
"Galih, kenapa kamu tega." Teriak Ainun, Indah hanya menatap tanpa rasa iba sedikit pun, ia kesal dengan hadirnya mantan istri Galih. Yang dimana Indah menyangka jika adiknya masuk ke rumah sakit karena kedatangan Ainun dalam biduk rumah tangga yang tengah dijalani sang adik.
Satpam menarik tangan Ainun, sampai dimana wanita itu menginjak kaki sang satpam dengan berkata. " saya bisa pergi sendiri, jangan pegang tangan saya."
Ainun merapikan baju dan juga kerudungnya yang terlihat bengkok, ia menatap ke arah Galih dan berkata," aku tunggu nanti kamu di rumah."
Menunjuk dengan jari tangan, memperlihatkan kekesalan karena Galih sudah lancang mengusir Ainun. Aplagi wanita itu sengaja datang dengan memakai baju rapi, agar tidak di pandang rendah orang.
Ainun kini pergi, setelah memarahi Galih terang terangan di depan Indah, seakan tidak ada rasa malu sedikitpun. Lelaki berbadan kekar dengan tubuhnya yang tegap, hanya bisa mengelus dada
Melihat kelakuan Ainun makin ke sini semakin tak tahu diri. Di kasihani malah melunjak, dibaiki malah semakin bertingkah.
Indah melipatkan kedua tangan, menatap kearah Galih dengan tatapan tajamnya.
"Kenapa bisa wanita itu ada di rumahmu, Galih. Bukanya kamu ini sudah mempunyai istri, tapi kenapa kamu biarkan dia menumpang di rumah kamu, cepat jelaskan." Nada tinggi Indah tampilkan didepan Galih, gemuruh dada kian meronta ronta, ingin sekali mecabik cabik wajahnya yang sudah berani membiarkan mantan istri tinggal dengan Anna yang jelas istri sah Galih.
"Indah, semua tidak seperti apa yang kamu bayangkan. Aku terpaksa membawa ke rumah karena dia mengalami depresi berat dan hidupnya hanya sebatang kara." Pembelaan dengan mencoba menjelaskan, apa adanya di depan Indah, ia tak mau kesalah pahaman yang tejadi malah menyudutkan bahwa dari kejadian ini Ainun yang bersalah. Karena bagaimana pun dia juga korban.
"Mau membela mantan istrimu itu, coba kamu pikir Galih, mana ada wanita depresi bisa lundat lendot sok kecentilan pada kamu. Wanita depresi itu hanya bisa diam di rumah cegegesan mikirin hidupnya."
Indah berusaha menyadarkan suami adiknya, jika Ainun terlihat sekali seperti orang yang berpura pura dan lagi tampilanya pun seperti orang normal pada umumnya.
"Aku tidak membela dia, hanya saja .... "
__ADS_1
Deni tiba tiba saja datang, mengagetkan Indah dan juga Galih, memperlihatkan apa yang sudah ia bawa." Kalian lihat ini apa?"
"Makanan." Indah membalas dengan wajah juteknya, memperlihatkan sesuatu yang sudah terjadi baru saja.
"Kamu kenapa sayang? Kok wajahnya kaya nggak senang begitu?" Pertanyaan Deni membuat Indah melirik ke arah Galih dengan memperlihatkan wajah kesal.
Galih hanya diam, seakan semua tak terjadi apa apa. Hanya rasa penasaran yang kini menyelimuti hati Deni, karena memang tadi ia melihat sosok seorang wanita berhijab menyebut nama Galih.
Wajah wanita berhijab itu seakan tak asing di mata Deni, ia mengigatkan tentang sosok wanita yang selalu mencari keberadaan kakaknya di waktu Daniel berada pada masa remaja.
Hanya saja Deni tidak terlalu jelas melihat wajah wanita itu, hanya sekilas dan tak pernah ikut campur, karena dirinya yang masih kecil dan tak tahu apa-apa.
