Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 30 Mulut Mas Raka.


__ADS_3

"Jadi ini yang kamu lakukan di rumah sakit, hah?" tanya Mas Raka, dengan dandanannya yang rapi. Bau parfum khas selalu ia pakai.


Terlihat ketampanannya terpancar," Anna, pantas saja kamu menggugatku. Karna kamu sudah mempunyai laki laki lain."


"Jaga ucapanmu, mas. Jangan asal bicara," pekikku dikala memegang makanan yang di berikan Pak Galih.


"Bukanya lelaki ini, yang di bawa wanita buluk ini kemarin ya?" tanya Ajeng dengan dandanan ya menor. Bibir merah seperti cabai ia perlihatkan dengan begitu bangganya.


Wanita tua yang menjadi mertuaku, mendekat kearah Radit. "Nak, Radit. Sayang ini nenek."


"Berhenti bu, jangan sentuh anakku," larangku pada Ibu mertua.


Mas Raka seperti kesal dengan ucapanku yang melarang ibu," Anna, beraninya kamu melarang ibu. Hah."


"Maafkan aku Mas Raka, aku tidak mau jika anakku mengalami trauma lagi dikala tangan kotor kalian menyentuh anakku," hardikku pada keluarga Mas Raka.


Aku tidak peduli dengan ucapanku, jika melukai hati mereka. Sekarang yang aku inginkan terbebas dari penjahat penjahat tak tahu diri di depanku.


Mas Raka melipatkan kedua tangannya, ia terlihat begitu sangat marah padaku. Dari raut wajahnya, dan juga gigi yang saling beradu, menatap tajam ke arahku.


"Anna, kami bukan penjahat. Ingat itu," kecam Mas Raka.


Aku tertawa kecil," jika kalian bukan penjahat. Kalian pantas aku sebut apa? Manusia tidak tahu diri. Apa manusia ...."


Belum meneruskan perkataanku, Mas Raka datang mendekat kearahku, tangan kekarnya kini mencekik leherku tiba tiba.


Pak Galih yang melihat Mas Raka menyakitiku dengan sigap, meniju wajah suamiku.


Bruggg ....


"Cepat pergi kalian dari sini. Jika tujuan kalian hanya membuat masalah," hardik Pak Galih.


Aku tidak tahu bagaimana jadinya jika Pak Galih tidak menemaniku sampai sekarang, mungkin mereka akan semena mena terhadapku dan berani membuat anak anakku ketakutan.


Radit kini berpelukan dengan Farhan, ia sepertinya ketakutan sekali.


"Mas Raka, cepat pergi dari sini." Teriaku pada Mas Raka.


Lelaki yang sudah terduduk pada lantai, menatap sekilas kearah wajahku.


"Anna, aku datang ke sini hanya ingin melihat ke adaan Radit. Kenapa kamu malah mengusirku?" tanya Mas Raka.


"Mas, anak anakku tidak perlu ayah seperti kamu. Mereka bisa hidup tanpa ada kamu, ayah yang tega." Pekikku pada Mas Raka.

__ADS_1


Ibu mertua terlihat berbeda dari sebelumnya, ia lebih terlihat diam dan tak banyak membantah, entah karna dia sudah bosan membuat aku terluka.


"Anna, bagaimana pun mereka darah dangingku." Kecam Mas Raka.


"Aku tak peduli mas, yang terpenting sekarang kamu pergi dari sini. Aku ingatkan lagi sama kamu, anak anak tidak butuh kamu." Teriakku mengusir Mas Raka dari rumah sakit.


Lelaki itu kini berdiri, merapikan bajunya dari debu yang mungkin menempel. Ia mendekat ke arah Radit.


"Radit, ayo ikut papah sayang. Kamu pasti ingin sama papahkan."


Aku berusaha menjadi benteng pertahanan di depan anak anakku, agar Mas Raka tidak mendekati Radit.


"Pergi cepat dari sini Mas, aku tidak mau Radit trauma lagi karna kamu."


"Anna, aku tidak peduli."


Mas Raka semakin mendekat, menatap ke arah wajahku. Ia mencoba meraih tangan Radit, hingga di mana kuhempaskan tangan kekarnya itu.


"Menyingkir jangan pegang tangan anakku. Dia sudah tidak berhak kamu sentuh."


