
Bu Sari menyandarkan kepala pada kaca mobil, ia menatap jalanan, mendengarkan apa yang dikatakan suaminya." Dulu bapak berusaha menyadarkan kalian tapi, kalian seakan menganggap bapak itu salah."
"Iya pak, ibu juga minta maaf. Sekarang ibu tahu jika bapak menasehati kami berdua untuk kebaikan," ucap Bu Sari, tas berisi baju.
"Ya sudah, mau diapakan lagi. Semua sudah menjadi begini. Tidak bisa balik lagi seperti semula," balas Pak Sodikin, menatap ke arah istrinya.
Terlihat Bu Sari terus-menerus mengusap kedua air matanya. Wanita tua itu, mencoba untuk menenangkan hati dan pikiran. Agar terlelap tidur di dalam mobil.
Setengah jam berlalu, wanita tua itu kini bangun." pak, kita sudah sampai belum?"
Bu Sari melihat suaminya sudah tidak ada dihadapanya, ia panik dan mencari keberadaan Pak Sodikin.
"Pak."
"Pak."
*********
Setelah melihat kepergian nenek dan kakek, Farhan mulai mengajak kedua adik-adiknya untuk segera pulang. Anak remaja itu takut, jika sang Ibu nanti menanyakan keberadaan kedua adik-adiknya yang sengaja ia bawa untuk melihat kakek dan nenek.
"Lulu dan Radit ayo kita pulang."
Mereka memajukan kedua bibir, seperti enggan pergi. Farhan tahu jika kedua adik-adiknya masih rindu dengan Bu Sari dan suaminya.
"Nenek dan kakek kok jahat ya, ninggalin kita berdua."
Farhan mengusap kepala kedua adiknya, seraya menasehati dengan penuh kelembutan," mereka itu, nggak jahat kok. Mereka berdua masih banyak urusan, di kampung. Jadi nanti kalau mereka datang lagi ke kota, kalian berdua bisa bertemu dengan nenek dan juga kakek."
"Tapi, kita pengen ketemunya sekarang. Pengen kayak kemarin jalan-jalan bersama kakek."
Farhan menarik napas, menasehati anak anaknya yang susah di atur." Sudah yuk sebaiknya kita pulang. Kakak janji, bakal belikan kalian es krim. Gimana mau nggak?"
__ADS_1
"Wah, benar kak. Ayo Radit dan Lulu mau pulang!"
Pada akhirnya Farhan berhasil merayu adik-adiknya untuk segera pulang ke rumah, mereka kini menaiki mobil.
Saat di dalam mobil, Radit memulai sebuah percakapan pada kakaknya." Kak, kenapa ya, kakek dan nenek tidak tinggal saja di rumah mamah. Dan lagi ayah Raka kenapa nggak pernah jenguk kita berdua."
Mendengar hal yang ditanyakan Radit, tentu saja membuat Farhan sedikit bingung. Bagaimana bisa ia menjawab pertanyaan adiknya, bahwa dirinya juga belum mengerti apa arti perpisahan kedua insan yang sudah menikah.
Farhan tidak pernah tertarik untuk bertanya hal seperti itu, bagi dirinya semua hanyalah membuang-buang waktu.
Maka dari itu Farhan tak pernah ikut campur ataupun ingin tahu. Apa masalah yang tengah dihadapi kedua orang tuanya ataupun orang-orang di sekitar dirinya.
Ia selalu bersikap cuek, dan lebih menghabiskan waktu dengan hal yang penting dan bermanfaat.
"Kak, Radit tanya. Kok kakak diam aja?"
Berharap jika Farhan menjawab, karena Radit ingin tahu semuanya. Dia anak kecil yang pastinya butuh kasih sayang lebih dari kedua orang tuanya.
"Radit, kakak juga sebenarnya tak mengerti kenapa mamah dan Papah Raka menikah. Hanya saja kakak saranin, sebaiknya kita tidak usah menanyakan hal seperti itu, sebaiknya Radit dan Lulu fokus saja belajar ya."
Setelah sampai di rumah, Anna menyambut ketiga anaknya yang baru saja pulang," Bagaimana sudah ketemu neneknya, mama Kira kalian bakal lama. Kok jam segini sudah pulang, apa kata nenek?"
