
Bu Suci sudah diseret paksa oleh para polisi, sedangkan ibu-ibu hanya bisa diam tanpa berucap satu patah kata pun. Karena rasa takut mereka yang tak bisa melawan.
Galih menatap tajam ke arah para ibu-ibu, di mana mereka yang menundukkan wajah tanpa menatap dan melawan sedikitpun.
Anna dilarikan ke rumah sakit, karena kondisinya yang lemah.
Sedangkan Bu Nira hanya bisa berdoa untuk keselamatan anaknya, pemadam kebakaran sudah menyemprotkan air begitu banyak. Tapi tidak ada tanda keluarnya Saiful dan juga Nita.
"Nak, kenapa kalian belum keluar juga, apa sesuatu terjadi dengan kalian berdua."
Perasaan sudah tak karuan, hati dan pikiran tak bisa tenang, mengigat anak semata wayangnya itu. Dua puluh menit berlalu, api malah semakin besar, hingga dimana Saiful akhirnya bisa keluar dengan beberapa luka akibat terkena percikan api.
Membopong tubuh Aira dibantu oleh petugas pemadam kebakaran, Bu Nira berlari menghampiri Saiful, terlihat anak laki-lakinya langsung terduduk lesu.
Bu Nira berusaha menahan tubuh sang anak, memeluk erat seraya mencium kepala Saiful," akhirnya kamu selamat, nak."
Nita dengan cepat dibawa menuju mobil ambulans. Terlihat pada badannya begitu banyak luka bakar, Saiful dengan tubuh lemasnya ingin menemani sang kekasih.
"Kamu mau ke mana?"
"Aku harus ikut ke rumah sakit!"
Berjalan sampai akhirnya Saiful terjatuh, tubuhnya yang lemas membuat ia pingsan seketika.
"Nak, bangun."
Kedua Insan itu kini langsung dilarikan ke rumah sakit, Bu Nira menaiki mobil ambulans untuk menemani Saiful dan juga Nita.
*******
Galih masih menemani sang istri yang belum sadar juga, memegang tangan dan hanya membisikkan sesuatu perkataan untuk membuat sang istri bangun dari pingsan.
Perjuangan mencari Lulu sangatlah berat, sampai nyawa hampir menjadi taruhan," bertahanlah, Anna."
Bu Suci menaiki mobil polisi untuk segera dimintai keterangan, ia menatap kesedihan dan juga tangisan pada Bu Nira begitupun dengan Galih.
Ada rasa puas, karena sudah membuat orang yang ia benci celaka. Bu Suci tertawa senang dalam hatinya, melihat keponakannya sudah terkulai lemah dan mendapati banyak luka bekas percikan api.
Bu Suci berharap jika keponakannya itu segera mati menyusul kedua orang tua," Rencanaku sudah sesuai yang aku inginkan." Gumam hati Bu suci.
Sampai di rumah sakit.
Napas Anna tiba-tiba tak stabil, Galih sempat ketakutan. " Anna bertahanlah."
Wanita berburu mata lentik itu langsung ditangani oleh dokter di rumah sakit, karena kondisinya yang begitu parah.
__ADS_1
Galih hanya bisa pasrah dan duduk, menunggu hasil pemeriksaan dari dokter.
Galih baru melihat Nita terselamatkan, hanya saja badannya begitu penuh luka bakar.
"Bu Nira, Nita dan Saiful sudah di temukan. Syukurlah."
Bu Nira hanya menganggukkan kepala, menjawab perkataan Galih, melihat dari gerak-geriknya begitu gelisah.
"Bu Nira. "
"Ya."
"Duduk dulu. Tenangkan dulu hati ibu, saya yakin Nita dan Saiful akan baik-baik saja."
Mendengar Galih berucap, sedikit menenangkan hati dan perasaan Bu Nira yang tak karuan.
Ia kini duduk di samping Galih, dengan terus berdoa meminta pertolongan agar Nita dan juga Saiful sadar.
"Bagaimana keadaan istrimu, apa dia baik-baik saja?"
pertanyaan Bu Nira, malah membuat hati Galih sedih. Lelaki berbadan kekar itu kini menjawab dengan raut wajah lesunya," dari tadi dokter menangani istri saya belum juga selesai, saya juga sebenarnya karena istri saya tengah mengandung."
