
Pasien sudah bisa di jenguk, Galih dengan kedua mata merahnya karena semalam tak tidur dengan cepatnya menghampiri Anna.
"Tunggu."
Galih menoleh kearah belakang punggungnya mendengar suara Indah, seperti menghentikkannya. " Ada apa?"
Indah berusaha mempercepat langkah kaki untuk segera menghampiri Galih, seperti ada sesuatu yang ia ingin katakan kepada adik iparnya.
Melipatkan kedua tangan, melihat pada wajah Galih, Indah mulai melayangkan perkataan yang kurang menyenangkan saat didengar.
"Sebaiknya kamu tak usah menemui dulu adikku."
Indah seakan memulai pertengkaran kembali, entah apa tujuannya bisa-bisanya sang kakak ipar melarang Galih yang sebagai suami adiknya, masuk ke ruangan Anna.
" Pertanyaan bodoh apa yang kamu layangkan saat ini? kenapa kamu malah melarangku untuk bertemu dengan istriku sendiri. Kamu itu tidak ada hak sepenuhnya pada Anna,yang berhak sepenuhnya pada Anna, ia aku suaminya."
Galih menunjuk dirinya sendiri, setelah menjawab perkataan sang kakak ipar.
"Terserah, Aku tidak mau adikku sakit lagi, hanya karena melihat kamu."
Galih semakin benci dengan apa yang dikatakan Indah, lelaki berbadan kekar dengan ototnya yang terlihat menonjol, menyesal sudah memberitahu tentang Anna yang masuk ke rumah sakit kepada kakaknya sendiri. Jika ujungnya malah akan menjadi perdebatan yang tak kunjung Usai.
Sebenarnya Deni hampir bosan menenangkan istrinya yang tak kunjung berubah, terlihat sekali Indah terus menyalahkan Galih.
"Tante dan papah, bisa tidak berhenti untuk tidak berdebat terus-menerus." Timpal Farhan, risih dengan perdebatan yang terus berlanjut antara sang tante dan juga Papahnya.
Deni mendekat pada telinga sang istri dengan berkata," sudah tidak baik kalau kita terus berdebat seperti ini, semua masalah tidak akan ada ujungnya. kalau kita saling menyalahkan, ada baiknya sekarang kita masuk ke dalam ruangan Anna. Pasti Adik kamu menunggu kedatangan kamu dan juga Galih saat ini. Ayolah Indah bersikap dewasa sedikit, jangan jadikan masalah menjadi perdebatan yang tak kunjung Usai."
Indah mulai diam, ketika Deni menasehatinya terus-menerus. Walau lirikan matanya begitu terlihat mengancam di hadapan Galih.
Galih mulai tak mempedulikan lagi Indah ia berjalan untuk melihat sang istri di ruang rawat inap. Jam baru saja menunjukkan pukul tujuh pagi, Galih sampai di depan ruangan sang istri, melihat wanita yang ia cintai masih terbaring lemah di rajang tempat tidur.
"Anna."
Indah menyusul, ia melihat sang adik dengan kepala botaknya tampa rambut. Hatinya kesal dan marah, wanita yang menjadi adiknya harus terbaring lagi di rumah sakit yany kedua kalinya.
__ADS_1
"Anna, kakak tak menyangka kamu akan mengalami oprasi untuk yang kedua kalinya. Rasanya hati kakak sakit."
Galih hanya terdiam, dikala Indah mengucap perkataan yang seakan menyindir dirinya seolah olah semua terjadi, karena ulah Galih.
Membuka kedua mata perlahan demi perlahan, Anna sadar. Ia melihat cahaya lampu dan orang orang di sekelilignya, mereka tersenyum menatap ke arah Anna.
Tangan meraih legan Indah dan mengucap satu patah kata, " kakak.
Betapa senangnya kata-kata itu terlontar dari mulut Anna, adiknya sadar dan masih ingat akan dirinya.
"Iya, Anna. Ini kakak, bagaimana sekarang, kondisi kamu, mana yang sakit."
Anna mengukir sebuah senyuman kecil pada sang kakak dengan wajah pucatnya.
Galih masih saja diam, seakan Anna ingin dikuasai oleh Indah, padahal sebagai seorang suami. Galih ingin Istirnya melihat jika ia yang pertama mengharapkan kesadara dan juga sembuhnya Anna.
