
Ada rasa panik menyelimuti hati Galih, Anna tidak ada di kamar anak anak, padahal tadi Galih mendengar jika Anna akan tidur di kamar Lulu.
" Ke mana, Anna?"
Pertanyaan mulai menyelimuti hati Galih, terlihat sekali jika ia begitu kuatir.
"Anna."
Memanggil sang istri, sampai ia melihat televisi menyala. " Anna."
Dan benar saja Anna tidur di atas sopa, membuat rasa panik dalam diri Galih, " Anna, kamu ini kenapa?" Galih ternyata melihat Ana sudah tertidur pulas, dia melihat wajah polos istrinya.
Seperti menyimpan kekecewaan, dan rasa sakit yang paling dalam, masuk mengucapkan wajah sang istri. Ia menatap perlahan dan mencium kening wanita yang sangat ia cintai.
"Kamu pasti kecewa denganku Anna. Maafkan aku." Kata Maaf baru terlontar begitu saja dari mulut Galih, seharusnya lelaki itu mengatakan kata maaf saat istrinya membuka mata.
Galih mulai membopong tubuh istrinya yang sudah tertidur, memindahkan tempat tidur. Terlihat sekali Anna seperti kelelahan, seperti ia tidak tidur saat Galih pergi.
Pagi Hari.
Anna terbangun, ia tak menyangka bahwa dirinya sudah berada di ranjang tempat tidur, padahal jelas-jelas ia tidur di atas sofa ruang tv.
Melihat ke sisi kiri, Galih masih tertidur dengan begitu pulas. Ia beranjak pergi untuk membersihkan diri.
Hati Anna masih di selimuti kekesalan, ia diam, pergi dari dalam kamar tanpa mengucap satu patah katapun.
Anna mulai menyiapkan sarapan bersama para pelayan, ia lebih sibuk dengan mengerjakan pekerjaan rumah seperti biasa.
Menghilangkan rasa kesal, berusaha menyibukan diri dengan memperhatikan kedua anak-anaknya.
"Lulu, sini sayang. Biar mama rapikan rabutnya."
Lulu, tak menatap ke arah sang ibunda, ya berjalan lebih cepat dari sebelumnya. Menghampiri pengasuh. Seakan menghindar dari ibunya sendiri, " Bibi, aku mau di ikat rambutnya sama bibi."
Melihat hal seperti itu tentulah membuat hati Anna sakit, padahal Ia berniat menyibukkan diri dengan anak-anaknya. Tapi kedua anak-anaknya malah pergi mengabaikan sang ibunda.
__ADS_1
"Lulu, tadi kan mama manggil. Seharusnya Lulu datang langsung pada Mama, jangan menghindar seperti itu," ucap pengasuh menasehati Lulu, berusaha membuat anak itu tidak menaruh dendam. Pada ibunya sendiri.
Lulu mengerutkan kedua bibirnya, ia hanya menatap sinis ke arah pengasuh, kenapa dengan Lulu? Apa ada seseorang yang mempengaruhi anak itu?
Lulu mulai berangkat bermain dengan memegang tangan pengasuh, tanpa mencium punggung tangan sang ibunda untuk berpamitan.
Terlihat sekali kebencian pada hati anak berumur 3 tahun itu.
"Bu."
"Sudah tak apa, kamu antar saja dia bermain," perintah Anna, pada sang pengasuh.
Anna tahu kedua anak-anaknya tidak pernah dekat dengannya, pastinya mereka sangat kesal terhadap ibunya sendiri.
Apalagi sekarang Anna tengah mengandung anak Galih, pastinya ia tak bisa meluangkan waktu bersama anak-anaknya.
Karena rasa lemas pada tubuh, akibat bawaan bayi membuat ia hanya ingin beristirahat.
Galih, duduk di meja makan. Ia mencari keberadaan istrinya, menatap ke sana kemari. Hingga bertanya pada pembantu di rumah.
"Mbok, Anna. Kemana?"
Galih menyuapkan beberapa kali makanan ke dalam mulut, ia menyelesaikan dengan begitu cepat, segera minum air putih.
Beranjak berdiri untuk mencari keberadaan istrinya, semalaman Anna begitu jutek terhadap dirinya. Sampai tidur pun rela berpisah dengan suami.
