
**** Seperti biasa, masih dengan pov Raka. ******
Semua nampak panik setelah Ajeng berteriak, di mana Bu Ayu memanggil semua para suster dan dokter agar segera menangani suaminya yang tiba-tiba saja kejang. Sedangkan aku yang hanya berdiri di luar ruangan, menatap ke arah mereka yang menangis histeris karena keadaan lelaki yang menjadi polisi itu benar-benar terlihat menghuatirkan.
Ajeng begitupun dengan Bu Ayu keluar dari ruangan, Bu Ayu yang memang terlihat sangat kesal terhadapku hanya menatap sekilas dengan kedua mata yang menatap tajam penuh amarah.
Ajeng dengan kedua matanya yang sudah memerah karena terus menangis membuat ia berdiri sejajar denganku.
Entah kenapa dengan lelaki tua itu lelaki tua yang bernama Pak Aryanto. Lelaki yang sudah menyelamatkanku dari kesalahan yang sudah aku perbuat.
Bu Ayu yang melihat keadaan suaminya semakin kritis, kini mendekat ke arahku, yang menunjuk pada dada bidang dengan berkata kepadaku," jika terjadi sesuatu dengan suamiku. kamu harus bertanggung jawab, Raka."
Sementara Ajeng yang berada di sisi kiriku, berusaha menyingkirkan telunjuk tangan ibunya yang menunjuk pada dada bidangku. " Ibu jangan salahin Mas Raka, dia itu tidak salah."
Bu Ayu yang tak senang dengan pembelaan Ajeng untukku, kini menatap ke arah anaknya sendiri," Ajeng, kenapa kamu masih mau membela lelaki tidak tahu diri ini. gara-gara lelaki ini ayahmu jadi masuk ke rumah sakit."
"Tidak bukan salah Mas Raka," Ajeng tetap mengelak sang ibu. Sedangkan aku berusaha bersikap tenang. Karna jika aku melawan yang ada semua menjadi bumerang.
"Sudahlah. Ibu tak mengerti dengan jalan pikiran kamu Ajeng, karna cinta kamu jadi seperti ini. " Bentakan sang ibu memampu membuat Ajeng terdiam.
Aku yang hanya mengikat janji, membiarkan Ajeng begitu saja. Tak peduli dan bersikap cuek.
"Mas, apa kamu tidak peduli padaku? "
Menatap ke arah wajah Ajeng dengan tatapan masih kesal. " peduli untuk apa? Kamu tahu kan Ajeng hidupku sekarang teracam masuk penjara seumur hidup. Dan kamu bilang akan menyelamatkanku. Tapi buktinya ayah kamu seorang polisi sekarang terdampar di rumah sakit tak sadarkan diri."
Plakkk ....
Tamparan keras melayang pada pipi kiriku dari tangan mulus Ajeng, ia seakan tak sadarkan diri karna perkataanku yang mungkin membuat relung hatinya terluka.
"Mas, aku sedang terpuruk seperti ini. Harusnya kamu jaga kata katamu itu, aku juga lagi memikirkan cara bagaimana kamu tidak masuk penjara. "
Menarik napas, hatiku rasanya tak karuang. Anna terus mengirim pesan yang menakuti nakutiku. Membuat aku hampir gila.
Dokter keluar dari ruangan.
__ADS_1
Bu Ayu yang dari tadi pergi tak terlihat. Belum juga kembali, entah pergi ke mana wanita itu.
"Dok. Dok. "
Ajeng berusaha mencegah sang dokter. " Iya, kenapa? "
Aku melihat mereka saling menatap satu sama lain, seperti orang yang saling mengenal. Sedangkan aku yang berada di belakang mereka berdua, kini mengeluarkan suara batuk agar tatapan mereka berpaling satu sama lain.
"Ajeng, apa kabar? "
Pertanyaan dokter itu membuat aku tentu saja geram. Bagaimana bisa di saat suasana tengah kritis, dokter itu sempat-sempatnya menanyakan kabar istriku.
Aku langsung menarik tangan istriku dan berkata, " apa apaan kamu ini. Malah mengobrol dengan dokter muda itu. "
"Maaf mas, dia temanku, waktu di luar negeri. "
"Ya sudah, cepat tanyakan bagaimana keadaan ayah kamu?"
