Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 232 Ibu ibu rempong


__ADS_3

Dalam penderitaan Intan menjadi seorang pencuci piring. Tanpa gadis bermata bulat itu sadari, para ibu ibu biang gosip datang melihat Intan.


Mereka berdiri dengan wajahbegitu bahagia, melihat seorang gadis yang sudah menasehati mereka semua, menjadi seorang pencuci piring, karena tidak bisa membayar dua porsi nasi goreng yang ia pesan.


"Aduh, duh. Duh. Tadi kita lihat, gadis ini sok bijak ya, eh, tahunya nggak bisa bayar nasi goreng. Mau pergi begitu saja, uluh uluh, " sidir Bu Saidah, melipatkan kedua tangan, sembari menatap kearah Intan yang begitu fokus membersihkan piring-piring kotor.


Bu Cici, menepuk pelan bahu Bu Saidah," bukan mau pergi, tapi. Kabuuuuurrr ...." timpal Bu Cici, membuat semua orang yang menyaksikan Intan tengah mencuci piring tertawa terbahak-bahak.


Intan semakin tak bisa menguatkan diri, ia berusaha menahan agar tidak membanting piring-piring penjual nasi goreng yang ia cuci.


"Sabar, Intan. Kamu pasti bisa menahan amarahmu, tidak memperdulikan setan-setan yang tengah berkumpul mengerumunimu saat ini." Gumam hati Intan.


"Hemmm, dia diam aja, kayanya. Ketakutan deh," ucap sayu. Bu Kokom. Semua ibu ibu yang mengerumuni Intan tanpa senang, mereka sesekali mendorong kepala Intan.


Intan terduduk di atas lantai, semua tertawa kembali. Rasa tak puas terus menyelimuti hati mereka," gimana rasanya menjadi tukang cuci piring? Pastinya enak kan?"


Pertanyaan para ibu ibu, tak di jawab oleh Intan. Ia tetap saja, sesekali. Membuat mulutnya mengeluarkan suara." ck."


Bu Rara yang selalu update akan informasi orang-orang, kini menceritakan asal mula pekerjaan Intan saat di kota begitupun dengan Nita," sudah jangan di tanya lagi. Si Intan temannya si Nita ini cuman seorang pembantu di kota."


"Iwww, pembantu. Huuu, pantas saja saat cuci piring begitu cucok," cetus Bu Saidah, terlihat sekali ya begitu menaruh kebencian terhadap Intan.


Bu Cici mendekat, ia mencubit kerah baju Intan," aduuh, jadi gadis itu jangan sok, ye. Baru aje kerja jadi pembantu dah belagu sama kita kita."


Cara Bu Cici, memperlihatkan dia begitu benci pada Intan.


"Sudahlah, Bu Cici, ngapain coba kita ada di sini, di sini kan bau. Sedangkan kita kan wangi, rasanya nggak cocok banget gitu, kita ada di lingkungan menjijikan seperti sekarang," ucap Bu Kokom, dengan tangan yang sengaja ia kibas kibaskan di depan hidungnya.


"Tapi aku belum puas buat dia, semakin terlihat menyedihkan," balas Bu Cici.


Intan mengepalkan kedua tangannya, ia tak sanggup lagi menahan amarah. Menatap ke arah air bekas cucian piring. Karena tak mungkin ia harus membanting semua piring yang berada di hadapannya, kepada ibu-ibu bermulut macam sampah. Tak ada rasa simpati dan etika sedikit pun, mereka menyebalkan bagi Intan.


Tanpa aba aba, di saat para ibu ibu mentertawakannya, saat itulah.

__ADS_1


Byurrrrr ....


Intan sengaja menumpahkan semua bekas rendaman air cucian, pada para ibu ibu rempong.


Semua menjerit, karena mendapatkan air kotor dari semburan Intan, baju mereka basah semua. Make-up yang tadinya begitu tebal seperti primadona dan badut nyasar ke sawah. Hancur lembur, mereka berlarian.


Intan melihat pemandangan itu tertawa puas, karena ia bisa membalaskan kekesalannya akan ucapan ibu-ibu yang sudah membuat hatinya sakit.


Penjual nasi goreng yang tengah menyiapkan pesanan orang-orang hanya menggelengkan kepala, melihat tingkah Intan yang sudah kelewatan.