Amarah semakin menggebu, membuat Mas Raka tiba tiba menitihkan air mata, " cepat pergi, Mas."


"Ayo nak, ikut papah." rayu Mas Raka.


Anakku Lulu tiba tiba menangis, membuat ibu mertua berusaha meraih Lulu.


"Jangan sentuh anakku, Bu."


Wanita tua itu seakan mengabaikan perkataanku, hingga di mana, aku berteriak." Sekali lagi ibu sentuh Lulu. Aku tak segan segan membuat ibu sengsara."


Aku tak tahu, apa yang aku katakan benar atau tidak. Hingga para satpam datang dan mengamankan Ibu mertua dan juga Mas Raka.


"Anna, kamu ini tak adil. Bagaimana pun Radit juga anakku. Kecuali anak pungut itu, aku membutuhkan Radit." Teriakan Mas Raka, membuat Farhan terdiam.


"Diam kamu, Mas." pekikku.


Satpam terus menarik paksa Mas Raka, membuat aku berusaha menghampiri Radit memeluk tubuhnya begitu pun dengan Farhan.


"Anna, sebelum pengadilan berlajut besok. Aku akan mengambil hak hak anak anakku dari tanganmu," teriak Mas Raka.


Ibu mertua yang tadinya berniat mengambil Lulu, kini pergi menghampiri anaknya yang di sered paksa oleh para satpam rumah sakit.


"Anna, ibu berharap kamu jangan lakukan ini. Ibu mengaku salah, jangan pisah dengan Raka ya nak, ibu menyayangi kamu, Anna."

__ADS_1


Wanita tua itu pergi dengan tangisan dan juga harapan agar aku kembali pada keluarganya.


Aku terduduk, sembari menghampiri Lulu menangis. Sedangkan Radit masih terdiam di temani Farhan.


"Sampai kapan mereka akan seperti ini, aku takut jika aku berpisah. Mereka akan terus mengambil Radit dan Anna."


"Hey, Anna. Kamu jangan lemah, tetap pada pendirianmu. Besok kamu harus siap melawan mereka, saya yakin kamu bisa."


"Tapi pak. Aku sudah mengugat Mas Raka tapi dia malah seperti itu."


"Itulah laki laki, saat kita menghampiri dia berusaha tak peduli. Tapi di sisi lain, dia malah takut. Dan berusaha melakukan cara agar dia menang. Jadi kamu jangan kalah, jangan lemah."


Aku berusaha mengusap pelan air mata yang mengalir pada pipiku.


"Nanti siang kita pulang ke rumah Kakak kamu, saya akan meminta di rumah Kakak kamu, agar memasang pelaratan medis, dan juga kamu lebih tenang menjaga Radit."


Lelaki dingin di sampingku, membuat tangisanku kini reda," Terima kasih Pak Galih."


"Mah, kenapa papah berkata seperti itu?"


Deg ....


Ucapan Farhan membuat aku dan Pak Galih menoleh ke arahnya. "Farhan, dengarkan dulu apa kata mamah. Sebenar ...."


"Kenapa mamah tidak bilang padaku? Kenapa mamah menyebunyikan semua ini?"


Aku tak menyangka jika Farhan akan memotong pembicaraanku, ia terlihat sedih dengan kenyataan yang di dengar dari mulut Mas Raka, lelaki yang selalu ia anggap sabagai papah kandungnya sendiri.


Aku mulai menaruh Lulu di atas kursi, setelah anak perempuanku berhenti menangis. Pak Galih hanya diam, menatap ke arahku.


"Farhan, sayang. Apa yang dikatakan papah."


Farhan menghempaskan tangan kananku seketika, " Mamah kenapa jahat, kenapa mamah tidak bilang kepadaku?"


Aku tidak mengerti dengan sikap anak laki laki jika mengalami situasi yang membuatnya kecewa, dia cenderung jadi marah dan tak terkendali.


"Farhan dengarkan dulu kata mamah, jangan kamu memotong pekataan mamah terus nak. Mamah susah menjelaskannya padamu."


Farhan menatap ka arah wajahku, tatapan matanya benar benar berbeda, tidak seperti biasanya, ia terlihat begitu kecewa.


"Farhan, nak."


Hingga di mana?

__ADS_1


__ADS_2