Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 52 Balas dendam itu datang


__ADS_3

Kak Indah membuka kotak kecil, berukuran lusuh. Melihat kotak itu penuh dengan debu.


Debu membuat kami berdua batuk," debunya banyak banget, kak."


"Iya An, kena mata kakak, perih."


Perlahan Kak Indah membersihkan kotak itu," Bersih An."


"Cepat buka, Kak. Anna penasaran."


Kak Indah perlahan membuka kotak berukuran kecil itu, ada kertas dan sebuah poto lelaki yang begitu tampan.


"Siapa ini?" tanya kakaku, memperlihatkan poto lelaki tampan itu.


Aku meraih poto pada tangan kakaku, menatap dalam dalam wajah lelaki itu," poto ini."


Seketika, bayangan itu datang. Dimana aku bergandengan tangan, saling menatap satu sama lain. Berjalan jalan di suatu tempat yang indah.


Saat itulah, aku mulai melemparkan poto itu kearah Kak Indah," An, kamu kenapa."


"Kepalaku, terlintas banyangan lelaki itu. Dia," aku berucap dan banyangkan itu kini leyap.


Kenapa dengan memori di kepalaku ini, seharusnya aku langsung mengigat semuanya.


Kak Indah berlari, mengambilkan air minum untukku," An, ayo minum."


Tangan ini mulai meraih gelas dari tangan kak Indah.


Ahk, Brakkkk ....


Gelas tak bisa aku raih, entah kenapa kepalaku benar benar terasa sakit sekali. "Kak, ini sakit sekali."


"Anna, kamu harus kuat ya. Kakak akan telepon seseorang agar bisa membantu kamu."


Kak Indah berlari hingga dimana, aku terkulai lemah, di atas lantai.


@@@@


Kedua mata ini membuka perlahan, dan sekarang aku ada di rumah sakit kembali, betapa tak nyamanya mendengar suara monitor berbunyi dan selang infus menempel pada tanganku.


"Anna. Gimana keadaanmu sekarang?"


"Kak, kenapa aku malah dibawa ke sini!"


"Kamu jatuh pingsan, An. Jadi Kakak menelepon Pak Galih, untuk membawa kamu ke rumah sakit."


"Terus apa kata dokter?"

__ADS_1


"Kamu jangan memaksakan kepalamu untuk berpikir, karna itu akan membuat efek pada kepalamu sangat sakit. Biarkan pikiranmu itu membanyangkan apa adanya, jangan sampai memaksakan untuk tahu orang yang berada di masa lalumu!"


Aku hanya menganggukkan kepala, setelah mendengar pernyataan Kak Indah. Membuat aku memegang tanganya," kak, aku ingin pulang."


"An, sekarang sudah malam. Kamu harus tinggal dulu di rumah sakit ini sehari lagi, setelah kondisi tubuh kamu membaik."


"Tapi, Anna. Enggak betah, kak. Anna ingin pulang sekarang juga,"


Kak Indah terus menasehatiku, agar bisa menurut padanya." Kamu harus bisa menjaga tubuhmu, jika tidak kamu tidak akan tahu masa lalumu sampai kapanpun."


Perkataan Kak Indah memang ada benarnya, maka dari itu mengurungkan niatku untuk buru buru pulang." Kak Indah."


"Kenapa, Anna?"


"Bagaimana dengan anak anakku!"


"Kamu tenang saja, mereka baik baik saja, ada kakak yang jagain. Kamu di sini, biar dijagain sama Pak Galih, oke."


Lelaki berkumis tipis itu, akhirnya muncul juga di hadapanku saat itu juga.


"Anna."


"Pak Galih."


Entah kenapa lelaki itu selalu menolongku, di saat aku kesusahan sampai detik ini.


Kak Indah dengan terburu buru, berpamitan padakku, ia ingat pada Lulu yang masih menyusu.


Untung saja aku selalu menyediakan Asi di kulkas, agar sewaktu waktu kak Indah tinggal menghangatkannya kembali.


"Anna."


Pak Galih mendekat ke arahku, ia menatap lekat dengan senyuman kecil dari bibirnya. Alis yang tebal dengan mata terlihat bulat, menampilkan sosok lelaki yang begitu tampan.


"Kenapa, pak?" tanyaku pada Pak Galih, yang tiba tiba saja memanggil namaku.


