Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 53 Pengalihan


__ADS_3

Aku berusaha menyingkirkan bantal yang ditempelkan lelaki itu pada wajahku, sekuat tenaga kudorong dia. " Jangan harap kamu bisa melawanku."


"Anna."


"mmm." Aku masih dengan perlawananku. Saat itulah Pak Galih bangun, ia mulai menyelamatkanku. Dimana Pak Galih memukul kepala lelaki yang hampir membunuhku.


Bruggg .... Tidak ada penerangan, tapi kedua mataku bisa merasakan suara lelaki itu meringis kesakitan. Dengan kekuatan seadaanya aku mulai turun dari ranjang tempat tidur, menekan bel agar para suster menyelamatkan kami.


Gerakan kaki terdengar oleh kedua telingaku, lelaki itu sepertinya masih ada di ruanganku. Aku berusaha mengingati Pak Galih agar berhati hati.


Hingga dimana lampu menyala, para suster berdatangan, kedua mataku sedikit menyipit karna respon cahaya.


"Ada apa ini?"


Pak Galih, tersungkur jatuh. Terlihat pada bibirnya ada noda darah. Para suster berusaha menyelamatkan Pak Galih terlebih dahulu, menyuruh lelaki berkumis tipis itu duduk.


Dengan tergesa gesa mengecek bibir yang berdarah.


Suster panik, ada luka robekan pada bibi Pak Galih, Ketika lampu dinyalahkan, aku tak melihat lelaki itu. Lelaki yang hampir membunuhku.


"Kemana dia?"


Hanya ada darah bercucuran dari atas lantai, darah itu berceceran menuju keluar jendela, sepertinya dia melarikan diri lewat jendela.


Aku berusaha melihat sosok lelaki itu, sudah tidak ada di luar. Kemana dia? Begitu pintarnya dia melewati jendela kamar dengan ketinggian yang lumayan bagiku sangatlah tinggi.


Suster kini menyuruhku untuk berbaring di ranjang tempat tidur, mereka akan memeriksaku saat itu juga.


Pak Galih masih dengan lukanya, seorang suster menanganinya dengan telaten.


Sedangkan aku hanya di beri obat penenang.


Para suster berusaha menjaga kami, agar tidak ada lagi kejadian seperti tadi.


Suster di perintahkan untuk berjaga.


Jam masih menunjukkan pukul sebelas malam, kedua mataku masih terjaga, aku takut hal lain terjadi lagi kepadaku.


"Siapa lelaki tadi, apa maksud kedatanganya?"


Pak Galih menghampiriku dengan bibirnya yang terlihat di tutup. Oleh kapas kecil, bekas pengobatan suster tadi.


"Anna, apa kamu baik baik saja?" tanya Pak Galih kepadaku.

__ADS_1


"Aku baik baik saja!" jawabku dengan hati masih ketakutan.


"Siapa dia, kenapa dia menyerang kita di rumah sakit, apa kamu mengenal suaranya?" tanya Pak Galih, membuat aku menggelengkan kepala.


"Aku tidak mengenal suaranya, hanya saja aku mendengar dia berkata, Kamu harus mati menyusul kakakku!" jawabku pada Pak Galih.


Pak Galih berkacak pinggang, ia terlihat penasaran dengan apa yang aku ceritakan." Kenapa begitu banyak musuh dalam hidupmu, Anna."


"Entahlah Pak?"


"Ya sudah sebaiknya kamu istirahat, tenangi dulu hati kamu, agar tenang! Jangan pikirkan masalah siapa orang yang menyerang kamu tadi!"


Aku hanya menganggukkan kepala, dan mengerti apa yang dikatakan Pak Galih.


@@@@


Jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, waktunya aku untuk pulang. Karna tak ada pemeriksaan lanjut, aku di bolehkan untuk pulang.


Rasanya nyaman setelah pulang dari rumah sakit, aku rindu ketiga anak anakku.


Ponsel Pak Galih kini berbunyi , membuat ia mengangkat panggil telepon dari ponselnya." Halo."


Terlihat percakapan yang begitu serius, membuat aku penasaran. Dengan siapa Pak Galih mengobrol?


Sebenarnya ada apa?


"Ayo, An. Kita ke kantor polisi sekarang?"


"Memangnya ada apa, pak!"


"Bu Sumyati ngamuk di penjara."


