
Galih tetap membela Nita, lelaki berbadan kekar itu menghentikan aksi para ibu-ibu yang keterlaluan dan suka seenaknya, memfitnah tanpa memperlihatkan bukti yang sejujurnya.
Bu Nira melihat pemandangan itu, kini menyuruh Saiful untuk memberikan sebuah bukti bahwa yang bersalah itu bukan Nita.
Pas sekali di saat Saiful berada di rumah Nita, Bu Nira menyusul dan melihat pemandangan di mana Nita menyiram rambut dan tubuh Bu Suci, ketika wanita tua itu tengah mengintip di balik jendela luar rumah Nita.
"Kamu cepat kirim bukti ini pada Nita, " ucap sang ibunda menyuruh Saiful yang melihat calon istrinya dari kejauhan, diperlakukan tidak baik oleh para ibu-ibu.
"Baik bu," balas Saiful, ia mengambil ponsel pada saku celana, menatap layar ponselnya untuk segera mengirim sebuah video yang membuktikan bahwa Nita tidak bersalah.
Video sudah berhasil terkirim. Tinggal menunggu respon para ibu-ibu, apa jadinya jika yang bersalah itu adalah Bu suci. Apa mereka akan malu pada diri mereka sendiri, atau malah semakin menjadi jadi.
Pas sekali Nita tengah memegang ponselnya, ia melihat isi pesan dari calon suaminya." Sebuah Video."
Nita mulai mengunduh video kiriman dari calon suaminya itu, iya sangat penasaran sekali. Video apa yang sudah dikirim Saiful kepada dirinya.
Selasai mengguduh.
Akhirnya Nita mempunyai bukti yang sangat jelas, di mana Anna juga melihat rekaman video itu. Nita menatap sekilas ke arah Anna, dimana wanita berbulu mata lentik itu memberi kode untuk segera memperlihatkan video yang dikirim Saiful.
"Saya punya bukti jika saya itu tidak bersalah, kalian bisa lihat ini."
Layar ponsel sengaja Nita perbesar, terlihat Bu Suci tengah mengintip dibalik jendela rumah Nita.
"Coba lihat ini. "
Para ibu ibu di kampung melihat rekaman video yang diperlihatkan oleh Nita, dimana mereka kini merasa malu akan menuruti perkataan Bu Suci.
"Sekarang kalian percaya kan kalau aku ini tidak tahu jika di balik jendela ada Bu Suci, kalau pun tahu, mungkin aku tidak akan membuang teh panas itu."
Para ibu-ibu hanya tersenyum sinis, di mana Bu Suci sudah pergi, terlihat sekali mereka malu untuk meminta maaf kepada Nita.
Pergi begitu saja.
"Dasar ibu ibu tidak tahu diri."
__ADS_1
Gerutu hati Anna, merasa kesal dengan tingkah para ibu ibu di kampung.
"Nita, kamu yang sabar ya."
Anna berusaha membuat Nita selalu kuat menjalani hari harinya.
"Iya Bu Anna, Nita selalu sabar dan sudah terbiasa dengan mereka yang selalu begitu."
"Syukurlah, saya nggak nyangka masih ada orang kaya gitu."
"Sudah nggak papa, mungkin orang itu tak dengan Nita. Ya jadinya mereka seperti itu."
Anna mengingat masa lalunya, ia juga pernah ada di posisi seperti itu. Di musuhi para ibu ibu di kampung, apalagi mertuanya yang dulu tak menerima Anna.
Terkadang jika Anna mengigat masa lalu, selalu merasa hatinya sakit, dan tak bisa berbuat apa apa. Tapi sekarang ia bersyukur sudah memiliki suami baik walau Galih anak yatim piatu.
Mereka mulai masuk ke dalam rumah, terlihat Nita lebih ceria dari sebelumnya. Entah karena sudah membuat para ibu ibu malu. Anna tersenyum lebar, melihat Nita bahagia.
Walau ada satu kesedihan yang tak bisa lepas dari ingatannya, yaitu kehilangan Lulu.
