
Di dalam penjara, Ajeng memberitahu pada suaminya, jika Lulu anak keduanya itu hilang di culik.
Raka tengah menikmati hidangan, tentu saja terkejut dengan pernyataan yang terlontar dari mulut Ajeng.
"Jangan bercanda kamu Ajeng, mana mungkin Anna sampai lengah menjaga Lulu."
"Jika kamu tidak percaya, coba saja tanyakan pada Galih. Ketika dia datang menjengukmu ke sini. "
"Sudahlah Ajeng, kamu jangan sampai membuat otakku stress dan kesal. Jika kamu hanya ingin berbicara untuk memancing emosiku, sebaiknya kamu pergi dari sini."
Raka tak segan-segan mengusir Ajeng, karena ia datang dengan membawa kabar yang tak menyenangkan, apalagi menyangkut pada anak-anaknya.
" Sebaiknya kamu pikirkan saja bagaimana aku keluar dari dalam penjara ini, untuk urusan anak anakku, biarkan Anna yang bertanggung jawab saja, aku sudah tidak peduli dengan mereka, mendengar kabar mereka aku sudah malas."
Ajeng mengerutkan dahi dengan duduk di kursi rodanya," padahal ini kesempatan kamu, saat Lulu tidak di temukan kamu bisa menuntut dia bahwa dia bukan ibu yang becus. Ya hitung hitung balas dendam sih."
"Mm, balas dendam. Seru juga, apa nanti dia akan depresi."
"Wah tentu saja."
Tawa menjelma pada kedua insan, yang tengah memikirkan cara untuk bisa keluar dari dalam penjara, walau rencana mereka sanggat konyol, tapi bagi Raka ini patut di coba.
********
Intan membayangkan akan pergi ke suatu tempat seperti perkampungan yang jauh dari kota, sengaja melakukan persembunyian agar hidupnya tenang.
Untuk masalah kedepannya itu hal yang gampang, bagi Intan setelah mempunyai uang banyak ia bisa melakukan hal apapun.
Dengan ponselnya pun, Intan sengaja membuang ponsel untuk menghilangkan jejak, ia tak mau jika hidupnya terganggu akan bayang bayang polisi.
"Bodoh, memang orang kaya macam si Galih itu, aku di lawan. Walau aku hanya seorang pembantu dulu ya, tapi kecerdasanku tak jauh melebihi seorang penjahat keriminal. Polisi itu tidak akan menemukanku sama sekali, selagi. Ada uang ini."
Masih di dalam bus, membayangkan semua begitu indah. Bagi dirinya, hingga dimana, ia turun dari bus, melihat tempat tujuan yang akan menyelamatkannya dari polisi.
Namun, saat itu. Beberapa orang tak beseragam, menghampiri Intan, " siapa kalian."
Jantung Intan seakan tak karuan, melihat Kedua lelaki itu seperti polisi. Tanpa berpikir panjang, Intan berlari terus menerus, ya tak mau jika hidupnya membekam di dalam penjara.
"Heh, kamu mau ke mana?"
Intan berlari dengan begitu cepat, berharap jika Kedua lelaki yang seperti polisi itu tidak mengejarnya.
__ADS_1
Memeluk erat koper hitam, Intan tak sabar ingin segera memakai uang yang diberikan Marimar untuknya.
Namun, saat ia menikmati bayangan akan uang yang ia peluk, satu sosok lelaki itu membekam mulut Intan, agar tak bersuara.
Intan berusaha memberontak. Melepaskan tangan yang membekam mulutnya, tapi tenaga Intan tak cukup, ia tak berdaya. Hingga Kedua lelaki itu menyeret paksa Intan masuk ke dalam mobil.
Napas Intan terasa sesak, karena bekaman mulut itu begitu menutupi hidungnya.
Sampai dimana Intan jatuh pingsan.
Kadua lelaki itu, langsung menuruti perintah sang Bos yang di mana mereka berhasil membawa Intan kehadapannya.
