Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 211 Ainun dalam bahaya


__ADS_3

Ainun masih dalam kesendiriannya di dalam ruang setelah Intan pergi begitu saja, " Intan dia, benar benar kurang ajar." Gumam hati Ainun. Meresakan rasa sakit pada dadanya.


Ia ingin menjerit memanggil nama anaknya, tapi tak bisa, sampai dimana Farhan datang membawa dokter.


"Ibu, ibu kenapa?" Tanya Farhan, Ainun tak sanggup lagi menahan rasa sakit pada dadanya ia kini jatuh pingsan.


Farhan melihat darah bercucuran dari punggung tangan sang ibunda, jarum infusan sudah tak beraturan seakan sengaja dicabut.


"Ibu, kenapa? Apa ada orang yang masuk ke sini?"


Sang ibu tak merespon ucapan Farhan. Ainun sudah tak berdaya, ia terkapar lemas.


Dokter melihat Ainun membutuhkan pertolongan darurat, mulai menyuruh Farhan keluar dari ruangan, untuk segera memeriksa Pasien Ainun. Perawat datang memenuhi panggilan dokter, mereka dengan sigap siaga menganti infusan.


"Cepat pasangkan infusan baru." Terlihat kepanikan pada ruangan Ainun, membuat Farhan hanya bisa melihat pada kaca luar ruangan, melihat sang ibunda terbaring lemah di atas ranjang tak sadarkan diri, membuat Farhan menangis.


"Apa yang sebenarnya terjadi." Gurutu Farhan, tak bisa mengontrol diri, ia bulak balik ke sana ke mari, hingga melihat perawat keluar dari ruangan membawa sebuah infusan yang dicurigai Farhan mengandung racun.


"Tunggu."


Para perawat berhenti sejenak, karena Farhan memberhentikkannya.


"Ada apa?"


"Apa boleh saya mengambil kantung infusan bekas ibu saya!"


Para perawat saling menatap satu sama lain, mereka melihat bekas infusan, dan menatap ke arah Farhan yang memohon meminta kantong bekas infusan.


"Untuk apa?"


"Saya butuh kantong ini, karena ada sesuatu yang saya curigai, bagaimana. Apa kalian memberikannya padaku, kalian tenang saja, aku tidak akan memberi tahu siapapun kalau aku mengambil kantong infusan bekas ibukku! "


Karena merasa kasihan, pada akhirnya mereka memberikan kantong infusan bekas Ainun pada anaknya. Mereka mengambil kantong keresek, untuk megantongi bekas infusan.


"Terima kasih, sebagai imbalannya ini."


Farhan memberikan beberapa lembar uang merah pada para perawat. Awalnya mereka menolak, tapi Farhan dengan bersi keras memberikan pada mereka.


"Terima saja untuk kalian."


Karena paksaan Farhan, akhirnya mereka menerima dengan senang hati. Dengan terburu buru pergi, Farhan tak ingin menghilangkan barang bukti untuk menangani kasus ibunya yang tiba tiba mendadak kejang kejang.

__ADS_1


"Dengan ini aku akan menguak siapa pelakunya. Aku curiga jika suster itu datang lagi menemui ibu. Siapa ya dia? Apa dia pelayan di rumah ibu, Kak Intan."


Farhan sudah menebak dalangnya, tapi ia tak mau terburu buru, asal menebak sebelum menemukan bukti yang akurat.


Anak muda berumur sebilan belas tahun itu, kini menelepon sang papah, memberitahu kabar Ibunya.


Panggilan tak di angkat juga, Farhan mulai mengirim pesan pada Galih.


(Pah, Ibu Ainun tiba tiba drop.)


********


Galih ternyata tengah mengantar sang istri untuk mengecek usia kandunganya.


"Papah nggak sabar lihat bayi kita, pokonya mau cewek atau cowok yang penting sehat, " ucap Galih memperlihatkan kebahagianya. Senyum terlukis dari ujung bibir Ainun.


"Iya, tapi kamu harus ingat. Kita masih punya dua anak yang memelukkan kasih sayang. Lulu dan Radit, aku takut mereka mempunyai sipat iri, karena aku mengandung anak kamu, mas, " balas Anna, terlihat bersedih saat menceritakan kedua anak anaknya yang jarang ia peluk.


