Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 290


__ADS_3

"Tuhkan, malah di depan jendela lagi. Sini duduk, ibu sudah bawakan kipas angin buat kamu, biar enggak gerah."


Ucap wanita tua itu, membawa kipas angin sendiri ke dalam kamar calon menantunya.


Nita terkejut dengan perkataan mertuanya yang tiba-tiba saja datang," Loh ibu, nggak usah repot-repot."


"Nggak papa, sebentar lagi kan, kamu akan menjadi anak ibu seuntuhnya, jadi jangan kuatir ya," balas Bu Nira, mempelihatkan sifat aslinya, ia begitu baik.


Bu Nira memegang rambut panjang Nita, mengusap pelan memperlihatkan bertapa sayangnya, Nira pada Nita.


"Ya sudah cepat istirahat sana, kamu harus jaga kesehatan kamu."


Nita baru kali ini, mendapatkan sebuah perhatian dari sosok wanita yang menjadi mertuanya itu. Sudah lama sekali, membuat ia benar-benar Rindu.


"Apa boleh Nita memeluk ibu." Nita meminta izin kepada mertuanya, dia ingin sekali mendekap tubuh Sang mertua, memeluk erat seperti dirinya saat bersama Siti ibu kandungnya sendiri.


Bu Nira mengganggukan kepala, memperbolehkan calon menantunya memeluk dirinya.


Saat pelukan itu mendarat, Nita menangis terisak-isak, hatinya begitu rapuh.

__ADS_1


Bu Nira mendengar tangisan Nita, membuat ia berucap," jangan menangis lagi ya. Sekarang kan sudah ada Ibu."


Nita hanya menganggukkan kepala, beruntung sekali hidupnya bisa mempunyai mertua yang begitu baik hati.


Bu Nira kini berpamitan kepada Nita, untuk pergi beristirahat, "Ibu pamit mau tidur dulu ya."


"Iya bu."


Wanita tua itu pergi.


Sedangkan Nita saat itu hanya bisa memegang pipinya dan berkata." Apa ini sebuah mimpi."


********


Bu Suci hanya sendirian di ruangan Rumah sakit, ia terbangun dengan kepala yang tiba tiba terasa sakit. Melihat sekeliling ruangan, hanya ada suster dan penjaga polisi saja.


"Ternyata aku ada di rumah sakit."


Memijit kepala sedikit, tapi terasa perih, Bu Suci kini meraba. Seperti tertutup perban, mulutnya mengagah merasa ingin memanggil suster tapi tak bisa, mungkin karena belum setabil.

__ADS_1


Suster menyadari ada pergerakan pada pasien bu Suci, Suster itu kini langsung menghampiri pasien," Ibu sudah sadar, ibu mau apa?"


Bu Suci memberi kode lewat kedua mata, tangan meraba pada leher, suster langsung mengerti apa kode dari gerakannya itu, ia langsung mengambil gelas berisi air minum untuk diminumkan kepada Bu suci.


Meminum dengan sangat pelan, karena ada rasa sakit, pada leher Bu Suci.


"Pelan pelan bu," ucap sang suster. Bu Suci terlihat begitu gelisah, jika ada gangguan pada tenggorokannya.


Iya ingin bertanya, tapi tak kuasa. Karena rasa sakit pada kepala dan juga tenggorokkannya.


Bu Suci hanya diam, terbaring tak bisa berbuat apa apa. Memikirkan nasib Bu Ita, perasanya tak karuan ingin menanyakan pada suster atau polisi yang berjaga.


"Semua ini gara gara Marimar, alamat kedua orang tua angkat Lulu sudah di temukan. Tapi aku tidak bisa berbicara. Mengerakan jaripun terasa sulit." Gumam hati Bu Suci.


******


Sedangkan di dalam penjara Bu Ita tak bisa berbuat apa apa ia hanya menuruti perintah Marimar, karena rasa takut jika melawan Marimar akan membuat dirinya masuk ke rumah sakit.


"Saya harus berhati hati jika tidak, bisa bisa saya masuk ke rumah sakit seperti Bu Suci."

__ADS_1


Marimar tetap bersikap santai, duduk dengan menyandarkan punggungnya. " Entah apa yang sedang ia pikirkan."


__ADS_2