Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 55 Bayangan Masa Lalu.


__ADS_3

"Anna, apa kabar, sudah lama kita tidak pernah bertemu semenjak kamu mengelami kecelakaan bersama Daniel."


Aku mengerutkan dahi, ketika wanita berambut pendek menyebut nama Daniel. Bukanya Daniel nama anak Bu Sumyati yang selalu disebut dirinya saat di dalam penjara.


"Maksud kamu Daniel?" tanyaku, masih tak mengerti.


Wanita berambut pendek yang tak aku kenal namanya, malah memukul jidatku." Dari dulu kamu emang oon ya. Masa pacar sendiri enggak kenal, bukanya kamu sudah mau menikah dengan dia. Mengenalkan Daniel pada ibu kamu. Dan sekarang dimana dia."


Aku benar benar tak paham dengan semua ini. Daniel dan pacaran, menikah. Ada apa sebenarnya ini, bukanya calon suamiku yang datang di saat kematian ibu adalah Mas Raka. Tapi, kenapa wanita dihadapanku menyebut nama Daniel.


"Kamu siapa?" Aku bertanya dengan wajah polosku di depan wanita berambut pendek ini.


"Ya ampun, kamu enggak mengenalku sama sekali. Aku ini Tasya, sahabat kamu, rekan kerja kamu dulu. Kamu lupa, aku yang mempertemukan kamu dengan Daniel!" jawab wanita yang menyebut dirinya sebagai temanku.


Aku sampai di buat bingung olehnya, karna otakku tetap saja tak mengigat wanita bernama Tasya ini.


Wanita itu, kini merogoh saku celananya. Mengambil sebuah ponsel. Ia langsung menunjukkan poto dimana diriku dan seorang lelaki yang ia sebut Daniel.


"Kamu lihat ini, An."


Aku meraih ponselnya, melihat dengan jelas poto lelaki ini. Kedua mataku membulat, ini poto sama percis dengan yang kulihat dalam kotak kecil yang di simpan ibu.


"Apa kamu mengigatnya, An? Oh ya, memangnya semejak kecelakaan itu kamu tidak jadi menikah dengannya? Aku sudah lama tak mendengar kabar Daniel semenjak kalian menglami kecelakaan."


Perkataan wanita dihadapanku membuat aku, hampir mengigat masa lalu, yang mungkin baru aku ingat.


Kecelakaan. Pertumpahan darah. Daniel.


"Ahkkkkkk."


Menjerit sekeras mungkin, kepalaku sakit sekali.


Bayangan itu terlintas, dimana Daniel menatapku wajahku, ia menangis. " Ahkkkkk. Sakit, aku menangis kesakitan."


Sosok orang yang menabrakku, siapa dia? Bayangan itu buram.


"Anna, kamu harus tenang jangan kamu paksakan otakmu untuk mengigat masa lalumu."


"Anna. kamu kenapa?"


"Mbak Tasya, semenjak kecelakaan itu. Anna mengalami benturan yang sangat keras membuat ia harus di oprasi, ada sedikit kertakan dan membuat Anna hilang ingatan!"

__ADS_1


"Ya ampun, Anna. Aku menyesal telah menceritakan semuanya, jika aku tahu itu akan menyakiti kamu, mungkin aku tidak akan menceritakan semuanya."


"Ya sudah, saya mau membawa Anna ke rumah sakit kembali."


"Saya ikut."


"Boleh."


Dengan terburu buru, aku di bawa ke rumah sakit kembali." Jangan bawa aku ke rumah sakit."


"Tapi, kamu kesakitan, Anna."


Aku berusaha tak mengigat kejadian itu, walau sulit. Perlahan aku menenangkan pikiran, melupakan perkataan Tasya sementara.


Menarik napas secara perlahan, terus menerus. Menuruti arahaan dokter yang mengigatkanku. Pada akhirnya perasaanku tenang.


Keringat dingin, membasahi tubuh ini. Aku benar benar tak mengerti dengan reaksi kepalaku saat mengigat masa lalu.


"Anna, maafkan aku." Tasya wanita yang belum aku ingat, menangis memeluk tubuhku.


"Kenapa kamu memintaa maaf, semua bukan salah kamu Tasya, aku beruntung bertemu dengan kamu, jika aku tidak bertemu dengan kamu, mungkin aku tidak akan mengigat masa laluku yang penuh dengan misteri."


