Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 172. Memikirkan ucapan sang nenek


__ADS_3

"Loh, loh Ibu kenapa? Kok malah menangis Apa Bapak salah bicara? Lelaki tua yang sekarang berada di kampung halamannya, tentulah merasa khawatir dengan sang istri yang tiba-tiba saja menangis."


"Ibu sudah capek, Pak. Ibu lelah Ibu pengen pulang ke kampung, sekarang juga."


"Ya sudah Ibu pulang saja sekarang, biar nanti bapak yang bayar ongkos Ibu dari kota ke sini."


Bu Sari mengusap pelan air mata yang terus berjatuhan mengenai kedua pipinya yang mengkerut. Setelah mendengar perkataan sang suami.


"Tapi Ibu kasihan terhadap Raka, dia kan anak semata wayang yang kita punya, mana tega Ibu meninggalkan dia di kota dan membekam di dalam penjara. Ibu ingin menyelamatkan dia."


kasih seorang ibu memang tidak memandang kejahatan seorang anak, dia selalu membela walau seorang anak melakukan kesalah.


Padahal, bukan hal yang baik. Jika membiarkan kebiasaan buruk anak di dukung, yang ada malah merugikan kedua orang tuanya.


Mendengus kesal, ia sedikit membentak istrinya agar tidak terlalu peduli dengan anak satu-satunya," sudahlah Bu percuma Ibu membantu dia, ibu itu sudah tua, sudah kelelahan terus-menerus membantu Raka. Hanya karena anak itu ingin terbebas dari dalam perjalanan. Semua hanya membuang-buang waktu, sia-sia saja. Sebaiknya Ibu cepat pulang ke kampung. Bapak tak tega melihat ibu terus-menerus diperbudak oleh Raka. "


Bu Sari malah tak mendengarkan nasehat sang suami setelah meluapkan kesedihannya.


Dengan lancangnya seorang wanita tua itu mematikan sambungan telepon yang masih terhubung dengan lelaki yang menjadi suaminya itu.


Mematikan ponsel Bu Sari, menatap ke arah kaca mobil, terlihat raut wajahnya sudah basah dengan air mata, karena menahan rasa sesak dan juga kelelahan akibat memikirkan perkataan Raka yang terus menekannya.


Menarik napas mengeluarkan terasa sesak, itulah yang kini dirasakan Bu Sari.


"Aku harus bagaimana?"


Lelaki tua yang menjadi ayah kandung Raka, hanya bisa menangis meratapi kesedihan istrinya. Ia tak bisa berbuat apa-apa Karena sekarang dirinya masih berada di kampung halaman.


Mengepalkan kedua tangan, dari dulu anaknya tak pernah berubah, baru saja menyusahkan kedua orang tuanya. Padahal sudah bagus Raka menikah dengan Anna, karena wanita seperti anak adalah sosok wanita yang begitu baik.


Seorang ayah hanya bisa berpikir bahwa anaknya tergoda akan napsu sesaat, hingga menjerumuskannya pada penyesalan.


Lelaki tua itu mencoba mencari tabungannya untuk bisa menemui sang istri yang masih berada di kota, besok ia ingin sekali menjemput sang istri agar tidak diperbudak oleh anaknya sendiri. Walaupun akan ada perang mulut. Laki-laki tua itu akan memaksa sang istri untuk pulang dan tak memperdulikan anaknya yang tak pernah bersyukur akan kebaikan kedua orang tuanya dan juga istrinya.


Bu Sari sampai di kontrakannya, terlihat sekali ruangan yang begitu kecil dan membuat sesak saat seseorang melintas ke dalam rumahnya.

__ADS_1


*******


Sedangkan Farhan dan juga Galih yang sudah mengantarkan Ainun, mereka bergegas ingin menemui wanita tua yang menjadi nenek untuk anak-anaknya.


"Oh ya. saat kamu bertemu dengan Bu Sari kenapa kamu malah ketakutan Farhan, padahal dari awal-awal kamu begitu ceria dan dekat dengan orang tua ayah kamu Raka."


