
Ketiga anak anaknya kini masuk ke dalam rumah, Anna bergegas memutar kursi rodanya untuk segera masuk ke dalam kamar. Ia sudah ingin mengistirahatkan tubuhnya pada ranjang tempat tidur, yang lebih nyaman. Daripada di rumah sakit.
Galih datang membantu mendorong kursi roda istrinya, lelaki berbadan kekar dengan tubuh tegapnya. Kini malah membopong tubuh sang istri secara perlahan menidurkannya di atas kasur.
Senyum terukir dari kedua ujung bibir sang istri, Galih sini membalas senyuman yang membuatnya terpanah. Ia mencoba menahan hasrat dan gejolak di dalam jiwa, walau memang semua itu menjadi satu.
Semua perasaan berlomba-lomba, ingin segera menyentuh sang istri, sudah lama sekali setelah pernikahan itu digelar. Banyak rintangan yang harus dihadapi Galih.
Dan saat inilah, titik puncak kemenangan untuk Galih. Berharap tidak ada gangguan lagi dalam pikiran Galih untuk bisa menyentuh sang istri tercinta.
Ia tahu momen yang ia inginkan sangatlah sulit,
"Kamu kenapa menatapku seperti itu, Mas?"
Pertanyaan Anna, tentu saja membuat Galih salah tingkah.
Dengan mengusap kasar wajahnya, ia berusaha menahan gejolak dan rasa ingin. Karena ia tahu jika istrinya belum sembuh total.
"Nggak, aku senang saja. Melihat istriku yang cantik ini." Gombalan maut dilayangkan sang suami, Anna tertawa dan mencubit pipi suaminya.
"Ayolah Galih, kamu tahan, pasti kamu bisa. Kasihan Anna baru sembuh." Gerutu hati Galih.
Lelaki berbadan kekar dengan tubuhnya yang tegap kini berdiri untuk meninggalkan sang istri.
Namun, Anna malah menarik tangan Galih, menahan agar tidak pergi dari hadapannya.
"Kamu kenapa? Pergi."
"Mm, aku. Mau."
Terlihat Galih, sudah tak bisa menahan hasrat atau pun napsunya. Ia benar benar lemah dan tak berdaya.
"Aku haus sayang, jadi mau minum dulu, ya, "ucap Galih mencari alasan. Agar sang istri melepaskan tangannya, berharap tidak menahan Galih lagi.
"Kamu ini bagaimana mas, inikan air, " balas Anna, menuju kelas dan juga teko berisi air, di atas meja dekat ranjang tempat tidur.
Galih semakin salah tingkah dengan apa yang ia ucapkan." oh iya ya sayang, ada air di sini juga, aku baru sadar."
Anna tertawa, dan bertanya kembali." Sebenarnya kamu kenapa sih, mas. Kok kaya ketakutan begitu lihat aku, apa yang kamu takutkan dari aku."
Galih menggaruk belakang kepalanya yang tak terasa gatal, ia perlahan duduk di dekat sang istri." kamu kenapa ayo bicara padaku."
Menelan ludah, pada akhirnya Galih berkata jujur." Aku ingin."
Anna mengerutkan dahi mendengar perkataan yang tak jelas pada mulut suaminya.
__ADS_1
"Kamu ini ngomong apa, yang benar kalau ngomong, aku nggak ngerti loh."
Galih mulai mendekatkan bibirnya pada telinga sang istri, sampai di mana Anna menahan tawa dengan menutup mulut.
Galih tersenyum lebar, kedua pipi memerah. Malu jika Anna sampai mentertawakannya.
"Jadi kamu sudah ingin mas."
Menganggukkan kepala, setelah Anna bersuara.
"Ya sudah."
Galih nampak terkejut, saat Anna berkata seperti itu, kedua mata membulat dan terkejut.
"Ya sudah apa?"
"Ya sudah ayo, aku sudah siap!"
Galih tersenyum kegirangan, setelah Anna melerakan apa yang ia miliki pada sang suami.
"Tapi kamu sudah siap. Bukanya sudah ...."
"Sudah tak apa-apa, aku ini kan istri kamu, jadi aku sudah melerakan semuanya, untuk kamu kok."
