadi lebih hebat.