Mereka bertiga memperlihatkan wajah sedih, Farhan menjawab pertanyaan seorang ibu." Saat kami melihat nenek dan kakek, mereka sudah bergegas untuk segera pulang ke kampung. Jadi waktu bertemu dengan mereka hanyalah sebentar. maka dari itu kami pulang dengan cepat. "
"Pulang kampung, tumben sekali ya. Bapak dan ibu pulang, bukanya Raka masih berada di penjara." Gumam hati Anna.
" Kalian tanya kenapa nenek dan kakek pulang cepat ke kampung?" tanya Anna, penasaran.
"Kata mereka ada urusan mendadak yang harus mereka selesaikan di kampung, makanya mereka pulang hari ini. Radit dan Lulu kecewa karena mereka berdua tak bisa berlama-lama bermain dengan kakek dan nenek!" jawab Farhan menjelaskan semuanya.
Anna masih menggunakan kursi roda, kini mendekat pada kedua anaknya. Ia memeluk tubuh Radit dan juga Lulu dengan berkata," sudah kalian nggak perlu sedih. Nanti kalau mama sudah sembuh, kita main ke kampung nenek dan kakek. Kita nginep di sana bersama-sama."
__ADS_1
Radit mulai menimpal perkataan ibunya." sama papah Raka ya mah."
Deg ....
Mendengar ucapan Radit, tentu saja membuat Anna terkejut." Papah Raka?"
"Iya papah Raka."
Anna lupa belum menjelaskan jika sekarang dirinya tidak mempunyai hubungan dengan ayah kandung Radit dan juga Lulu.
Perlahan, Anna mulai menjelaskan. Hubungan yang sudah tidak bisa bersatu kembali, berharap jika kedua anak anaknya akan mengerti.
Anna, memegang bahu Radit. Ia tahu jika anak pertamanya dengan Raka, tentu saja banyak menyimpan sebuah pertanyaan-pertanyaan yang ingin Radit tanyakan pada Anna.
Walau mungkin pertanyaan itu sedikit tak masuk akal, karena Radit yang masih bocah harus menanggung perpisaahan antara kedua orang tuanya.
Sedangkan Lulu masih kecil, pastinya anak berumur dua tahun tak mengerti jika kedua orang tuanya berpisah.
"Radit, Lulu. Kalian dengarkan apa kata mamah ya."
Radit menganggukkan kepala, ia diam begitupun dengan Lulu.
"Mamah dan papah Raka sudah tidak ada hubungan suami istri, kita sudah bercerai. Radit sekarang punya papah tiri. Yaitu papah Galih, tapi Radit juga masih tetap menganggap papah Raka ayah kandung Radit, karena tidak ada seorang anak putus ikatan dengan ayah kandungnya sendiri. Radit sama papah Raka tetap keluarga. Berbeda dengan mamah, mamah bukan istri dari papah Raka. Jadi mamah sudah tidak ada ikatan lagi bersama papah Raka."
Radit perlahan mulai mengerti apa yang dikatakan Anna, ia yang dikelilingi 1000 pertanyaan, pada akhirnya memeluk sang mama dengan penuh kasih sayang.
"Sekarang Radit mengerti, Radit berjanji akan menerima takdir mamah dan papah Raka yang tak akan bisa bersatu kembali."
Anna tersenyum senang setelah mendengar anaknya mampu mengerti apa yang dikatakan dirinya. Hampir saja Anna ketakutan jika Radit tetap tidak mengerti, dan ia malah nekat pergi menemui Raka.
Jika itu terjadi bisa saja Raka memanfaatkan anak kecil seperti Radit yang mampu mengasihani orang lain apalagi papahnya sendiri.
__ADS_1
Harapan Anna saat ini, ia selalu bisa bersama dengan anak anaknya, dan Galih menjadi lelaki terakhir dalam hidupnya.
Walau Galih sudah melakukan sesuatu hal yang benar-benar sangat fatal, tapi Anna bersyukur dari semua kejadian di masa lalu Galih bisa mengubah takdir Anna sekarang.