
******Pov Raka. *******
Berjalan menelusuri pinggir jalan, perutku kini terasa semakin lapar. Lemas, aku lupa dari kejadian itu aku belum makan apa apa. Aku berusaha mencari orang yang mau membantu untuk memberikan aku makanan.
"Aku benar benar seperti pengemis. "
Ponsel yang berada di saku celana masih tersimpan rapi, aku mulai mengambil dan menyalakan ponsel ibu. Pesan silih berdatangan.
(Mas, bagaimana sekarang kabarmu. Baik bukan? Aku berharap kabar kamu sekarang baik, karna aku tahu pasti diluar sana kamu menderita bukan begitu.)
Hah, sial. Kenapa si Anna ini bisa tahu penderitaanku saat ini. Benar benar buruk sekali hidupku.
Tring ....
Pesan datang lagi, Anna mengirim sebuah poto yang tak asing bagiku.
"Tunggu, ini poto Inem. Dari mana ia dapat poto itu. "
Aku penasaran, karna Anna mengirim poto ini. Hingga dimana aku mulai menelepon mantan istriku ini.
"Halo, Anna. Dari mana kamu dapat poto pelayan villa Ajeng? "
"Kenapa kamu bertanya seperti itu mas, bukanya kamu menikmati wanita itu! "
"Sialan, apa maksud kamu. Anna. "
Aku mendengar tawa menyenangkan dari sambungan telepon. "Cepat katakan. Jangan tertawa seperti orang bodoh. Anna. "
"Apa mas, kamu bilang aku orang bodoh? "
Tawa Anna kini mengema kembali.
"Apa semua rencana kamu. Tapi mana mungkin bisa? "
Aku masih tak mengerti dengan tawa menyenangkan yang keluar dari mulut mantan istriku ini.
"Jelas, Mas. Memangnya kenapa? Apa kamu kaget? "
Ahk, sial berarti Anna lebih pintar dari apa yang aku bayangkan. "Mas, semua tidak ada yang kebetulan. Aku sudah menyusun semuanya, walau pun aku ini hanya tamatan sederajat, asal kamu tahu otakku lebih encer dari pada kamu."
Aku memijik kepalaku yang terasa semakin pusing, setelah mendengar apa yang terjadi. Sepertinya dia sudah memasang sesuatu di mobil Ajeng, hingga dia tahu keberadaanku, pantas saja di setiap perjalanan ada yang aneh saat menuju villa. Aku benar benar bodoh.
"Halo mas. "
__ADS_1
Aku tak mau keberadaanku dilacak lagi oleh Anna, bisa bisanya aku masuk ke dalam penjara. Saat itulah aku mulai mematikkan ponselku dengan harapan tidak ada Anna membututiku saat ini.
Dengan terburu buru, menyimpan ponsel yang sudah aku matikan, kini berjalan lagi untuk segera pergi dari daerah yang entah aku tidak tahu ini ada dimana. Karna tidak ada rumah, hanya ada pepohonan besar dan hutan.
"Ajeng benar benar keterlaluan."
Kedua mataku terus waspada agar tidak ada orang yang mengikutiku saat ini.
"Mas Raka. "
Deg ....
Suara itu, aku mengenal suara itu. Kedua mata yang menunduk kini menatap ke arah suara yang aku dengar, " Anna. "
"Wah, wah. Setelah percakapan kita berdua di ponsel kamu matikan. Pada akhirnya kita bertemu lagi ya. Mas. " Anna melipatkan kedua tanganya, dengan sosok polisi yang berdiri di belakang tubuhnya saat ini.
"Anna. Kamu. "
Kedua mataku tentu saja membulat, begitupun dengan mulut yang mengagah. Kaget akan datanganya Anna yang tiba tiba ada di depanku.
"Sejak kapan kamu ada di sini. "
Ya Tuhan, padahal dari tadi aku tak melihat ada satu orang pun di daerah sini. Tapi sekarang? Mengusap kedua mata dengan punggung tangan. Berharap sosok Anna dengan kedua polisi menghilang begitu saja.
"Kenapa, Mas? Kamu kaget? "
Aku harus kabur dari sini, jika tidak kedua polisi itu pastinya akan menangkapku.