Kami berdua dengan terburu-buru menaiki mobil, untuk segera kepenjara. Melihat keadaan Bu Sumyati.


Setelah sampai di kantor polisi, aku melihat Bu Sumnyati mengamuk, tak terkendela, ia terus berteriak memanggil nama Daniel.


Nama Daniel itu seakan tak asing aku dengar, tapi di mana? Kenapa kepalaku mengigat sesuatu.


"Apa lagi ini?"


Polisi berusaha menenangkan Bu Sumyati, tapi wanita tua itu terus meronta ronta, ia seketika menatap tajam ke arah wajahku.


"Kamu penyebabnya, kamu penyebabnya."

__ADS_1


Apa yang di maksud Bu Sumyati, membuat aku tentu tak mengerti.


Ia menunjuk nunjuk, aku yang berdiri di samping Pak Galih, membuat aku ketakutan.


"Kenapa Bu Sumyati, terus menunjuk nunjuk wajahku. Apa salahku?"


Polisi menyuruh kami menandatangani, surat untuk pemindahan Bu Sumyati ke rumah sakit jiwa. Hingga di mana, seorang pemuda datang tanpa aku sadari kedatanganya.


"Ibuku tidak gila." Hardik seorang lelaki muda yang mungkin masih terbilang pelajar.


"Kamu siapa?" tanya Pak Galih, melihat anak muda itu tiba tiba datang ke kantor polisi.


"Saya. Deni anak kedua ibu saya!" jawaban yang membuat aku biasa saja. Walau dia menyebutkan anak kedua, apa memang ibu itu mempunyai dua anak. Ahk, aku tak mau berpikir, takut jika kepala ini tiba tiba kambuh kembali.


kedua mata anak itu tiba tiba menatap tajam ke arah wajahku, kenapa tatapan mereka berdua sama sama menyeramkan.


"Saya tidak bisa membiarkan ibu kamu ini berada di penjara, karna ibu kamu sudah banyak membuat ulah," ucap Pak Polisi, mencoba menjelaskan pada anak muda itu.


Anak muda itu menatap ke arahku, ada luka di bagian kepalanya, seperti luka baru. Apa yang semalam? Ahk aku tidak mau berburuk sangka dulu, takut jika nanti tuduhanku salah.


Tiba tiba saja tatapan mata tajamnya berubah menjadi sayu, ia menempelkan telapak tangan dan memohon kepadaku untuk membebaskan ibunya.


Tapi Pak Galih menyuruhku untuk tidak menanggapi perkataanya.


"Saya mohon, bebaskan ibu saya. Maafkan dia,"


Di sisi lain aku merasa kasihan, di sisi lainpun aku ketakutan. Pak Galih kini menghadapi anak muda itu dengan berkata," maafkan kami anak muda. Kami tidak bisa dengan semudah itu membebaskan ibu kamu."


"Aku sendirian di rumah tidak punya siapa siapa lagi," ucap anak muda yang baru aku tahu namanya Deni.


Jujur saja sudah lama tinggal di rumah mantan mertua. Aku baru pertama kali melihat anak Bu Sumyati, walau pun dia terkesan baik dan selalu menolongku dari cibiran Bu Nunik, tapi kedekatanku begitu kurang dengannya.


Pak Galih kini angkat bicara," maafkan kami, de. Sepertinya kami tidak bisa membebaskan ibu kamu, karna dia sudah melakukan tindak keriminal, yang tak bisa dimaafkan."


Lelaki muda itu melipatkan kedua tanganya, terlihat kemarahan pada wajahnya, ia kesal dengan jawaban Pak Galih, " Kenapa? Keadilan selalu berpihak pada orang seperti kalian."


Entah apa yang ia maksud, sudah jelas ibunya bersalah tapi dia tetap menyalahkan kami. Seakan hidupnya teranianya.


"Kenapa kamu berkata seperti itu? Sudah jelas ibu kamu melakukan kesalahan," ucap Pak Anton sedikit bernada tinggi.


"Ahk, memang ibuku melakukan kesalahan. Tapi dia tidak sempat membunuh kalia!" balasnya dengan ucapanya yang berbelit bagiku.


Aku berusaha menahan Pak Galih, agar tidak ada perseteruan, hingga dimana lelaki disampingku menandatangani surat pengalihan tahanan dari penjara ke rumah sakit jiwa.

__ADS_1


Dan Brakkk.


__ADS_2