Ajeng mulai bertanya pada dokter muda itu, tentang keadaan ayahnya. Dimana dokter itu memperlihatkan ketertarikanya pada istriku. Sungguh menjijikan, aku jika jadi dokter itu tak akan selera dengan Ajeng, karna dia sudah tua. Aku hanya butuh Ajeng karna dia berguna saat ini untukku.
"Ayahmu sekarang sedikit membaik, oh ya jangan bikin dia kaget ya. Oh ya Ajeng dia siapa? "
Dokter muda itu menatap ke arah wajahku dan begitupun Ajeng. Mereka seperti membicarakanku dari belakang. Tapi aku tak peduli, yang terpenting sekarang aku tidak mau masuk ke dalam penjara.
"Dia suamiku. "
"Oh, kamu itu cantik masa ia mendapatkan laki laki dengan model seperti orang miskin begitu."
Rasa penasaran mulai mengahantuiku, saat inilah kedua kaki ini berjalan menuju ke arah percakapan mereka berdua. "Maksud kamu apa? "
Dokter itu tersenyum kecil, meninggalkan aku dan juga Ajeng. "Heh. Mau ke mana kamu? "
Ajeng menahanku, hingga dimana ia menarik tangan ini menuju ke ruangan ayahnya.
Terlihat kedua mata lelaki tua itu terbuka. Ia menatap ke arahku dan juga Ajeng.
__ADS_1
"Ayah."
"Ajeng." Tangan yang sudah mengkerut itu memegang ke arah kepala Ajeng.
"Ayah jangan sampai sakit seperti ini. " Ajeng menangis dengan isak tangisnya yang terdengar keras, aku sebagai seorang lelaki hanya bisa berdiri terdiam tanpa harus menyapa lelaki tua itu.
Entah kenapa dari awal menikah dengan Ajeng, lelaki tua itu seakan tak bersahabat denganku, ia terbilang sombong dan sok. Walau memang ia itu penyelamat hidupku.
Sosok wanita tua kini datang ke ruangan, dimana ia menyenggolku dengan sengaja. " Ayah."
"Bu."
Aku melihat pemandangan yang sangat membosankan, saat satu keluarga menangis. Drama yang memilukan, " Ajeng. Apa bisa kamu bercerai dengan Raka? "
Aku mengerutkan dahi di saat lelaki tua itu menyuruh aku dan Ajeng bercerai, "Yah. Kenapa ayah berkata seperti itu. " Bentakku tanpa sadar.
Wanita tua itu berdiri. " Jaga ucapanmu. "
Aku berusaha diam, di saat wanita tua itu memarahiku. Ajeng mulai bertanya pada sang ayah. " kenapa ayah menyuruh Ajeng bercerai dengan Raka, ayah tahu sendirikan Ajeng sangat mencintai Raka. "
Aku kini bernapas lega, masih ada pembelaan dari Ajeng.
Lelaki tua itu mulai menjawab pertanyaan anaknya dengan nada lembut, terlihat lelaki berpangkat polisi itu menyeramkan tapi tutur katanya begitu lembut. Apalagi pada Ajeng. Anaknya sendiri, selama aku menikah dengan Ajeng, ia selalu di istimewakan tak ada bentakan atau pun tekanan.
"Ayah ingin kamu bercerai dengan Raka, karna alasan untuk ayah mempertahankan pekerjaan ayah dan wibawa ayah. Ayah tak mau jika kamu menanggung malu nanti jika ayah turun pangkat karna telah menipulasi soal kejadian tabrakan itu. Maka dari itu tolong bercerailah dengan Raka. "
Aku berharap jika Ajeng menolak perkataan ayahnya.
"Ajeng, kalau kamu teruskan pernikahan ini. Ayah akan di keluar dari kepolisian, karna menanggung malu. Dan bisa saja ayah di tahan, kamu akan tega kepada ayah? "
Terlihat raut wajah Ajeng terlihat bingung, "Ajeng aku juga suami kamu. Apa kamu tega membiarkan aku masuk penjara. "
Ajeng menelan ludah dan berkata. " Apa tidak ada cara lain ayah. Aku tidak mau berpisah dengan Raka. Aku juga tidak mau Raka masuk ke dalam penjaran. "
Bu Ayu kini memarahi anaknya. " Ajeng, jangan gila kamu. Kamu lebih memilih lelaki ini dari pada ayah kamu sendiri. Ajeng nak jangan dibutakan dengan cinta, sadar. "
__ADS_1