Anna memilih tidur di sofa ruang tv, Galih. Menatap jarum jam di tangan, sudah pukul 08.00 pagi, sepertinya ia akan terlambat untuk bekerja, maka dari itu Galih berusaha mencari sang istri, untuk berpamitan berangkat bekerja.
"Anna."
"Anna."
Memanggil Anna beberapa kali, wanita berbulu mata ngantuk itu tetap saja tak menjawab panggilan dari suaminya. Ia malah berjalan keluar dari dalam rumah.
"Anna, kamu mau ke mana?"
__ADS_1
Langkah kaki Anna terhenti begitu saja, saat Galih menemukan dirinya berjalan cepat keluar dari dalam rumah.
Anna seakan enggan membalikkan badan menatap ke arah sang suami, ia malah menatap ke arah jalanan. Galih memegang bahu sang istri, dengan berkata." kenapa kamu mendiamkan aku seperti ini. Apa kesalahanku, coba katakan?"
"Kenapa kamu malah bertanya kepadaku," ucap Anna, membuat Galih sedikit bingung.
Bagaimana Galih tidak merasa bingung, ia baru kali ini merasakan arti sebuah rumah tangga yang sesungguhnya, dan belum mengerti sifat dan watak pasangan. Dulu ketika bersama Ainun, hanya fokus mengurus kesembuhanya.
Jarang berkomunikasi, selalu ia libatkan pada perawat kepercayaanya.
Lelaki berparas tampan, tubuh tegapnya. Memeluk sang istri begitu erat.
"Maafkan aku. Jika aku melakukan kesalahan, tak ada niat membuat hatimu terluka dengan datang ke rumah sakit melihat ke adaan Ainun."
Anna berusaha menepis rasa kasihanya, ia melepaskan pelukan sang suami. Pergi dengan munundukkan wajah, Galih tak putus asa, ia menarik tangan sang istri. Menahan untuk tetap ada di hadapanya." Jangan pergi."
Tangan Anna kini dipegang erat oleh Galih, menahan wanita itu agar tidak pergi." Tolong dengar dulu penjelasanku, kamu jangan diamkan aku seperti ini."
Anna berusaha tetap tenang, ia membalikan badan ke arah sang suami, " Coba jelaskan. Kenapa?"
"Aku datang hanya ingin memastikkan jika rasa traumanya tidak muncul kembali, kamu tahu sendirikan dulu aku juga sudah berbuat jahat pada Ainun, dengan memperkosanya."
Anna berusaha mendengarkan apa yang dikatakan suami, ia memberi kesempatan pada Galih untuk berbicara dan menjelaskan apa alasannya datang tengah malam menemui Ainun di rumah sakit.
"Hanya itu saja?"
Anna terlihat masih menyimpan rasa kesal dalam dirinya terhadap sang suami, karena bagi Anna, penjelasan Galih belum sesuai dengan yang ia inginkan.
"Anna, kamu kenapa begitu, aku sudah menjelaskan semuanya, tapi Kenapa kamu masih marah dan terlihat tidak menanggapi apa yang aku katakan."
Anna melipatkan kedua tangannya menatap tajam ke arah sang suami." penjelasan kamu itu belum bisa aku terima sepenuhnya, Kamu mau tahu alasannya kenapa? Karena kamu meninggalkanku begitu saja, tanpa meminta izin ataupun berpamitan. Jika kamu mengatakan semua itu sebelum berangkat ke rumah sakit tengah malam. Pastinya aku akan memaklumi kamu dan tidak akan memarahi kamu seperti ini."
Galih memegang kedua tangan istrinya, meminta Maaf berulang kali, berharap jika Anna masih memberi kesempatan untuk memaafkan kesalahannya saat itu.
"Maafkan aku anak. Aku menyesali semuanya, Harusnya Aku tidak melakukan semua itu kepada kamu."
__ADS_1
"Sudah terjadi baru menyesali semuanya, kamu tahu sendiri kan aku ini istri sahmu. Harusnya kamu lebih menghargai aku dari pada wanita itu, masa lalumu dan kini sudah menjadi mantan istrimu. Aku curiga, kamu masih mencintai dia?"
Kedua mata Galih membulat, bibirnya terasa kaku.