"Iya, masa aku bohongan. Kamu ini gimana sih mas."
"Ya sudah ayo."
Perlahan Galih, memulai ritual malam pertama yang sempat tertunda, ia benar benar tak sabar dengan ritual yang akan di jalani saat ini.
Tangan kekar mulai melemas, mengumpulkan beberapa energi. Agar bisa kuat, karena ini baru pertama kali ia melakukannya lagi.
Sudah lama, hanya dulu saat kejadian pemerkosaan dimasa lalu terjadi, Galih memang lelaki baik, ia tidak bisa mempermainkan seorang wanita. Pantang bagi dirinya jika sampai melukai hati istrinya yang sekarang.
Buktinya, Ainun juga tak pernah disakiti oleh Galih sama sekali, sampai kemarin Ainun rela menjadi seorang pelakor di kehidupan Galih dengan Anna.
Namun karena ketegasan dan kesetiaan yang dimiliki Galih, membuat Ainun malu sendiri. Wanita itu akan pergi jika seorang lelaki tidak meladeninya.
Kecuali jika wanita yang memang bersikuku ingin memiliki lelaki itu, sampai apapun ia korbankan. Jika lelaki tak kuat ia akan tergoda, jika tidak dirinya akan tetap pada pendirian.
Wanita seperti itu pastinya akan hancur dengan sendirinya, ya tidak akan muncul lagi di kehidupan kedua Insan yang saling percaya satu sama lain.
*******
Setelah banyak mengumpulkan tenanga, pada akhirnya, tangan kekar itu. Membuka kancing baju Anna, satu persatu.
__ADS_1
Kedua pipi Anna memerah, sudah lama memang semejak lepas dari Raka yang menikahi Ajeng, ia baru pertama kali ini akan melakukan hal yang selalu di nantikan orang orang setelah menikah.
Semua terbuka, Galih senang dan suka. Ia memeluk tubuh sang istri. Perlahan mengecup bibir tipis yang sudah sah mejadi istrinya.
Gelora asmara semakin memuncak, semua terkumpul menjadi satu, cinta tak lepas dari pandangan, kedua insan benar benar menikmati surgawi yang mereka inginkan.
Dari sanalah puncak, kebahagian terasa. Hingga pada akhinya, Galih berhasil merasakan semuanya dengan orang yang ia cintai.
"Terima kasih, Anna." Kecupan ia layangkan pada jidat sang istri.
Galih senang begitu pun dengan Anna.
Ketukan pintu terdengar.
Tok .... Tok ....
Suara pembantu rumah, memberitahu bahwa sekarang waktunya untuk makan Sore.
Mendengar waktu sore, membuat kedua Insan itu tertawa. Mereka melakukan di waktu yang tak mereka sadari, tapi semua ini benar benar mereka nikmati karena rasa cinta dan kasih sayang satu sama lain.
"Non, tuan. Makanan sudah siap, anak anak sudah menunggu."
Galih berteriak menjawab perkataan pembantunya," iya Bi nanti saya sama istri saya turun ke bawah, kalian makan saja duluan."
"Baik tuan."
Galih, kini istrinya untuk segera mandi, mereka seperti kedua pengantin yang baru saja merasakan arti malam pertama.
Setelah selesai, mandi. Kedua insan itu kini turun dari tangga, Indah dan Deni ternyata sudah ada duduk bersama anak anak.
Sejak kapan sang kakak sudah berada di dalam rumah, Anna baru tahu.
Deni dan Indah melihat pemandangan yang tak biasa, membuat mereka saling menatap satu sama lain dan tertawa.
"Mm."
"Padahal hari cerah, kok bisa basah basahan."
Anna mencubit tangan Kakaknya sendiri, ada rasa malu terukir dalam diri Anna, jika kakaknya benar-benar Keterlaluan sudah mengejek kedua Insan Yang tengah dimabuk asmara.
"Aw, sakit tahu."
Radit mengerenyitkan dahi ini bertanya kepada kedua orang tuanya," mamah sama papah habis basah basahan ya, kalian berenang apa. Kok nggak ngajak Radit dan Lulu."
Semua mata membulat mendengar Radit bertanya seperti itu.
__ADS_1