Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 27 Mas Raka keterlaluan


__ADS_3

Aku kini memperlihatkan poto Radit, kehadapan Mas Raka, dimana dalam poto anakku banyak bekas pukulan dan juga cubitan yang mungkin menyakitkan.


Terlihat Ajeng istri kedua mas Raka, tanpak panik. Kedua bola matanya terlihat kaget. Sepertinya dalang dari semua penganiayaan ini adalah Ajeng.


Namun, aku harus tetap tenang tak boleh gegabah, jika aku menunduh tanpa bukti, bisa bisa Ajeng lari dari masalah ini.


Bu Nunik dari tadi hanya diam, saat aku bertindak. Wanita tua itu menundukkan kepala perlahan mulai bergegas pergi menjauh dari hadapanku.


Pak Galih dengan cekatan menahan tangan wanita tua itu," Anda mau ke mana?"


Bu Nunik seperti gugup setelah Pak Galih menahannya, tanganya bergetar terlihat sekali rasa takutnya.


"Kenapa Radit bisa seperti ini."


Kemarahan mulai di perlihatkan Mas Raka, ia memegang lembar poto. Dan menatapnya begitu serius.


Ajeng kini memegang bahu Mas Raka menatap ke arah poto, di mana poto anakku masih berada di tangan Mas Raka.


"Mas, Come on, don't trust that woman. Bisa saja dia berbohong, dengan mengedit poto itu," ucap pelan Ajeng.


Walau perkataanya pelan, tapi aku masih sanggup mendengarnya.


"Heh, Ajeng wanita sok kebulean, mana ada poto bekas luka gitu di edit. kamu sekolah enggak sih, ngomong saja takut ketahuan."Gerutuku dalam hati.


Mas Raka memberikan poto Radit padaku," benar apa yang dikatakan Ajeng, bisa saja kamu akal akalan mengedit poto Radit, agar seperti ini."


"Kamu lebih percaya wanita alot ini, dimana perasaan kamu sebagai seorang ayah. Kalau kamu tidak percaya hanya karna melihat poto, sekarang ayo kamu ikut denganku ke rumah sakit," balasku.


Ajeng terus membisikan perkataan yang kini terdengar semakin pelan.


"Untuk apa? Namanya bocah biasa saja dia main main dengan kawanya. " ucap Ajeng, berusaha besikap tenang.


"Benar apa kata kamu Ajeng, bisa saja itu rekayasa kamu, Anna. Dan lagi Radit ada di tangan ibunya ini, bisa saja dia yang menyiksa Radit dan menyalahkan kita semua di sini," ucap Mas Raka.


Palkkkk ....


Aku menampar pipi Mas Raka di kala dia meyalahkanku. "Jaga ucapanmu, Mas."


Aku tak menyangka jika seorang lelaki bernama Mas Raka, seakan lari dari tanggung jawabanya sebagai seorang ayah


"Ternyata masih ada manusia manusia macam sampah di dunia ini seperti kalian," hardikku


"Jaga ucapanmu Anna, sampah itu kamu," timpal Ajeng.


"Oh ya, setelah ini akan kutuntun kalian semua. Agar masuk ke dalam penjara," ancamku pada Ajeng dan juga Mas Rakam


Ibu mertuaku kini mendekat ke arahku, ia mencoba menenangkan kemarahku.

__ADS_1


"Anna, kamu jangan lakukan itu. Ini hanya kesalah pahaman."


"Sudahlah bu, aku tidak mau mendengar kata kata rayuan lagi, ini yang terakhir kalinya aku datang ke sini." balasku.


Ajeng memegang kerah bajuku dan berkata," kamu boleh menyered kami di sini ke kantor polisi, tapi ingat kamu juga sudah membuat bayi dalam rahimku ini sudah tiada."


Kulepaskan tangan yang mencekram erat kerah bajuku ini, menghempaskan dengan seketika.


"Silahkan, jika kamu punya bukti."


Aku tersenyum kecil, dikala Ajeng ingin membuatku takut, akan ancamnnya.


"Oh ya, kalian siap siap saja. Bukti semua sudah ada di gengaman tanganku."