Bu Nira memberikan semangat kepada lelaki yang duduk di sampingnya," Saya berharap jika istri kamu sembuh dan sehat kembali tak ada masalah yang serius."
Hingga dua puluh menit berlalu, sang dokter keluar dari ruangan Anna.
Dokter itu kini memanggil Galih, untuk menjelaskan kondisi Anna.
"Saya permisi dulu mau menemui dokter."
Galih selalu bertingkah sopan dengan siapapun.
Ia kini menghampiri dokter yang akan menjelaskan kondisi istrinya," bisa ikut ke ruangan saya?"
Galih menganggukan kepala dan kini mengikuti langkah kaki sang dokter, ada rasa tak enak hati. Ia takut terjadi apa-apa dengan Anna dan calon bayinya.
Setelah selesai menuju ke ruangan dokter, Galih mulai mempersiapkan diri untuk mendengar perkataan dokter.
Lelaki tua berprofesi dokter itu, menyuruh Galih untuk duduk. di mana ia akan menjelaskan semuanya.
"Dok, bagaimana dengan keadaan istri saya, apa dia baik-baik saja kan, dok."
Dokter belum menjelaskan, Galih sudah banyak bertanya.
"Anda tenang saja, istri bapak tidak kenapa-napa."
__ADS_1
Mengusap pelan dada bidangnya, Galih kini merasa tenang, jika Ana tidak kenapa-napa.
"Terus dengan bayi yang dikandung istri saya gimana keadaannya, dok. Apa bayi itu juga baik-baik saja?"
"Maafkan saya, kami sudah berusaha keras menyelamatkan bayi dalam kandungan istri bapak, tapi nyatanya bayi itu tidak tertolong. Istri Bapak mengalami keguguran."
Deg .....
Siapa yang tak sakit hati setelah mendengar penjelasan dari dokter, jika bayi di dalam perut Anna tidak bisa diselamatkan.
"Apa tidak ada hal lain."
"Maafkan kami, pak."
Kecewa yang kini dirasakan Galih, ia hanya bisa menahan tangis, ketika mendengar hal menyakitkan yang dijelaskan oleh dokter.
Dokter langsung menyuruh Galih untuk menandatangani surat pemberitahuan untuk membersihkan rahim sang istri.
Mau tidak mau semua sudah terlambat, Galih harus bisa menerima keadaan dan juga takdir, jika bayi dalam kandungan Anna tidak bisa diselamatkan.
Galih langsung menata tangani lembaran surat yang diberikan oleh dokter, ia mencoba untuk tetap ikhlas menerima semuanya.
Galih keluar dari ruangan dokter dengan berjalan gontai, merasa kehidupannya seketika hilang. Mendengar kabar menyedihkan, jika Anna keguguran.
Bu Nira melihat keadaan Galih, langsung membantu Galih untuk berjalan dan kini duduk.
" Bagaimana keadaan Anna, apa tidak ada sesuatu yang serius?"
Pertanyaan Bu Nira, mulai dibalas oleh Galih," keadaan istriku baik-baik saja, hanya saja .... "
Galih seakan enggan meneruskan perkataannya, kedua mata tampak berkaca-kaca. Mencoba menahan kesedihan," hanya kenapa?"
Dengan bibir bergetar dan rasa sedihnya, Galih mulai mengungkapkan semuanya," sebenarnya bayi dalam kandungan istri saya tidak bisa diselamatkan."
Sontak Bu Nira begitu terkejut, dengan jawaban yang terlontar dari mulut Galih, sebagai seorang ibu yang mempunyai anak satu. Pastinya yang merasakan hal yang sama, Sakit hati kecewa dan juga sedih. "
Apa lagi sekarang Dokter. Tengah menangani Nita dan juga Saiful, di mana Bu Nira juga ketakutan. Hal tak terduga terjadi pada Nita.
Bu Nira mendekat dan berkata lagi," kamu harus tetap kuat ya Galih."
*******
Lulu sudah sampai di rumah barunya, hatinya merasa tak karuan mengingat sang ibunda.
kedua orang tua angkat Lulu menunjukkan sebuah kamar yang begitu cantik, " Lulu sayang, ini kamar untukmu ya nak."
__ADS_1