Galih mengusap pelan kepala rambut sang istri dengan perlahan dan berkata," kamu tenang saja, mereka pasti akan mengerti, aku sebisa mungkin akal adil pada Lulu dan Radit, mereka berdua sama anak anakku juga Anna."


Mendengar hal itu tentu saja membuat Anna bernapas lega, walau masih ada percikan kesedihan, karena ia merasakan jika Radit dan Lulu sekarang seakan menjauh.


Ditengah obrolan mereka berdua, ponsel Galih berdering, ia membiarkan panggilan telepon dari anaknya.


"Sudah nanti saja, sekarang mas mau fokus ngantar kamu, melihat bayi kita," balas Galih, mengabaikan panggilan telepon dan pesan dari anaknya.


"Tapi .... "


Belum jawaban Anna terlontar semuanya, Galih kini memotong pembicaraan sang istri.


"Sudah, tak apa. Nanti kalau sudah selesai kamu di usg baru aku lihat siapa yang menelepon."


"Ya sudah kalau begitu."


Dokter yang akan memeriksa kandungan Anna, kini memanggil Galih untuk segera masuk ke dalam ruangan dokter.


Galih dengan begitu semangatnya mengajak sang istri masuk ke dalam ruangan untuk segera di USG.


"Ayo sayang, aku bantu kamu jalan, atau kamu mau aku gendong." Canda sang suami, membuat Anna tertawa.


"Malu mas, kamu ini, " ucap Anna memperlihatkan kedua pipinya memerah karena candaan sang suami, dimana mereka mulai berjalan masuk ke dalam ruangan.

__ADS_1


Dokter tersenyum ramah dan mempersilahkan Anna berbaring pada ranjang untuk pemeriksaan Usg.


Ditengah kebahagian Galih dan Anna.


Mereka tak tahu jika Farhan kini sedang panik, karena Ainun.


********


Farhan tanpak syok berat, ia mulai mencari tahu, selagi sang ibu ditangani dokter.


Ia berjalan meminta pada pihak rumah sakit, melihat rekaman cctv.


"Aku harus mencari tahu, walau sekarang keadaan ibu drop." Ucap Farhan, berjalan sembari menenteng keresek berisi kantong infusan bekas ibunya.


Farhan berharap, para penjaga cctv mau menunjukkan rekaman saat ia tengah mencari seorang dokter.


Memberanikan diri, Farhan mulai bertanya.


"Pak, saya ingin melihat rekaman cctv pada ruangan nomor empat sembilan, apa bisa?"


Untung saja penjaga cctv di rumah sakit, begitu baik, memperbolehkan Farhan untuk melihat kejadian barusan.


Farhan dengan jeli melihat rekaman cctv, dimana saat dirinya pergi. Ada sosok wanita memakai pakaian suster menyuntikkan obat pada infusan sang ibu.


"Benar dugaanku. Siapa dia?"


Tak jelas melihat orang yang sengaja menyuntikan obat pada infusan sang ibu, membuat Farhan meminta pada para penjaga memperbesar gambar.


Saat rekaman itu diperbesar dan menunjukkan wajah sang suster, Farhan tentu saja terkejut.


"Jadi itu Kak Intan, dia berpura pura menjadi suster untuk mencelakai ibu. Sialan, jahat sekali dia."


Farhan mengenggam erat keresek hitam yang ia bawa, " ini semua tidak bisa dibiarkan."


Farhan tampak murka dan kesal pada Intan, ia mulai meminta rekaman cctv dari penjaga.


"Apa boleh saya meminta rekaman cctv ini?"


Para penjaga mengiyakan, pada akhirnya. Farhan mendapatkan rekaman Intan yang berbuat jahat pada ibunya.


Keluar dari ruangan cctv, Farhan mulai menghubungi papahnya kembali. Tetap saja tak di angkat. Ia kini mengirim rekaman cctv dan juga pesan lagi pada sang papah.

__ADS_1


(Pah, kak Intan pembantu yang papah pecat berulah, papah lihat pada rekaman cctv yang Farhan kirim. Papah jawab panggilan Farhan, ibu Ainun kondisinya kini kritis.)


Beberapa kali Farhan mengirim pesan tetap tak di respon sama sekali. " Papah nggak jawab lagi."


__ADS_2