Dengan semangatnya Intan mulai mencuci kembali bekas piring kotor, Ia tersenyum sembari menyanyi lagu kesukaannya.


¶¶¶¶¶


Dasar kau ibu ibu rempong.


Baru kenal sudah bikin gigi ompong.


Eh, kutakut sekali, baru kenal sudah ngajak ribut.


Eh, kau tak tahu malu. Suka hina orang tapi tak sadar diri.


Tarik mang.


Intan tertawa puas, ia menganti lirik lagu dangdut dengan versi dirinya.


Setengah jam Intan sudah beres mencuci semua piring kotor yang berada di hadapannya, ia terlihat kelelahan.


Waktunya untuk Intan segera pulang ke rumah, karena hawa dingin yang terus menusuk kulit-kulitnya, membuat iya ingin segera tidur di atas ranjang kasur yang begitu empuk.


Berlari, dengan harapan ibu-ibu yang mengganggu dirinya tidak ada.


Melewati jalanan yang biasa di tongkrongin ibu-ibu, Intan bernapas lega, tidak ada satupun ibu-ibu yang berada di sana.

__ADS_1


Ia mulai melirik ponselnya, terlihat yang sudah menunjukkan pukul 11.00 malam. Tak terasa hanya mencuci piring saja dia pulang larut malam sekali, bajunya sudah basah karena cipratan air bekas cucian piring mengenai bajunya.


Setelah sampai di depan rumah, Intan mulai membuka pintu rumah Nita.


Namun saat ia membuka pintu, Intan tak menyangka jika Nita sudah mengunci pintu itu dari dalam rumah.


Intan menggendor-gedor pintu rumah Nita, berharap jika wanita itu tidak tidur. Intan kedinginan, ingin merasakan begitu empuknya kasur di dalam rumah Nita.


Tok .... Tok ....


Beberapa kali Intan menggedor pintu rumah Nita, tak ada jawaban sedikitpun dari dalam rumah sahabatnya, ia merasa jika Nita mengerjai dirinya.


"Nita, woyy. Buka pintunya."


Intan menendang-nendang pintu rumah Nita dengan begitu keras, tapi tetap saja usahanya tidak menghasilkan. Nita mengabaikan teriakan Intan," Nita."


Setelah rasa lelah yang menyelimuti tubuhnya, Intan memukul pintu rumah Nita dengan begitu keras, membuat tangannya memerah hingga ia sedikit merilis kesakitan.


"Haduhhh, sakit."


Intan mencoba menghubungi sahabatnya di dalam rumah, berharap jika kita mau membuka pintu rumahnya untuk Intan yang ingin tertidur pulas di atas ranjang tempat tidur.


Sudah ke sebelah kalinya, Intan menelepon sahabatnya itu, Nita tak kunjung mengangkatnya juga. Berteriak pun seakan tak berguna, Intan berusaha menahan kekesalan," Sialan si Nita ini, dia kurang ajar sekali, sudah tahu aku pulang karena mencari makanan, sempat-sempatnya dia mengunci pintu rumahnya."


Beberapa menit kemudian, Nita keluar dari rumahnya, ia membuka pintu dengan membawa bantal dan juga selimut, seperti sengaja untuk membuat Intan tidur di luar rumahnya.


Intan yang mulai masuk ini ditahan oleh Nita.


"Mau ke mana kamu?" tanya Nita, memperlihatkan wajah juteknya. Nita melemparkan bantal dan juga selimut ke arah wajah sahabat.


"Nita, Apa maksudnya kamu memberikan bantal dan juga selimut ini kepadaku? Kamu tahu sendiri kan aku ini kelelahan mencari makan untuk diriku sendiri, jadi Izinkan aku masuk ke dalam rumahmu untuk segera tidur di ranjang tempat tidur yang aku bayangkan saat ini!" balas Intan, Nita benar-benar tak memperdulikan sahabatnya itu, Ia hanya menyunggingkan bibirnya, tutup pintu rumah dengan keras.


Seperti mencontohkan tingkah laku Intan, saat dia tengah marah langsung membanting pintu kamar yang sudah disediakan Nita untuk Intan.

__ADS_1


__ADS_2