"Mama."
Farhan kembali menyusul, anak remaja yang selalu menurut pada Anna. Tersenyum lebar akan kesembuhan Anna, ia memeluk erat tubuh yang terkulai lemah di atas lantai.
Anna tersenyum, dan menjawab." mamah juga beruntung sekarang mamah bisa mengigat masa lalu yang sudah terlupakan.
Deg ....
Mendengar perkataan Anna, apa Galih akan tersingkirkan saat itu juga, rasanya hati dan pikiran lelaki berbadan kekar itu ketakutan, jika istrinya mengigat masa lalu, Galih akan sama seperti Raka menyedihkan di dalam penjara.
"Apa, jadi kamu sudah mengigat Daniel? Jadi kamu ingat kecelakaan itu bagaimana?" Indah langsung bertanya tanpa tahu kondisi sang adik, Deni yang melihat istrinya terlalu bertanya dengan terburu-buru kini menarik tangan dan berkata." jangan tanya masalah itu dulu, sayang. Adik kamu baru saja sembuh."
Indah berusaha mengalihkan lagi pertanyaan pada Anna. Wanita bermata sipit itu selalu membuat masalah, dengan terburu buru bertanya tanpa memikirkan kondisi seseorang terburu-buru.
"Sudah, kak. Anna sudah ingat kecelakaan itu semua, Anna sudah tidak mau membahasnya lagi, Daniel sudah tenang di alam sana, jadi biarkan masa lalu menjadi berlalu."
"Anna, maafkan kakak yang lancang bertanya masalah itu, kakak benar benar lupa."
"Tak apa kak, namanya manusia kadang. Terburu-buru ingin mengetahui semuanya."
__ADS_1
"Iya."
Hening, Galih mencoba mendekat ke arah Anna, ia ingin menyapa istrinya seperti biasa. Walau dirinya akan terusir, tapi Galih sudah siap menghadapi resikonya.
"Anna."
Suara lembut yang memanggil namanya dibawah alam sadar, kini terdengar lagi, sosok berbadan kekar yang sudah menyelamatkanya di alam mimpi tersenyum lebar, menitihkan air mata.
"Galih." kedua bola mata hitam lekat menatap sayu ke arah Galih, rindu dan kesal bercampur aduk menjadi satu, hatinya benci tapi ia juga merasakan rasa cinta.
Tangan kekar mulai memegan tangan lembut Anna, Indah yang melihat semua itu. Ingin sekali memisahkan tangan yang tak pantas bagi dirinya.
Indah sudah terlanjur kesal dengan Galih.
Karena Galih, Anna harus menjalani oprasi.
"Anna, kakak berharap kamu lebih jeli dengan Galih, dia itu .... "
Deni menarik tangan sang istri untuk keluar dari ruangan, ia tak mau melihat rumah tangga Anna dan Galih hancur karena perkataan Indah yang tak menyenangkan dan membuat sakit hati.
"Deni, kita mau kemana?"
"Ayo."
Mau tidak mau, Indah pada akhirnya menurut dan ikut serta keluar dari ruangan rumah sakit, begitupun Farhan, anak remaja yang mengerti situasi kedua orang tuanya.
Ia ikut keluar dari ruangan bersama Deni dan juga Indah, untuk menghargai percakapan kedua orang tuanya, Farhan yang mengerti tentang masalah, berharap tidak ada kesalah pahaman lagi yang terjadi.
Entah kenapa batinya begitu mendukung akan Galih dan juga Anna selalu bersatu, seakan ia tahu bahwa dirinya anak kandung Galih.
Yang dimana hanya lewat kontak fisik Farhan merasakannya.
"Deni, kan aku belum selesai berbicara, kenapa kamu malah menarik tanganku, ada yang ingin aku katakan pada Anna."
Deni berusaha bersikap dewasa dalam menjadi kepala keluarga, ia menasehati istrinya kembali dengan penuh kelembutan, tanpa bentakan sedikit pun. " Sudah Indah, ya. Biarkan mereka berdua, kasih peluang untuk mereka meluapkan semuanya bersama. Tanpa kita ikut campur."
__ADS_1