
Ketika aku sudah sampai di rumah sakit bersama Pak Galih, Kak Indah berlari dengan air mata yang terus membasahi pipi. Sesekali wanita bermata bulat yang menjadi kakaku mengelap ngelap air matanya.
"Anna, akhirnya kamu sampai juga."
Dengan isak tangis, aku sebagai seorang adik berusaha menenangkan tangisannya itu, agar kak Indah mau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
" Kakak tenang dulu ya, coba Kakak tenangin hati kakak dulu baru nanti cerita sama, Anna."
Aku berusaha menenangkan kak Indah, menyuruhnya menarik nafas mengeluarkan secara perlahan.
Beberapa kali tak ingin melakukan apa yang sudah aku katakan, hingga di mana ia mulai tenang dan meredakan tangisannya.
kak Indah menunjuk ke arah ruangan Radit.
"Kenapa dengan Radit, kak?" tanyaku dalam kepanikan. Segera mungkin melihat pada jendela kaca, karna suster tidak mengizinkanku masuk.
Lulu yang masih berada di pangkuan kak Indah kini menangis, membuat Aku berusaha meraih anak bungsuku dan menenangkan tangisannya.
" Sebenarnya apa yang terjadi dengan Radit, Kak?"
Perlahan Kak Indah mulai menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dengan anakku, perasaannya kini terlihat mulai tenang." Radit tiba-tiba saja sesak nafas."
"Kenapa bisa? Radit tidak pernah punya riwayat seksak nafas sebelumnya! kenapa semua ini bisa terjadi."
Kak Indah mengelengkan kepala, ia juga tak mengerti, padahal tadi siang Kak Indah berkata bahwa dia menjaganya dengan baik.
Pak Galih memegang bahuku dan berkata," Kamu harus tetap tenang, mungkin ini efek dari rasa trauma Radit."
Aku hanya menganggukan kepala, berusaha tetap tenang, walau sebenarnya hati ini benar benar rapuh dengan ke adaan yang membuat aku harus kuat dan tegar.
Bruggg ....
Suara apa itu?
Kami bertiga menatap ke arah suara yang tiba tiba terdengar keras seperti benturan. Membuat aku dan Kak Indah melihat ke arah suara itu.
"Kenapa aku merasa ada seseorang yang mengawasi kita dari kejauhan?"
"Kakak juga merasa seperti itu!"
Pak Galih menghampiri kami berdua dan bertanya?" Ada apa?"
"Kami mendengar suara benturan keras dari arah sana, tapi tidak ada satu orang pun yang kami lihat. Apalagi sekarang sudah malam."
Pak Galih mengereyitkan dahi, melihat ke sana ke mari, apakah ada orang yang sengaja mengintip atau memperhatikan gerak gerik aku dan juga Kak Indah.
Kami berusaha tenang dan kembali melihat ke adaan Radit, hingga di mana.
__ADS_1
"Ahkkk." Brugggg .....
Suara itu terdengar kembali, membuat aku semakin penasaran, karna rintik hujan dan angin di sertai lantai rumah sakit di luar mungkin terciprat air. Membuat orang yang sengaja berlari akan terjatuh begitu saja.
Karna rasa penasaran, Lulu yang aku gendong. Aku serahkan sebentar pada Kak Indah," kak, aku titip Lulu dulu."
"Kamu mau ke mana, Anna."
Tak peduli dengan pertanyaan Kak Indah, aku menyerahkan Lulu begitu saja. Berlari melihat suara yang begitu jelas aku dengar.
Teriakan seorang wanita yang terjatuh seperti sengaja berlari, karna takut ketahuan.
Pak Galih memanggilku. Dan berteriak.
"Anna, kamu mau ke mana?"
Aku berusaha tak mendengar panggilan Pak Galih karna fokus ingin melihat suara yang sengaja kudengar di luar rumah sakit.
"Jika itu suara manusia, akan kuberi dia perhitungan."
Perlahan langkah kaki ini semakin berjalan ke arah suara teriakan itu, hingga di mana.
Siapa dia?
