
"Ita, kenapa kamu seperti menjauhiku?" tanya Bu Suci menatap dalam dalam sahabatnya itu.
"Kamu tanya kenapa, jelas aku menyesal karena terlalu menuruti perkataanmu, karena kamu aku jadi ikut masuk ke dalam penjara!" jawab Bu Ita terlihat ia begitu frustasi, berada di dalam penjara.
"Heh, asal kamu tahu ya, dari awal aku masuk ke penjara ini aku tidak mengaitkan kamu dalam kasusku dan juga masalahku. Sengaja aku buat kamu bebas agar nanti bisa menyelamatkanku dari dalam penjara ini, " ucap Bu Suci menjelaskan semuanya, berharap sang sahabat mau mengerti.
"Terserah kamu, sekarang aku ingin merenungi kesalahanku. Seharusnya aku tidak melakukan semua kejahatan ini, kalau pada ujungnya membuat rugi diriku sendiri," gerutu Bu suci pada dirinya sendiri.
"Jangan sok jadi wanita yang munafik," balas Bu Suci menyindir Bu Ita.
"Terserah kamu, aku benar-benar ingin berubah," ucap Bu Ita, mengucapkan rasa penyesalanya.
Bu Suci hanya menarik napas, meraskan rasa tak nyaman, ia melihat ke langit langit. Apa dihatinya masih kebaikan. Sudah lama Bu Suci memedam dendamnya, dan juga kejahatanya. Pada Nita dan kini sudah tega membuat Nita hampir mati.
Ita mendekat dan berkata, " Aku hanya mengingatkan kamu, sebelum terlambat ayolah bertobat bersamaku."
Menundukkan wajah, menatap ke arah Ita, " Apa masih ada harapan untuk aku berubah, dosa-dosaku sudah begitu banyak. Kamu tahu sendiri kan baru saja kemarin aku tertawa, karena sudah membuat Nita terluka parah dan hampir membuat ia mati begitu saja. "
"Sepertinya kamu itu harus menenangkan pikiran kamu, sudah terlalu banyak kesalahan yang kamu lakukan terhadap Nita, renungilah sebelum terlambat, ayo rubahlah dirimu sendiri. Jangan buat dendammu terus membara dalam hati." Bu Ita terlihat menasehati sahabatnya itu.
Mendengar hal itu, akankah Bu Suci berubah dari kejahatannya, menjadikan dia sosok wanita yang tidak menaruh rasa dendam terhadap keponakannya sendiri.
********
Nita begitu beruntung bisa dikelilingi dengan orang-orang yang begitu baik terhadapnya.
"Nita, aku ingin menjaga kamu sepenuhnya, jadi aku putuskan seminggu lagi kita akan menikah."
__ADS_1
Mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Saiful tentulah membuat Nita terkejut, perlahan ia melihat tubuhnya ia penuh luka bakar, merasa insecure karena akan dinikahi oleh seorang guru PNS.
"Apa kamu yakin dengan perkataanmu itu. Apa kamu tidak jijik melihat tubuhku yang seperti ini?" tanya Nita, dengan kedua mata terlihat berkaca-kaca.
Saiful mendekat memegang kedua tangan calon istrinya itu," Kenapa kamu berkata seperti itu, jelas aku tidak mencintai tubuh dan rupamu, yang aku cintai adalah hatimu."
Deg ....
Jantung Nita terasa berdetak tak karuan, orang-orang berada di sana, tersenyum lebar, melihat kedua insan yang saling jatuh cinta.
Kedua pipi Nita memerah mendengar pernyataan Saiful," kamu tetap wanita yang aku cintai, bagaimanapun rupamu berubah aku tetap akan mencintai kamu."
Bu Nira begitu terharu dengan ketulusan anaknya kepada Nita, dia bahagia karena melihat anaknya juga bahagia. Pelukan sang ibunda kepada Nita dan juga Saiful.
Karena Anna melihat kesembuhan Nita, ia mulai berpamitan untuk segera pulang, menemui kedua anak-anaknya di kota.
"Tapi kasus Lulu?" tanya Nita, Anna terlihat murung ketika nama anaknya disebut.