Kuraih ponsel yang sengaja di bantingkan oleh Ajeng, membuat aku tersenyum tipis. Memberikan isarat sebuah kedipan mata.


kini wajahku mulai berbalik ke arah Bu Nunik, kutatap matanya dengan tajam.


"Ingatnya Bu Nunik, wanita yang terhormat. Saya juga akan menyered anda ke dalam penjara."


Setelah puas membuat mereka terdiam dengan rasa takut, pada saat itulah aku mulai pergi dari hadapan mereka.


"Ayo Pak Galih, kita pergi dari sini. Aku muak melihat wajah wajah sampah seperti mereka."


Menaikin mobil, dan kami pergi dari rumah ibu mertua dan Mas Raka.


"Anna, ternyata kamu bisa tegas?"


Aku tersenyum kecil di kala Pak Galih berkata seakan memuji," aku masih lemah Pak."


Aku wanita lemah yang berusaha kuat akan keadaan.


"Bagaimana kalau sekarang kita ke tempat lokasi, tempat kamu mau memulai usaha warung nasi."


"Ide yang bagus."


"Ya sudah saya sekarang akan ajak kamu ke lokasi itu."


Pak Galih kini mulai membawaku ke tempat lokasi untuk aku memulai buka usaha.


Tak butuh waktu yang lama, akhirnya kita berdua telah sampai di tempat yang sudah di siapkan Pak Galih.


Tempat itu begitu nyaman, membuat aku sedikit senang. Walau sebenarnya pikiranku ada pada Mas Raka, ayah dari anak anakku.


"Anna."


"Anna."

__ADS_1


Lamunanku seketika membuyar dikala Pak Galih memangil namaku," iya, pak."


"Kamu melamun lagi Anna," ucap Pak Galih.


Lelaki berkumis tipis itu ternyata memperhatikanku, di mobil dan di tempat yang akan menjadi tempat usahaku.


"Apa kamu masih memikirkan suamimu itu?" tanya Pak Galih.


Deg ....


Dari mana dia tahu?


"Tidak pak!" jawabku berbohong.


"Sudahlah, saya tahu kamu pasti memikirkan lelaki yang kamu tak percaya bisa dengan sekejap mata menyakiti kamu kan. Padahal dulu dia begitu baik dan tak pernah melukai hati kamu," ucap Pak Galih, mewakili isi hatiku yang sekarang.


"Apa aku bisa melupakan lelaki yang sudah menyakitiku, apa anak anak akan menerima perceraiku dengan Mas Raka, aku bingung pak. Bagaimana kalau mereka nanti menanyakan sosok seorang ayah padaku," balasku dengan sebuah pertanyaan pertanyaan yang mungkin orang lain akan menilainya bodoh.


"Anna seiringnya mereka bertubuh besar, mereka akan mengerti apa arti perceraian nanti. Mungkin sekarang mereka tak menerima, karna masih membutuhkan sosok kasih sayang seorang ayah, lambat laun dengan kasih sayang yang kamu berikan, mereka nanti akan mengerti dan tak butuh sosok ayah dari ayah kandung mereka sendiri." ucap pak Galih.


Aku mulai mencerna pekataan lelaki yang berada di sampingku ini.


"Aku akan membantu kamu. Apa yang kamu butuhkan aku siap sekarang juga."


Dreet ....


Suara ponsel berbunyi, di mana kak Indah menelepon.


"Halo."


"Halo, An. Sekarang kamu ada di mana?"


Suara kak Indah terdengar panik.


Tuttt ...


Tiba tiba saja panggilan telepon pun mati begitu saja. Aku dengan terburu buru menelepon kak Indah kembali.


Tutttt ....


Sialnya nomor kak Indah kini tak aktip, membuat aku tak tenang. Ya Allah da apa ini?


"Kenapa, An?" tanya Pak Galih di kala aku terus menelepon nomor kak Indah.


"Kak Indah meneleponku! Aku mendengar kak Indah begitu panik. Aku takut terjadi apa apa dengan Radit." jawabku.


"Ya sudah kalau begitu, sebaiknya kita pulang ke rumah sakit," ucap Pak Galih.

__ADS_1


Kami berdua dengan terburu buru langsung masuk ke dalam mobil, untuk segera berangkat ke rumah sakit.


__ADS_2