Aku berusaha berlari di kala suasana rumah sakit sepi, para suster mungkin sedang beristirahat.
"Siapa dia?"
Aku berteriak, sembari berlari mengejar wanita dengan rambut panjangnya, sial wanita gemuk itu begitu cepat berlari membuat aku hampir kewalahan.
Ditambah lagi lantai yang begitu licin, membuat kakiku merasa waspada.
"Hey jangan lari kamu."
Kukejar wanita itu, tanpa menoleh ke sana kemari karna rasa penasaran, mengebu di hati, jika itu setan dia akan melayang pergi, tapi yang aku lihat seperti wanita yang sengaja berlari. Karna suara kakinya dan juga badanya yang besar.
Setelah sampai di ujung rumah sakit, di mana tempat itu berada di kamar mayat, membuat aku memberanikan diri.
"Heh, siapa kamu? Keluar kamu."
Tidak ada jawaban sama sekali, aku mulai penasaran dengan ruang mayat yang terbuka. Kini langkah kaki kuberanikan melangkah masuk ke ruang mayat itu.
"Aku harus melihat wanita itu."
"Anna."
Baru saja memegang pintu kamar mayat, Pak Galih datang dengan nafas terengah engah, ia menghampiriku dan berkata.
__ADS_1
"Kamu sedang apa di ruangan ini?" Lelaki berbadan kekar dengan kumis tipis, menatap pada tulisan pintu, " Ruang mayat."
"Anna, kamu mau ngapain ke ruangan mayat jam segini. Ayo cepat kita pergi dari sini. Radit sadarkan diri."
"Tapi, pak."
Aku berusaha menolak, karna masih penasaran dengan wanita gemuk yang berlari hingga masuk ke ruangan mayat.
"Ayo, kasihan Radit pasti nunggu kamu."
Pak Galih meraih tangan kananku, mengajak aku untuk segera menyingkir dari ruang mayat yang berada di depanku.
Melirik dengan berjalan karna ditarik paksa oleh Pak Galih. Ruang mayat itu kini tertutup, aku merasa curiga jika wanita itu yang sudah membuat anakku sesak nafas.
Tapi siapa dia?
Setelah sampai di ruangan anakku, Kak Indah menangis seraya mengusap pelan rambut Radit.
"Maafin tante ya, Radit."
Aku mendekat ke arah Radit, ia terlihat masih lemah.
Rasanya tak tega jika bertanya langsung pada Radit, karna takut membuat dia seperti kemarin.
"Sayang, kamu baik baik saja kan?"
Radit menganggukan kepala, seakan enggak berbicara.
Mengusap pelan kepala anakku dan berkata," jika ada sesuatu yang menakutkan, cerita sama mamah ya."
Radit hanya diam, dikala aku bertanya seperti itu, tatapan matanya terlihat kosong.
"Oh ya, kak. Jika kakak mau pulang, pulang saja dulu istirahat, biar Radit aku yang jaga."
"Anna, kakak enggak tega ninggalin kamu di sini sama Lulu dan juga Radit."
"Kak Indah tak usah kuatir, kan ada Farhan. Dia pasti bantu aku, apalagi Pak Galih sudah menyediakan ruangan rumah sakit yang kusus untuk Radit, jadi aku tidak akan terlalu kelelahan. Kakak besok kan harus kerja, kakak harus istirahat."
Kak Indah tersenyum kecil dan berkata," ya sudah kalau begitu. Kakak pulang dulu."
"Anna, bagaimana jika saya menemani kamu di sini menjaga Radit."
Kedua mataku membulat dikala kebaikan Pak Galih kini ia tampilkan di hadapanku." Tak usah pak, bapak sudah banyak membantu saya dari tadi pagi. Rasanya enggak enak jika terus menerus menyusahkan bapak."
Kak Indah, mengangkat kedua alisnya," sudahlah tak usah menolak, Anna. Kamu akan nyaman jika ada seorang lelaki yang menjaga kamu dan anak anakmu di rumah sakit."
Kutatap Kak Indah dengan mengerutkan dahi.
__ADS_1
"Kak."