Menarik napas berusaha tetap tegar," untuk masalah Lulu, sudah kamu jangan pikirkan, itu masalah kami berdua, berbahagialah tanpa ada beban. "
Anna mencoba menasehati Nita, agar tetap fokus pada dirinya sendiri. Karena Anna percaya jika suatu saat nanti Lulu akan ditemukan, ia akan berusaha keras mencari keberadaan anak ketiganya.
"Tapi Nita merasa tak enak hati, tanggung jawab itu lepas begitu saja," ucap Nita, begitu pedulinya terhadap Anna. Ia tak mau melihat kesedihan orang lain.
Anna mengusap pelan rambut panjang yang terikat rapi itu," untuk tanggung jawab itu, aku sangat menghargai kamu. Tapi untuk saat ini, kami akan melepaskan tanggung jawab kamu kepada Lulu, biarkan kami menyelesaikan masalah ini."
Nita merasa kecewa, tapi harus bagaimana lagi. Karena ia bukan bagian keluarga dari Lulu, ia hanya orang asing yang menolong Lulu saat itu.
__ADS_1
"Jika seperti itu, saya akan berlapang dada menerima semuanya," ucap Nita. Menundukkan wajah, tanpak murung dan sedih.
"Kamu gadis baik dan sabar, terima kasih. Kamu sudah berusaha semaksimal mungkin, menolong kami, " balas Anna. Berusaha menahan rasa sedihnya.
"Bu Anna jangan sungkan sungkan jika butuh sesuatu, Nita pasti akan menolong Bu Anna," ucap Nita pada Anna.
Anna benar-benar beruntung bisa bertemu dengan sosok gadis yang begitu baik kepadanya, apalagi gadis itu berhati lembut dan tidak memperlihatkan kebencian.
"Iya, Nita."
Bu Nira tiba-tiba saja memeluk Anna, menenangkan ibu yang baru kehilangan anaknya," kamu adalah wanita yang paling kuat Ana, saya percaya kebaikan akan datang kepadamu lagi, Lulu akan kembali ke pelukanmu lagi."
Pelukan Bu Nira tak kuasa membuat Anna kini menitipkan air matanya, Padahal dari tadi ia berusaha menahan air mata itu agar tidak terlihat oleh orang lain, bertahan, tapi pada kenyataannya air mata itu jatuh berderai. Sakit rasanya.
Bu Nira sengaja memeluk Anna, agar nanti beban pikiran dan juga perasaan sakitnya hilang.
"Kamu luapkan saja tangisanmu itu, jangan mencoba memendam, jika kamu terus memendam rasa sakit itu, kamu akan semakin terluka Anna."
Dan benar saja, Anna menangis sembari mengungkapkan kesedihanya." Saya benar-benar menginginkan dulu ada di sini, memeluk saya dalam kesedihan, atas kehilangan bayi dalam kandungan saya."
Bu Nira ikut menitihkan air mata, iya tahu. Betapa sakitnya menjadi seorang ibu yang kehilangan anaknya, terkadang seorang ibu selalu menyalahkan dirinya sendiri, tak becus mendidik ataupun menjaga, memberikan kasih sayang kepada anaknya.
Padahal sang ibu hanya manusia biasa yang tak bisa mengontrol waktu, untuk bisa menyiksakan kebersamaan bersama anak-anaknya, hinggal di mana uang mayoritaskan segalanya, jika tidak ada uang. Bagaimana dengan kehidupan anak-anaknya yang sekarang. Tak sanggup Anna melihat anaknya terlantar, itu tidak mungkin, maka dari itu ia bersusah payah banting tulang mencari sesuap nasi untuk anak-anaknya hingga menjadi sukses sekarang.
Dan setelah menikah, bukanya membuat ia meluangkan waktu untuk anak anaknya, Anna di sibukan dengan mabok berat dan harus mengurus restoran. Dimana Galih juga di sibukan dengan masalah mantan istrinya Ainun. Wanita yang terbaring koma di rumah sakit.
"Ayo luapkan semuanya, Anna."
__ADS_1
"Lulu, maafkan mama nak. Mama menyesal karena tidak memperhatikanmu, mama benar benar mama yang gagal tak becus mengurus kamu sayang." Teriak Anna, membuat semu orang yang berada di ruangan Nita menangsi.