
Kak Indah berteriak," awas Anna. Dibelakangmu."
Mendengar teriakan kak Indah, membuat aku langsung berjongkok. Hingga dimana Ajeng yang ternyata mengejarku, tersungkur jatuh. Wajah cantik alotnya, kini mengenai aspal jalanan.
Semua orang yang melihat pemandangan itu tentulah tertawa terbahak bahak, dimana Ajeng berusaha berdiri dengan wajah penuh luka dan bibir tebalnya yang tak sengaja mencium aspal jalanan.
" Mas Raka. help me, I'm hurt now." Ajeng menangis di saat dirinya merasakan perih pada bibir atas yang sudah ia ciumkan pada aspal jalanan.
Mas Raka terlihat tidak membantu istrinya, ia seakan malu dengan tawa orang orang yang melihat penampilan sang istri yang terlihat begitu menyedihkan.
"Mas Raka."
Teriak Ajeng kembali lagi mengema pada telingakum
Lelaki berbibir tipis itu terlihat cuek, melihat sang istri meringis kesakitan, bukanya membantu Ajeng untuk bisa berdiri, Mas Raka seperti orang yang berpura pura tak mengenal Ajeng," sungguh malang nasibmu Ajeng. Sudah tahu Mas Raka kaya begitu, mau aja. BERTAHAN." Gumamku dalam hati.
Menggerutu kesal pada dirinya sendiri, aku hanya bisa menyaksikan apa yang terjadi dedepan mataku saat ini. Ajeng berusaha mengontrol emosi yang tak setabil.
Menepuk kedua tangan menghampiri wanita alot itu," waw, luar biasa Ajeng. Penampilan kamu di siang hari yang begitu panas ini, kamu masih bisa membuat orang bahagia, dengan mempermalukan dirimu sendiri."
Ajeng mengepalkan kedua tanganya, tidak suka dengan hinaan yang aku lontarkan di depan wajahnya, higga kedua matanya seperti menyimpan rasa dendam.
"Diam kamu, semua ini gara gara kamu, Anna."
Tersenyum di saat wanita alot itu semakin menekan dan menyalahkan dengan apa yang sudah terjadi padanya.
"Mas Raka." Lagi lagi, Ajeng berteriak memanggil Mas Raka yang tak mempedulikan dirinya.
"Sudahlah Ajeng, percuma kamu meminta bantuan pada lelaki seperti Mas Raka, dia lebih mengandalkan gengsi dari pada rasa kasihan."
Aku kini berjalan melewati Ajeng, melangkahi tanganya, yang terlihat putih mulus tersinar terik matahari.
"Anna."
Teriakan Ajeng, membuat aku langsung membalikkan bada ini agar mengarah pada wanita bernama Ajeng itu.
Terlihat kemarahan ia tampilkan di depan kedua mataku." Ada apa Ajeng. Apa aku salah?"
__ADS_1
Wanita berbadan langsing dengan kulit yang mulai terlihat keriput, kini menatap tajam ke arah wajahku menyimpan kekesalan.
"Don't be happy just yet, we haven't had fun with what I'm going to do to you later."
Aku hanya menampilkan senyumanku di saat ia melontarkan kata kata dalam bahasa kebuleannya lagi, membuat aku tentulah membalas." Waw, apa itu sebuah peringatan atau ancaman untukku. Agar aku takut kepadamu, Ajeng."
Ajeng tersenyum dengan jawaban yang terlontar dari mulutku." Kamu cari saja pada kamus bahasa inggris. Perkataanku itu sebuah ancaman atau peringatan, yang jelas aku ini lebih pintar dari pada kamu."
"Tidak masalah, yang terpenting aku tidak murahan seperti kamu! Paham?"
Perdebatanku dengan Ajeng telah usai. Di saat kak Indah memanggil namaku.
"Anna." Teriak Kak Indah.
Ajeng masih terdiam, sedangkan aku membalas teriakan Kak Indah. "Iya Kak. Aku sekarang datang."