Farhan berusaha diam ia tak mau mengatakan kejujuran kepada ayahnya sendiri, karena ia tahu jika mengatakan semua itu, tentulah Ayahnya tidak akan mengijinkan lagi Farhan bertemu dengan sang nenek.


Namun kecurigaan yang semakin kuat dilihat oleh Galih, membuat lelaki berbadan kekar itu menekan Farhan untuk berkata jujur.


"Farhan, ayo katakan yang sejujurnya. Apa yang sudah kamu sembuyikan pada papah saat ini."


Anak remaja itu seperti anak kecil yang tengah di introgasi oleh sang papah dengan pertanyaan tanyaan, yang menekannya untuk berkata jujur.


"Ayo katakan."


Menarik napas Farhan berusaha menutupi semuanya, entah kenapa dengan anak itu tiba-tiba saja berubah drastis.


" Tidak ada yang Farhat sembunyikan kok pak itu hanya perasaan Papa saja mungkin."


Anak remaja berusia tujuh belas tahun itu ternyata tidak mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya, dan juga sang nenek yang membuat Galih benar-benar curiga.


Galih mulai membawa Farhan kembali ke rumah sakit untuk melihat keadaan sang istri, di dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, anak berusia 17 tahun itu tetap saja bungkam, tak ada percakapan yang ia lontarkan setelah Galih mekanya untuk berkata jujur.


Setelah sampai di rumah sakit, tatapan Indah terlihat menaruh kekesalan kepada Galih.


Tapi gali berusaha tak meladeni wanita yang menjadi kakak istrinya itu.


Ia tetap berjalan menuju ke ruangan sang istri, melihat keadaan Anna. Rasa rindu kini mengebu menjadi satu.


Anna tengah terbaring menatap layar ponsel, Galih mendekat dan bertanya pada sang istri," Anna. Kamu belum tidur.


Ana menampilkan senyuman dan juga menghilangkan kepala, lelaki berbadan kekar itu mendekat ke arah sang istri mengusap pelan rambut wanita yang sangat ia cintai.


Bibir yang terlihat sedikit tebal kini mencium kening sang istri, " Terima kasih kamu sudah mempercayai aku sebagai suami kamu."

__ADS_1


pelukan kini dilayangkan Galih, dalam keadaan Anna yang tengah terbaring." Apa ibu dan Ainun sudah di antarkan pulang?"


"Sudah."


"Syukur kalau begitu. Mana Farhan?"


"Di luar! Hanya saja ada sesuatu yang membuat aku merasa berbeda dari diri anak itu. Setelah mengantarkan neneknya sampai rumah."


"Berbeda, maksud kamu?"


"Dia menjadi sering diam, dan seperti memikirkan sebuah beban."


" Apa kamu sudah bertanya dengan Farhan secara langsung?"


Pertanyaan Ana membuat Galih menganggukkan kepala dengan menjawab!" sudah."


"Terus jawabanya?"


" Katannya tidak ada hal apa-apa!"


Ana berusaha berpikir positif jika anaknya itu tengah merasakan kelelahan, karena seharian mengantarkan Ainun dan juga sang nenek.


" kemungkinan Farhan itu kelelahan. Jadi ia hanya terlihat berbeda dari sebelumnya. sudah kamu jangan terlalu memikirkan anak itu dia kan sudah remaja."


Galih hanya bisa menjawab dengan kata ya saja setelah istrinya menenangkan perasaan yang tak biasa pada diri anaknya.


"Oh, ya. Besok aku akan memasukkan Ainun ke perusahaanku untuk dia bekerja dan bisa membiayai hidupnya. Apa kamu mengizinkanku Anna."


Tangan lembut sang istri kini memegang bahu suami, " aku yang terbaik untuk Ainun, aku mengizinkan kamu Untuk mempekerjakan dia di perusahaan kamu."


"Terima kasih."


Anna tersenyum kecil, ia tetap mengizinkan Ainun bisa menikmati hidupnya dengan membantu menepatkan pekerjaan di perusahaan Galih.


"Farhan."

__ADS_1


Anak remaja itu datang, dengan wajah muramnya. Terlihat sekali tak ada senyuman yang terukir dari raut wajah anaknya.


"Farhan sini, nak."


__ADS_2