"Jangan terlalu banyak memikirkan hal hal yang belum mampu otakmu ingat!" balas Pak Galih, ia begitu perhatian kepadaku. Hanya karna aku pingsan dan memikirkan poto lelaki itu.


Siapa lelaki itu? Kenapa ketika menbayangkan dirinya aku seakan ingat betul, hanya saja aku tak ingat namanya. Dan siapa dia di kehidupanku dulu?


"Apa yang kamu ingat, jangan terlalu memaksakan diri untuk mengigat sesuatu. kamu harus tetap tenang, Anna."


"Iya pak. Aku berusaha mengigat tanpa memaksakan diri, karna aku tahu jika aku memaksakan diri untuk mengigat sesuatu, kemungkinan besar aku akan kesakitan."


"Bagus kalau kamu mengerti, cepat istirahat. Aku akan menjagamu seharian ini."


Pak Galih mulai membalikkan badan, membuat aku memanggil namanya," Pak Galih."

__ADS_1


Lelaki bersetatus duda itu membalikkan wajahnya kehadapanku dan bertanya," ada apa, Anna."


Aku sedikit ragu, tapi ini adalah hal yang biasa bagi orang lain. Karna aku terlalu banyak berhutang budi dengan Pak Galih, lelaki yang pernah dekat dengan almarhum ibu dan bapak.


"Terima kasih,"


Pak Galih tersenyum lebar di saat aku hanya mengarakan dua patah kata, yang ia rasa begitu berarti bagi dirinya.


"Sama sama Anna, ini belum seberapa dengan pengotbanan kedua orang tuamu di masa dulu saat membantu aku."


Pak Galih mulai melangkah untuk mendekat kearah kursi, saat itulah lelaki berkumis tipis beralis tebal, duduk dengan rileksnya.


Aku melihat raut wajah lelahnya, sudah bulak balik mengantarkanku, hingga ia juga harus mengurus prusahaanya yang terus berkembang pesat.


Aku masih dengan kedua mata yang terbuka, melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 12 malam, entah kenapa kedua mataku belum meronta menganjak untuk cepat tidur.


Mendengar dengKuran Pak Galih membuat aku ingin tertawa, lelaki yang menungguku di rumah sakit, ternyata sudah terlelap tidur, dan masuk ke alam mimpi.


Jam Sudah menunjukkan pukul satu malam, akhirnya kedua mataku terasa berat, perlahan aku mulai tertidur dan sesekali menguap merasakan rasa ngantuk yang tak tertahankan.


Merebahkan tubuh, hingga di mana aku tertidur pulas. Tuk ....


Suar langkah kaki terdengar begitu jelas, membuat kedua mataku kembali terbuka. Hingga dimana lampu ruangan mati mendadaka, aku tak bisa melihat apapun, semua terlihat gelap, langkah kaki semakin terdengar kembali.


Sampai aku mulai memanggil PaK Galih.


"Pak."


Tiba tiba, tangan membekam mulutku. Membuat aku susah untuk berteriak. Wajahnya tak bisa aku kenali. karna lampu ruangan yang mendadak mati, " Siapa dia, kenapa dia datang dan malah membekam mulutku ini."


Mengerutu pada hati, Anna berusaha memberontak. akan tetapi, lelaki itu membisikan sesuatu.


"Diam, aku tak sabar membunuh kamu saat ini juga."


Deg ....," dia mau membunuhku. Apa maksud tujuan lelaki yang berada di hadapanku, dengan menutup mulutku begitu erat."


Ingin berteriak, tapi tak bisa.


"Siap, siap menemui ajalmu."


Saat itulah aku mengigit jari tanganya, membut Kedua matanya menyipit seperti menehan rasa sakit. Saat itulah ia menampar pipiku, hingga aku terbaring di atas kasur.


Tamparanya begitu keras, membuat aku tertidur di atas ranjang tempat tidur, lelaki itu meraih bantal dan mulai membungkam mulutku.


Aku berusaha meronta dengan kedua tangaku," memohon di selatkan dengan air mata yang tiba tiba saja mengalir."


"Kamu akan menyusul, kakakku ke akhirat, bersiap siaplah, Anna. Ini balasan terbaik untuk kamu."

__ADS_1


__ADS_2