Dengan aba aba, tanpa memikirkan sesuatu. Saat itulah, aku mulai membalikkan badan dan berlari. Hingga burkkkk.
Tubuhku menabrak seseorang, yang ternyata polisi lagi. Aku mengira jika hanya ada dua polisi yang di bawa Anna. Tapi nyatanya ada banyak polisi yang menungguku saat ini.
"Wah, wah. Jangan kaya anak kecil kamu, mas. Main kabur begitu saja."
Bisikan Anna layangkan pada telinga kananku. Aku sedikit malu dan kesal saat Anna menyebutku seperti anak kecil.
Aku tak bisa melawan, tubuhku terlalu lemah karna mereka memperlihatkan pistol. Mengangkat tangan dengan tanda pasrah.
"Sudah pak, cepat tangkap saja dia. "
Pada akhirnya aku di sered masuk ke dalam mobil polisi, ingin menangis tapi percuma. " Emmakkkk. "
Anna, duduk di dekat sopir. Sedangkan aku berada di belakang dengan di tahan oleh kedua polisi. "Menyedihkan."
__ADS_1
Apa tidak ada cara lain untuk kabur, aku berusaha mencari cara agar bisa mengelabui kedua polisi yang memegang tanganku.
"Pak, Polisi saya ingin pipis. "
Anna yang mendengar aku meminta izin, kini berbicara dengan tegas. " Jangan berikan dia izin pak. Dia hanya berpura pura. "
"Anna, come on. I'm not joking. Memang kamu mau aku pipis di celana dan mengeluarkan bau tak sedap pada mobil polisi ini. "
Aku berusaha menyakini mantan istriku ini.
" Sorry, I won't drop you off here. Jadi tahanlah jika kamu memang ingin pipis. Jika tak tahan, pipis lah di mobil ini. Biar aku yang bayar cuci mobil polisi ini. "
Anna bisa saja menimpal alasanku.
Hingga beberapa menit kemudian mobil yang mengantarkanku sudah sampai. Ini lah tanda tanda aku akan membusuk di penjara dari hari ini.
"Bagaimana mas. Serukan. " Anna membalikkan wajah dengan berkata seperti itu. Tentu saja membuat aku semakin kesal dan murka. Ingin rasanya kurusak mukanya yang sekarang menjadi gelowing itu.
Saat turun dari dalam mobil, aku melihat ibu dan bapak ternyata ada di depan kantor polisi.
"Ibu, bapak. "
Mereka menghampiriku, memeluk tubuh ini.
"Raka, kenapa kamu sampai tertangkap seperti ini. Bukanya ibu pernah bilang hati hati. " Bisikan ibu membuat aku tentu saja bernapas berat.
"Aku sudah melakukan semuanya, bu. Tapi Anna begitu pintar dia sekarang lebih hebat dari apa yang aku bayangkan. "
"Ibu akan meminta pada Anna, untuk membebaskanmu. "
Wanita tua yang melahirkanku mulai berniat menghampiri Anna. Tapi aku berusaha menahan. " Jangan bu. "
Wajah tua ibuku terlihat sedih, kedua matanya begitu sayu. " Kenapa nak? "
"Sudahlah bu, percuma. Anna sudah kesal padaku, ia tak mungkin membebasakanku. "
Kedua orang tuaku hanya menundukkan pandangan, dan bapak mengusap pelan punggungku dengan berkata. " Ini semua ganjaran untuk kamu, Raka. Bapak berharap setelah kamu mendapatkan semua ini, kamu akan berubah menjadi orang yang lebih baik lagi dan sadar diri akan kesalahanmu. "
Ibu yang memang tak suka dengan nasehat bapak, selalu memarahi bapak membentak bapak pada saat itu juga.
Pak Polisi menyeredku untuk segera meminta keterangan dengan apa yang sudah aku lakukan.
Aku sudah membayangkan bagaimana nasibku kedepanya. Hanya dengan melihat penjarapun aku sudah tak ada tujuan lagi.
__ADS_1
Seketika aku teringat dengan Radit dan Lina. Kedua anakku?
Rasa sesal mulai menyadarkan aku secara perlahan