"Kamu baik baik sajakan, sayang?" tanya Galih, merasa kuatir dengan istrinya, apalagi dengan kandungannya yang masih muda.
Suara perut terdengar keroncongan, membuat Galing mengerut dahinya," Kamu lapar, sayang."
Karena kasus Lulu, Anna lupa mengisi perutnya, begitupun dengan Galih. Hingga aroma wangi masakan tercium dari dapur, perut Ana semakin terdengar keroncongan.
Ia berdiri dan beranjak pergi mengikuti bau wangi masakan yang tercium begitu menyengat, membuat perut terasa ingin segera diisi.
"Wangi sekali."
Ternyata Nita tengah memasak sendirian di dapur, ia menyediakan beberapa makanan dan juga sayuran di atas meja yang menggugah selera.
"Nita, kamu masak."
Nita mengganggukan kepala, menyuruh Anna untuk cepat duduk begitupun dengan Galih.
__ADS_1
"Ayo Bu Anna duduk, Pak Galih."
Semua masakan sudah tersedia di atas meja, tinggal memakannya.
"Lulu, ayo makan sayang."
Nita sempat lupa, jika Lulu tidak ada di rumahnya. Semua yang berada di meja makan itu, sangatlah terkejut dengan teriakan Nita. Apalagi Anna yang benar-benar merindukan anak ketiganya itu.
"Nita, apa kamu lupa?" Tanya Galih, di mana Nita yang biasa sibuk dan menyediakan makanan untuk Lulu, langsung memukul pelan jidatnya, ia melihat ke arah Anna, wanita berbulu mata lentik itu tengah bersedih, sembari menundukkan pandangan.
Nita benar benar menyesali teriakannya saat memanggil Lulu yang tak ditemukan, " Bu Ana, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku benar-benar lupa karena terbiasa dengan Lulu yang ada di rumah. aku jadi seperti ini .... "
Ana berusaha menyekah air matanya agar tidak turun ke dasar pipi, ia memegang tangan wanita yang terlihat gelisah karena salah berucap karena memanggil Lulu.
Senyuman terlukis dari bibir Anna, terlihat Ibu beranak empat itu berusaha tegar dan tak mempelihatkan kesedihannya, ia tahu jika suatu hari nanti akan bertemu lagi dengan Lulu.
Bagaimanpun caranya, dimanapun tempatnya. Di saat keadaan Lulu sehat dan bahagia.
"Sudah kamu tak usah meminta maaf seperti itu. Aku juga sebagai seorang ibu merasakan hal yang sama seperti kamu."
Galih berusaha mengalihkan suasana agar tidak ada kesedihan terlihat di meja makan," Ya sudah cepat kita makan sepertinya masakan Nita itu enak ya. "
"Ya Ayo."
Anna dan yang lainnya kini memakan masakan Nita dengan begitulah lahap.
"Wah, masakan kamu benar benar enak Nita."
Pujian terlontar dari mulut Anna, Nita sangat senang dengan pujian yang dilontrkan ibunda Lulu. Ia tersenyum dan berkata." Terima kasih atas pujianya."
"Yang dikatakan istriku benar, masakan kamu ini benar-benar enak sekali, beruntung sekali lelaki yang akan mendapatkan kamu menjadikan kamu seorang istri."
Pujian kini terlontar kembali dari mulut Galih, mereka sengaja mengeluarkan suasana bahagia, agar tidak larut dalam kesedihan karena memikirkan Lulu yang belum ditemukan.
Tawa dalam kebohongan adalah sesuatu hal yang bisa membuat seseorang tidak terlalu bersedih.
__ADS_1
Nita melihat kursi yang selalu diduduki oleh Lulu, hatinya begitu sakit ketika Lulu tidak ada di sampingnya, Nita mengingat senyuman dan juga perkataan Lulu yang menggemaskan.
"Lulu, apa kamu baik baik saja di sana. Kak Nita dan kedua orang tuamu sangat merindukanmu. Berharap jika kamu ada di sini, ikut berkumpul." Gumam hati Nita, mengusap pelan air matanya tanpa kedua orang tua Lulu sadari.