Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 219 Di perkampungan sang sahabat


__ADS_3

Sudah setengah jam Intan menunggu di pos ronda, dia belum melihat kedatangan sahabatnya, bernama Nita.


Perasaan sudah tak karuan, rasa tak nyaman berdiam diri di pos ronda membuat ia harus menahan gigitan nyamuk yang setiap saat datang menyentuh kulitnya.


"Mana sih si Nita ini, sudah digigit nyamuk juga. Masa tega sama sahabat sendiri." Gerutu Intan duduk di pos ronda. Sembari menjaga Lulu, terlihat wajah polos anak itu, membuat Intan merasa tak tega.


Tangan Intan, mulai mengusap pelan kepala Lulu, dia merasa tak tega. " Kok, aku kasihan sama kamu ya Lulu. "


Intan berusaha dengan keras menepis, rasa kasihan itu. Karena membayangkan raut wajah Anna dan Ainun yang sudah membuat Galih jatuh hati pada dua wanita itu.


"Ngapain coba aku harus kasihan pada anak ini, udah jelas ibunya merebut Galih dariku. "


Intan mencubit pipi Lulu, dengan kekesalan yang ada pada dirinya. Karena mengigat Anna.


Mencoba menelepon Nita, Intan semakin cemas. Karena jam sudah menunjukkan sepuluh malah.


"Si Nita ini, gimana sih. "


Lima menit berlalu, akhirnya Intan mendapatkan panggilan telepon dari sahabatnya, ia senang dan terburu-buru mengangkat panggilan telepon dari Nita.


"Halo, Intan kamu ada di mana?" tanya Nita, terlihat kuatir akan keadaan Intan.


"Ya elah kamu ini gimana sih, aku dari tadi teleponin kamu. Tak diangkat juga, aku ada di pos ronda. Cepat sini, banyak nyamuk nih!" jawab Intan, mengerutu kesal pada sahabatnya.


"Ya maaf, aku tadi ketiduran. Jadi tidak sempat melihat ponsel," ucap Nita, merasa menyesal karena telah lupa akan janjinya.


"Cepat kamu datang ke sini, aku sudah tak tahan nih. Banyak nyamuk," balas Intan. Dengan menepuk-nepuk tangan dan juga kaki yang terkena gigitan nyamuk.


"Baiklah."


Nita bergegas pergi menyusul Intan, dengan terburu buru menyalakan mesin motor.


Hanya butuh jarak waktu lima menit saja untuk bisa sampai di tempat tujuan, di mana Intan berada.

__ADS_1


Nita kini sampai di pos ronda yang dimaksud oleh Intan, ia melihat sahabatnya tengah berbicara sendirin. Sembari mengeluarkan suara klakson motor, akhirnya Intan melirik ke arah motor Nita.


" Akhirnya kamu datang juga," ucap Intan begitu senang melihat kedatangan sahabatnya yang sudah ia tunggu dari tadi.


"Ya sudah, ayo cepat naik, " balas Nita. Menyuruh Intan untuk segera naik pada motornya, karena Jam sudah menunjukkan pukul 11.00 malam.


Namun Intan malah bergegas pergi untuk mengambil sesuatu, Nita yang melihat Intan membawa seorang anak tentulah terkejut.


"Kamu sudah punya anak, Intan?" tanya Nita, melihat Intan menggendong seorang anak.


"Sebaiknya kita pergi sekarang, biar nanti aku ceritakan saja di rumahmu! " jawab Intan, menaikin motor.


Nita mulai menyalahkan mesin motornya, untuk segera melaju pergi ke rumah. Intan bernapas lega setelah sahabatnya datang, ia merasa tenang karena sudah diberi tempat tinggal oleh sang sahabat.


Karena jika ia pulang ke kampung halamannya sendiri, pastinya Galih akan menemukannya saat itu juga. Intan tidak bisa kabur dan ia akan masuk ke dalam penjara.


Untungnya ia bisa mempunyai sahabat yang berbeda jauh perkampungannya, sampai di mana Intan bisa menyelamatkan dirinya sendiri.