Deni menarik tangan sang istri untuk duduk, memberikan minuman dan juga makanan yang baru saja ia beli di mini market terdekat.
"Ayo minum."
Galih merasa malu dan semakin bersalah dengan datangnya Ainun, " Kenapa bisa Ainun datang ke sini. Dari mana dia tahu alamat rumah sakit ini?" Mengerutu kesal, Galih mengigat apa yang dikatakan Indah jika Ainun seperti orang normal pada umumnya.
Masih terdengar suara ribut ribut di depan rumah sakit, apalagi suara ributan itu seperti suara Ainun yang belum pergi juga dari rumah sakit.
Galih terpaksa mendekat kearah sumber suara, melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Indah yang melihat kepergian Galih kini menyusul, membuat Deni yang membuka roti untuk disuapkan ke mulut Indah, mendadak terdiam saat istrinya pergi begitu saja.
__ADS_1
"Loh Indah, kamu mau pergi kemana?"
Teriakan Deni memanggil sang istri, tak membuat Indah menghentikan langkah kakinya, wanita bermata sipit itu terus berlari mengejar Galih yang keluar dari rumah sakit.
Ternyata Galih tengah menyusul Ainun yang berada di luar rumah sakit, wanita berhijab biru, bertengkar dengan salah satu satpam di rumah sakit, yang di mana ia tidak mau diusir dan dikatakan sebagai pengganggu di rumah sakit itu.
Galih mengacak rambutnya, seakan frustasi dengan tingkah Ainun yang semakin hari semakin keterlaluan. Padahal sudah jelas-jelas Galih mengusirnya terang-terangan tapi Ainun tetap bersikuku ingin masuk ke dalam rumah sakit.
Cobaan hidup yang dijalani Galih, terasa berat sekali, sang istri masuk ke rumah sakit dan kini mantan istrinya datang membuat keributan. Apa yang harus dilakukan Galih agar semuanya yetap tenang.
Lelaki bermata bulat dengan hidungnya yang mancung kini menarik paksa tangan Ainun, untuk menjauh dari debatan satpam. Wanita berhijab orange itu malah memarahi Galih karena menghalangi dirinya.
"Lepaskan tanganmu ini Galih, aku ingin memberi pelajaran pada satpam tidak tahu diri."
Mendengar perkataan yang terlontar dari mulut Indah. Pada saat itulah Galih membentak ucapan mantan istrinya dengan berkata, "yang harus diberi pelajaran itu kamu, ngapain kamu datang ke sini Ainun. Sudah jelas kamu ini lagi sakit dan kamu itu masih dalam pengobatan di rumah. Dan lagi kenapa kamu bisa datang ke sini Siapa yang memberitahu kamu. Aku ada di sini?"
Terlihat sekali wajah Ainun yang tak mau mengaku. Kenapa dirinya tahu keberadaan Galih dan juga Anna.
"Ayo jawab, kenapa kamu malah diam saja saat aku bertanya kepada kamu?"
Indah melihat semua dengan mata kepalanya sendiri tak tinggal diam, karena kekesalan yang menyelimuti hati, pada akhirnya Indah menjamak hijab yang dikenakan Ainun.
Tak segan-segan Indah mengambil rambut wanita berhijab orange itu, ia mencekram rambut dan memutarkan hingga teriakan Ainunbegitu terdengar menyakitkan." Heh Ainun sebaiknya kamu ini sebagai wanita harusnya sadar diri, bahwa kedatangan kamu ke rumah Galih malah membuat kebahagiaan adikku terganggu. Aku berharap dengan apa yang aku katakan ini kamu mengerti."
__ADS_1
Ainun mengepalkan kedua tangan setelah kedatangan Indah, yang tak segan segan memarahi dirinya di depan semua orang yang tengah berada di rumah sakit.
Galih mencoba menarik tangan Ainun untuk segera menjauh dari rumah sakit, saat itu juga ia berniat akan mengantarkan Mantan istrinya itu ke rumah, agar tidak membuat kekacauan baru di rumah sakit.