" Apa kamu tahu wajah orang tua Daniel?" tanyaku pada Tasya.


Tasya menggelangkan kepala." Aku tidak tahu, An. Karna aku hanya mengenal dia saat dia meminta nomor ponselmu kepadaku."


Aku menarik napas ya secara perlahan, ia menduga jika Bu Sumyati adalah ibu Daniel. Tapi kenapa Bu Sumyati dan anak keduanya ingin membunuhku?"


"Anna, bagaimana kalau kamu mencoba menunjukkan poto Daniel kepada Bu Sumyati. Jika wanita tua itu merespon. Berarti dia adalah ibu kandungnya."


Ucapan Pak Galih adalah ide yang sangat bagus, bisa aku coba." Hanya saja aku takut, dia mengamuk."


"Benar juga."


Tasya kini bertanya dengan raut wajah penasaran." Memangnya kenapa dengan wanita bernama Bu Sumyati itu."


"Wanita itu di vonis gila, dan dia menyembut nama Daniel sambil menangis." Penjelasanku pada Tasya.


"Aku juga masih tak yakin jika Daniel masih hidup," ucapan Tasya membuat aku mengerutkan dahi.


"Maksud kamu?" tanyaku yang tak mengerti.

__ADS_1


"Setelah kejadian kamu dan Daniel di tabrak lari. Daniel sampai sekarang tak di temukan!" jawab Tasya.


"Jadi maksdu kamu, setelah aku dan Daniel mengalami musibah itu, Daniel sampai sekarang tidak ditemukan, dia masih hidup apakah belum," ucapku pada Tasya.


Wanita berambut pendek itu menganggukan kepala," jika Daniel mati, mungkin mayatnya ada. Terbuktinya mayatnya tak ada."


Ini semua menjadi misteri, yang harus dipecahkan Anna, dimana Daniel tidak ditemukan, idetitas dan begitupun mayatnya.


Pak Galih yang masih fokus, mengendarai mobil kini bertanya padaku." Anna, jika calon suamimu dulu Daniel. Terus Raka siapa? Kenapa dia mengaku ngaku menjadi calon suamimu?"


"Aku juga tak mengerti! Pak."


Tasya kini menimpal perkataanku," Raka, kok aku baru dengan nama itu. Siapa dia?"


"Raka itu lelaki yang datang mengaku sebagai calon suamiku disaat aku mengalami Amnesia, dia menikahiku dan kini menghacurkan hidupku!"


Tasya mengusap punggungku dan berkata," kamu yang sabar ya. An."


@@@@@


Karna kondisiku yang membaik, Pak Galih tak jadi mengantarkanku lagi ke rumah sakit. Kini aku hanya mengantarkan Tasya pulang ke rumah.


Wanita itu begitu banyak memberi aku infomasi. Sampai perlahan ingatanku mulai kembali. Walau semua itu butuh proses yang menyakitkan.


"Anna, jika kamu membutuhkaku, aku siap membantu kamu. Jangan lupa hubungin aku."


Tasya berpamitan kepadaku, sembari memberikan nomor ponselnya, ya begitu baik. Akan tetapi aku tak mengingatnya sama sekali.


Setelah mengantarkan Tasya kami bergegas untuk segera pulang, ke rumah, karna waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore.


Sesampainya di rumah, aku melihat kak Indah menangis. Sembari memeluk Lulu, segera mungkin menghampirinya dan berkata," kakak Kenapa menangis?"


"Anna, maafkan kakak, Raka datang ke sini. Ia memaksa kakak, mendobrak pintu rumah kakak, dan kini membawa Radit."


Radit anakku, kenapa Mas Raka begitu nekad, sebenarnya ada apa dengan dia.


Kenapa lelaki itu tak ada habisnya mengusik hidupku, Apa yang sebenarnya ia inginkan dariku, Kenapa dia malah mengambil Radit.


Aku langsung memeluk tubuh kakakku begitupun dengan tubuh Lulu, berusaha menenangkan rasa menyesal dalam hati kak Indah. Aku tak akan menyalahkan dirinya, karena memang Mas Raka, matan suamiku itu, tidak ada kapoknya. Ia melakukan apa saja demi membawa kedua anak-anaknya.


Padahal ia sudah tahu bahwa. Hak asuh, kedua anak-anakku sudah jatuh kepadaku. Mas raka tidak berhak membawa Radit tanpa seizinku.

__ADS_1


__ADS_2