Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 44 Ke kantor polisi


__ADS_3

Di saat aku meneriaki Pak Galih, lelaki berkumis tipis itu langsung menghindar. Membuat kayu besar, menimpa mobil.


Panik dengan orang yang memakai baju serba hitam itu, aku menyuruh Kak Indah menutup pintu mobil, sedangkan Pak Galih begitu tangkas, menarik baju sosok orang berperwakan gendut.


"Anna. kamu masuk ke dalam mobil."


Aku mengelengkan kepala, berusaha membantu Pak Galih, mengambil batu besar.


"Anna, apa yang kamu lakukan." Teriak Kak Indah.


Pak Galih masih menahan orang itu, sedangkan aku dengan sigap memukul kepalanya membuat sosok orang memakai baju hitam jatuh pingsan.


"Pak Galih, tidak kenapa-kenapakan?"


Napas Pak Galih terdengar terengah engah karna mungkin menahan sosok gendut itu.


"Sepertinya dia pingsan."


Kak Indah ke luar dari dalam mobil," Kalian baik baik saja?"


"Kami baik baik saja, Kak!"


Perlahan Pak Galih dan aku yang penasaran, mulai membuka topeng yang melekat pada wajah orang berpakaian hitam itu.


"Bu Sumyati."


Kedua mataku membulat, kak Indah mengerutkan dahi dan bertanya." kamu kenal dengan orang ini, Anna?"


"Iya kak, dia tetanggaku yang baik. Selalu membantuku di saat ibu mertua dan Bu Nunik menghinaku! Tapi kenapa dia melakukan hal seperti ini, kenapa?"


Aku terduduk di atas tanah, masih tak percaya dengan apa yang kulihat. Apa maksud tujuan Bu Sumyati selama ini? Apa salahku?


"Anna, sebaiknya kita bawa dia ke kantor polisi. Untuk menjelaskan semuanya. Apa maksud dia melakukan kejahatan, sampai dia meneror kamu?"


Aku hanya menganggukan kepala, menurut dengan apa yang dikatakan Pak Galih, saat itulah kami membopong tubuh Bu Sumyati untuk masuk ke dalam mobil. Membawa dia ke kantor polisi.


Hingga dimana.


Dor.


Itu suara tembakan, dari mana asalnya." Anna, cepat kita masuk ke dalam mobil, sebelum tembakan pistol itu membunuh kita di sini."


Dengan tergesa gesa, kami naik ke dalam mobil. Setelah memasukkan Bu Sumyati terlebih dahulu, aku dan Kak Indah seperti dalam bencana besar.


"Sepertinya Bu Sumyati tidak sendirian."


Pak Galih menyalahkan mesin mobil, hingga peluru menembus kaca mobil.

__ADS_1


Aku berteriak, menyuruh semua yang berada dalam mobil menunduk. Kepalaku pusing seperti mengigat sesuatu.


Pak Galih menancapkan gas mobil untuk segera melaju jauh dari jalanan sepi yang hampir menewaskan kami semua.


Mobil berjalan dengan kecepatan tinggi, kami bebas dari tembakan tembakan peluru mematikan.


"Aku heran dengan kamu Anna, kenapa kamu bisa begitu banyak mempunyai musuh di sekeliling kamu dan Bu Sumyati ini, kenapa bisa menyerang kita di jalanan?" Pertanyaan Kak Indah membuat aku memijit kepalaku.


"Entahlah kak, aku tak mengerti. Kenapa mereka jahat kepadaku. Apalagi Bu Sumyati, padahal aku tidak pernah bertengkar dengannya."


"Sudah sebaiknya kita tak perlu mengigat kejadian tadi, itu hanya kebetulan saja. Mungkin ada dendam dari mereka yang tak diingat Anna, biarkan Anna tidak banyak berpikir. Sepertinya ia terlihat tertekan." Ucap Pak Galih pada Kak Indah.


Aku hanya fokus, pada wajah Bu Sumyati yang tidak aku mengerti. Kenapa wanita tua yang menjadi tetangga dan pelindungku tega melakukan semua ini?


Apa tujuan Bu Sumyati sebenarnya?


Perjalanan menuju kantor polisi kini sudah sampai.


Bu Sumyati tiba tiba terbangun, aku melihat darah sedikit menetes pada kepalanya. Ia meronta ronta ingin terbebas dari dalam mobil.


"Lepaskan aku."