Lulu merasa tak sanggup lagi, ia tak bisa menahan rasa dingin pada sekujur tubuhnya. Dimana Nita mendengar rengekan Lulu, membuat ia langsung menghentikan motornya. Nita membalikkan badan melihat anak kecil itu kedinginan. " Kasihan sekali kamu, nak." Gumam hati Nita.


Intan kesal dengan sahabatnya, yang tiba-tiba saja memberhentikan motor.


"Ya elah, kenapa berhenti?"


Nita mulai perlahan melepaskan sweater yang ia pakai, ia mulai memakaikan sweater itu pada tubuh Lulu. Agar anak berumur tiga tahun itu tidak merasa kedinginan lagi.


Hati nurani Nita merasa tak tega jika melihat anak kecil dibiarkan kedinginan. Hatinya merasa sakit, apalagi ia dulu pernah mempunyai seorang adik wanita seperti Lulu, tapi sekarang anak itu sudah tidak ada.


Nita terpisah karena keegoisan kedua orang tuanya yang berpisah.


Intan yang melihat perlakuan Nita terhadap Lulu membuat ia semakin kesal dan tak suka. Sampai di mana Intan menarik sweater yang menutup tubuh Lulu, memakaikan pada dirinya sendiri.


"Intan, kasihan anak ini. Masa kamu tega biarkan dia kedinginan. Hati kamu terbuat dari apa sih." Nita memarahi sahabatnya, ia membulatkan kedua mata, tak suka dengan prilaku Intan.

__ADS_1


"Alah, ngapain coba kamu sok-sok perhatian. memberikan sweater pada anak ini," ucap Intan. Pada Nita, ia tak mau jika anak yang ia culik mendapatkan kebahagian.


Diinginkan Intan saat ini, membuat anak Anna menderita, karena Anna sudah lancang menikah dengan Galih.


Nita tak memperdulikan perkataan Intan, ia menarik sweater yang baru saja dipakai oleh sahabatnya sendiri, mengalihkan sweater itu pada Lulu, agar anak kecil itu merasa nyaman dan tidak kedinginan.


"Ya elah kenapa si."


"Heh, kamu kan udah gede Intan, mengalah sedikit lah. "


"Malas sekali mengalah sama anak sialan ini."


Mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Intan membuat Nita terkejut, kenapa bisa Intan berkata seperti itu kepada anak kecil yang begitu polos dan tak berdosa.


"Sudah cepat nyalakan lagi motornya, aku sudah ingin tidur nih, ngantuk sekali. Kamu ini gimana sih ini kan sudah malam."


"Iya, iya. "


Pada Akhirnya Nita mulai menjalankan mesin motornya, untuk segera pulang ke rumah.


Di dalam perjalanan mereka mulai mengobrol, di mana Intan mulai menjelaskan akan dirinya yang sudah berbuat jahat kepada majikannya sendiri, Nita yang mendengar semua itu tentu saja merasa tak menyangka.


"Intan. Kenapa sih kamu bisa senekad itu. Harusnya kamu itu tidak boleh melakukan hal seperti ini, kamu mau masuk ke dalam penjara. Aku tidak mau memungut kamu." Nita mulai menasehati sahabatnya, karena ia tahu jika Intan itu bukanlah orang jahat.


"kamu tahu sendiri kan aku melakukan semua ini karena aku itu terlalu kesal dengan majikanku sendiri, apalagi dengan ibu dari anak ini, " ucap Intan menceritakan semuanya.


"Jadi anak yang kamu bawa ini, bukan anakmu?" tanya Nita, kepada sang sahabat.


" Jelas bukanlah. Aku ini belum menikah dan masih berstatus gadis, kamu ini bagaimana sih, masa ia di umurku yang masih muda ini sudah mempunyai seorang anak, ya nggak banget lah." Gerutu Intan. Di dalam motor.


Menarik napas mengeluarkan secara perlahan, Nita yang sudah mendengar penjelasan Intan, kini bergumam dalam hati.


"Kalau begitu aku tengah menyembunyikan seorang buronan polisi. "

__ADS_1


__ADS_2