Kak Indah tersenyum dengan penuh semangat setelah apa yang sudah aku lakukan, " kamu benar benar luar biasa. Mempermalukan dia di depan orang banyak."
"Bukan aku yang mempermalukan dia di depan banyak orang, tapi dirinya sendiri."
Kami mulai naik ke dalam mobil.
"Aku juga enggak mengerti dengan Mas Raka, dulu dia tidak seperti itu. Tapi sekarang? Sudahlah Kak, jangan bahas lagi Mas Raka, dia sudah sah menjadi mantan suamiku sekarang.
"Iya, iya deh."
Di dalam perjalanan menuju ke rumah, kak Indah membuat suasana tak tegang kembali, ia dengan semangatnya tertawa dan menceritakan kejadian, dimana Ajeng tersungkur jatuh saat berlari menghampiriku.
"Kamu hebat Anna, bisa menghindar dengan cerdiknya."
"Iya lah, itu cara ampuh ketika lawan berbuat kebodohan."
Radit mulai angkat bicara di saat aku dan kak Indah menceritakan tentang Ajeng.
"Mah, kenapa nenek menangis, Radit enggak tega liatnya?"
Ucapan Radit yang terbilang masih terdengar berbicar lucu, membuat aku menjawab," biarkan saja Radit. Kita tak usah memikirkan nenek lagi, bukanya dulu nenek tak pernah peduli sama kita."
__ADS_1
Radit kini terdiam, ia memajukan bibir atas bawahnya, seakan tak suka dengan jawaban yang terlontar dari mulutku.
Ada apa dengan Radit, tak biasanya dia menampilkan wajah masamnya?"
Tiba tiba saja Pak Galih memberhentikan mobil secara mendadak, membuat tangan lelaki berkumis tipis itu menekan kelakson dengan keras.
Semua orang yang berada di dalam mobil, tentulah kaget." Ada apa, Galih?"
Pertanyaan Kak Indah, membuat Pak Galih dengan segera mengangkat tanganya yang terus menekan kelakson mobil.
"Kalian tidak kenapa napakan? Tadi saya hampir saja menabrak orang yang memakai baju hitam, orang itu berlari melintas mobil kita, membuat saya tentulah panik dan memberhentikan mobil secara mendadak."
Di saat kami pulang ke rumah, masih saja ada yang usil, untung saja kami di dalam mobil tidak kenapa kenapa.
Pak Galih berusaha turun, mengecek ke adaan mobilnya, saat itu Kak Indah berucap." Hati hati Pak, kita tak tahu jika orang itu bisa saja membuat Pak Galih dalam bahaya,"
Perkataan Kak Indah membuat Pak Galih menjawab," tenang saja. Ini masih jalanan ramai, kalian tak usah kuatir."
Baru saja aku dan yang lainya di dalam mobil merasakan kebahagian, kini tergangu lagi dengan hal sampah yang orang lakukan.
Merasa kasihan dengan Pak Galih, aku mulai turun membantu dia, saat aku mulai turun dari dalam mobil, Kak Indah menahan tanganku.
"Kamu mau ke mana, Anna."
"Aku mau temani Pak Galih, saat ia tengah mengecek ke adan mesin. Takut jika ...."
Belum perkataanku selsai semua, Kak Indah kini tersenyum dengan usilnya.
"Cie, cie yang tengah merasakan jatuh cinta."
Memukul bahu sang kakak, " kakak ini ngaco ya, aku baru saja merasakan perceraian, tapi kakak malah menjodoh jodohkan aku dengan Pak Galih."
Kak Indah hanya terasenyum kecil, di saat aku turun dari dalam mobil." Jangain anak anakku kak, awas kalau mereka sampai kabur."
Mendekat ke arah Pak Galih, sosok orang yang memakai baju hitam itu kini berdiri di belakang Pak Galih dengan memegang kayu besar yang sebentar lagi akan di layangkan pada punggung Pak Galih.
"Pak Galih. Awas."
__ADS_1
Brunggg ..... Suara itu terdengar keras.
"PaK Galih."