Di dalam mobil Lulu menangis karna teriakan Bu Sumyati. Pak Galih turun dan membuka pintu samping mobil.


Bu Sumyati di tarik paksa, untuk masuk ke kantor polisi," Ayo cepat sini."


Para polisi ikut membantu membawa Bu Sumyati yang terus berteriak, ingin dibebaskan.


"Ayo, Anna."


Kak Indah menarik tanganku, untuk keluar dari dalam mobil.


"Farhan, Radit. Kalian jagain Lulu ya di dalam mobil, kalau ada orang yang enggak di kenal jangan buka pintu mobil, oke."


Mereka berdua langsung menganggukan kepala, menunjukkan jempol tangan, mengerti apa yang dikatakan Kak Indah.


Sesaat menarik tangan kananku, kak Indah tiba tiba menyuruhku untuk melangkah mundur. Seperti melihat sesuatu yang membuat dirinya kaget.


"Ada ala sih kak, Pak Galih sudah duluan loh."


Kak Indah menempelkan jari tanganya, pada bibirku." Diam dulu, Anna. Coba kamu lihat ke sana?"


Kak Indah menunjuk pada wanita muda yang berjalan bersama laki laki botak." Loh, itukan Siren! Ngapain dia ada di kantor polisi. Kemana Mas Danu?"


"Justru itu, kakak juga bingung. Ngapain coba si Siren datang ke kantor polisi?"


Aku berjalan dan berkata," coba aku temui dia."

__ADS_1


Kak Indah malah menarik kerah bajukku dan berkata," sebaiknya jangan. Kakak malas meladeni dia."


Aku memajukkan bibir bawahku dan membalas," alah bilang aja kakak takut sama dia."


Wanita berbola mata coklat itu kini memukul kepalaku, "Kalau ngomong itu sembarangan."


"Ya sudah, ayo kita temui dia. Bukanya kakak mau mengungkapkan kebenaran tentang Mas Danu?"


"Tapi."


Aku menarik tangan Kak Indah yang banyak berpikir untuk menghajar pelakor muda seperti Siren.


"Anna."


Hingga dimana kami berhadapan langsung dengan pelakor muda seperti Siren.


"Hai, Siren."


"Anna?" Wanita muda dengan rambut panjangnya yang terurai, terkejut melihat sapaanku.


"Baru kemarin ya kita ketemu. Eeh sekarang ketemu lagi. Oh ya, gimana kandunganya. Sehat, aman, sejahterakah?"


Siren terlihat ragu menjawab pertanyaanku, ia tiba tiba melepaskan pegangan tanganya yang memegang lelaki botak di sampingnya.


"Waw, siapa dia? kemana Mas Danu. Kok enggak ikut. Oh ya apa anak dalam kandunganmu itu anak dia."


Kedua mata Siren membulat setelah mendengar sindiran dari mulutku.


"Apa maksud kamu, Anna?"


"Uups." Aku menutup mulutku dan berkata lagi." Sepertinya aku salah ngomong. Atau telingamu yang butuh di korek agar tidak BUDEK."


Sepertinya Siren terpancing dengan perkataanku, ia mengusap pelan dadanya. Menahan kemarahan pada hatinya.


"Apa maksud kamu mengatakan semua itu?"


"Tidak ada maksud apa apa, hanya nanya doank!"


Kak Indah menyenggolku, menyuruhku untuk memberhentikan perdebatan.


Siren tiba tiba berkacak pinggang, sembari menunjuk jari tanganya pada wajahku." Oh aku tahu, kamu di suruh kakakmu itu untuk menyerangku. Karna kamu tahukan aku tidak mandul seperti kakak kamu, jadi kakak kamu ini butuh pembelaan. Ya aku sudah paham, biasanya orang teraniaya selalu seperti itu."


Kak Indah kini mulai mengeluarkan taringnya untuk melawan wanita muda berdarah pelakor seperti Siren ini, tangan Kak Indah mulai menghempaskan jari telunjuk Siren," janga ucapan kamu. BOCIL."


"Apa kamu bilang, aku bocil. What! kamu gila ya. Dasar emak emak."


Aku dan kak Indah mentertawakan kemarahan Siren dan berkata," biasa kalau bocil gitu, enggak terima di perlakukan tidak baik."

__ADS_1


Siren berdecak kecal,"ck."


Hingga dimana kak Indah meleparkan map berwarna hijau muda yang ia selalu bawa dalam tasnya.


__ADS_2