Untung mereka pintar mengikuti Intan sampai bisa menangkap gadis ber bola mata bulat itu.
saat di dalam perjalanan, Intan baru sadar akan pingsan. Ia melihat ke sekeliling mobil itu, hanya ada dua laki-laki yang duduk di depan.
mulut Intan tak bisa berbicara, karena Kedua lelaki itu sudah menutup mulutnya dengan kain, dan mengikat kedua kaki begitupun kedua tangan Intan agar tidak kabur.
Dari wajah yang Intan lihat, membuat ia mengenali wajah itu.
"Tunggu mereka berdua seperti suruhan Nyonya Marimar?" Gumam hati Intan.
Intan berusaha memberontak, agar Kedua lelaki itu melepaskan ikatan dari tangan dan juga kakinya.
Setelah sampai di tempat tujuan.
Intan kini dikeluarkan secara tidak baik dari dalam mobil, ia diseret paksa menuju Marimar.
Intan merasa aneh dengan apa yang sudah terjadi, padahal urusannya dengan Marimar sudah selesai.
Marimar wanita bertubuh ramping dengan bajunya, yang perlahan berjalan dengan menggunakan high heels memegang dagu Intan.
"Apa kabar, sekarang kita bertemu kembali."
Pertanyaan Marimar, membuat Intan berusaha memberontak agar bisa melepaskan ikatan tali yang mengikat tangan dan juga kakinya.
Apalagi mulutnya yang sengaja disumpah oleh kain.
"Nyonya kenapa anda membawa saya ke sini? Bukannya perjanjian tentang jual beli anak itu sudah tercapai, Kenapa Nyonya malah menyeret saya datang ke rumah ini'"
Marimar melipatkan kedua tangan, ya tersenyum sinis melihat wajah polos Intan.
__ADS_1
"Nyonya Marimar ...."
Baru saja Intan menyebut nama Marimar, tangan melayang ke arah pipi kiri Intan dengan begitu keras.
Palkkk.
Intan semakin tak mengerti dengan apa yang dilakukan, Marimar kepada dirinya.
Marimar melihat gadis bermata bulat itu memeluk sebuah kotak hitam yang sengaja Ia berikan kepada Intan.
Dengan kekesalan yang mendera pada hatinya, Marimar mengambil paksa koper berwarna hitam itu pada pelukan Intan.
"Kenapa Nyonya Marimar malah merebut kembali kotak hitam itu."
Marimar melayangkan sebuah suara dari jari jemarinya, sosok seorang pria datang kembali membawa koper hitam itu untuk segera disimpan di tempat yang lebih aman.
"Nyonya Kenapa anda malah mengambil kotak hitam saya?"
Marimar tak berani melawan, dia takut tersalah kan akan dirinya yang asal berucap.
Marimar kesal dengan Intan, karena dirinya hampir membuat Marimar ditahan oleh Polisi. Mencengkeram erat dagu Intan dan berkata, " asal kamu tahu, Polisi datang ke rumahku begitupun dengan sahabatmu Nita, mereka bersikukuh menyalahkanku."
" Maafkan saya Nyonya Marimar, Saya tidak tahu Setelah menjual Lulu kepada anda, Nita malah ikut campur akan urusan saya. "
Plakk ....
Tanpa rasa tega sedikit pun Marimar kini memukul Intan dengan begitu keras.
Palkk .....
Intan merasa kesakitan, sedangkan Marimar hanya tertawa dalam penderitaan Intan yang terlihat begitu menyedihkan.
Marimar menyuruh para suruhannya untuk membawa Intan ke ruang bawah tanah dan mengurungnya di sana, Marimar tidak mau jika ada salah satu orang yang menggagalkan bisnisnya.
Samsul sebagai suruhan sang Nyonya hanya bisa menurut perintah majikannya itu, dengan rasa Tak tega.
Samsul mendorong tubuh Intan untuk masuk ke dalam penjara ruang bawah tanah, yang sengaja disediakan Marimar, untuk orang-orang yang sudah berkhianat dan juga menyakiti hatinya.
Intan menangis meraung, ingin dibebaskan dari jeratan Marimar yang baru ia tahu, jika Marimar adalah wanita yang sangat licik, dia bisa melakukan cara apa saja, agar hidupnya merasa untung dan tidak dirugikan.
"Nyonya Marimar tolong saya. " teriak Intan terus-menerus.
__ADS_1