
Ainun tentu kaget dengan suara kaca kamarnya yang terbuka lebar, angin berhembus kencang hingga percikan hujan membasahi atas lantai kamar. Buluk kuduk merinding, seperti sesuatu datang pada dirinya. Apa itu arwah Daniel? Mana mungkin, karena namanya manusia setelah mati itu tidak akan kembali ke alam dunia.
Sedangkan Intan berjalan untuk menutup kembali kaca jendela, ia ternyata lupa menguci kaca jendela kamar sang nyonya tadi siang. Membuat kaca itu terdorong dan terbuka lebar saat angin dan hujan datang. Kedua tangan menutup jendela dan mengucinya rapat rapat, berharap kaca kayu yang itu tidak terbuka jika sudah di kunci.
Rasa takut, semakin Ainun rasakan. Setelah bermimpi bertemu dengan Daniel, lelaki yang sudah lama meninggal dunia. Ia meminta maaf dengan penuh penyesalan dan pergi dalam ke adaan tak wajar. Tertabrak mobil, menyaksikan dengan kedua matanya, semua itu seperti nyata.
Hawa dingin masih dirasakan Ainun, membuat Intan kembali mendekat dengan wajah lelahnya. . Melihat keadaan Ainun terlihat cemas dan ketakutan, Intan mulai memegang jidat sang nyonya yang ternyata Ainun demam.
"Nyonya demam ternyata." Tak ada rasa panik sedikit pun, ia berjalan gontai dengan keterpaksaan. Mengambil obat dan memberikkannya pada Ainun. Lelah dan letih, membuat ia tak bersemangat, baru saja bekerja sudah begitu melelahkan dan hampir ingin keluar.
"Ayo, nyonya minum."
Intan juga tak lupa membawa air hangat untuk mengompres jidat sang nyonya yang begitu panas.
Ada rasa jengkel menyelimuti hati Intan, karena pada jam dua malam ini, ia harus terbangun dengan wajah lelahnya. Berusaha sabar dan selalu mengigat gaji besar yang nanti akan diberikan Galih.
"Nyonya, kenapa? "
Ainun tak menjawab perkataan Intan sama sekali, ia merasakan suhu tubuh yang begitu panas, membuat dirinya hampir hilang kesadaran.
"Ya sudah, kalau Nyonya tak bisa membalas ucapan saya, sekarang Nyonya tidur lagi aja ya." Ucap Intan dengan penuh perhatian, sedangkan Ainun berusaha berbicara dengan bibir terasa panas, " te-ma-ni sa-ya ti-du-r."
Mendengar ucapan sang nyonya, tentulah membuat Intan malas mendengarnya. Mau tidak mau dia harus menemani Ainun, agar percitraan kabaikan tidak terbongkar oleh Ainun.
"Ya sudah saya temani, Nyonya tidur di sofa ya."
Ainun menganggukkan kepala, Intan kini berjalan menuju sofa yang berada di kamar sang Nyonya. Tidur di tempat kurang nyaman bagi dirinya. Tidak ada ACE sama sekali, entah kenapa Galih memberikan rumah yang begitu sederhana, tak memberikan rumah mewah yang ia punya. Bukannya rumahnya itu banyak. Tapi ia memberikan pada mantan istrinya, hanyalah rumah sederhana yang sudah lama tak ditempati.
Apa ini cara Galih agar Ainun bisa mandiri dan tak bergantung lagi dengan dirinya, Intan hanya menyayangkan kekayaan Galih tak bisa di nikmati oleh Ainun, wanita yang dulu ia sangat cintai. Apapun Galih lakukan demi kesembuhan Ainun, tapi pengorbanan itu sia sia, menjadi luka dan sakit hati untuk lelaki tampan dan kaya raya seperti Galih.
__ADS_1
"Apes, sialnya nasibku." Gerutu Intan, berusaha tertidur walau terasa tak menyenangkan bagi tubuhnya. Karena sofa di kamar Ainun begitu kecil dan tak nyaman di pakai untuk tidur. Bulak balik ke sana ke mari. Menarik selimut menutupi tubuhnya, berharap ia bisa tidur dengan kegelapan pada selimut yang ia bawa dari kamarnya sendiri.
Saat itu di dalam selimut yang menutupi tubuhnya, Intan mencoba mengirim pesan pada Galih, dimana ia iseng ingin menghilangkan kekesalanya.
( Tuan, nyonya sepertinya keterlaluan sekali. Saya suruh bergadang menemani dia.)
Tak ada balasan, tentunya membuat Intan sangat kesal." kemana si Galih itu." Gerutu hati Intan.
Ainun masih menatap dalam kegelapan malam, ia melihat jendela yang sudah ditutup masih merasakan ada sesuatu terpikirkan dalam hatinya.
"Intan."
Intan yang belum menutup mata, membiarkan Ainun terus memanggil namanya. Ia sudah lelah dengan panggilan sang manjikan yang terus menganggu waktu istri rahatnya.
Ainun mulai melepaskan selimut dan juga handuk kecil yang berada di jidatnya, ia menghampiri Intan pada sofa, dimana gadis itu menutup badanya dengan selimut.
"Intan." Memegang selimut Intan, membangunkan gadis itu kembali.
Memberikan sebuah senyuman dan bertanya." apa lagi, Nyonya. Saya benar benar mengantuk, apa nyonya tidak kasihan terhadap saya?"
"Intan, maaf. Kamu tidurnya di atas kasur dekat dengan saya, ya."
Intan mengerutkan dahi, aneh. Seorang Ainun mantan istri Galih ingin ditemani dirinya.
"Saya takut. Karena mimpi buruk itu saya tidak bisa tidur."
Karena melihat kasur yang empuk, pada akhirnya Intan setuju menemani Ainun tidur di samping kiri dekatnya.
"Ya sudah."
__ADS_1
Betapa senangnya Ainun, jika Intan mau menemaninya tidur. kini ia bisa menghilangkan rasa takut dan kuatirnya akan bayangan Daniel yang menggangu tidurnya.
Setelah tidur di samping kiri sang majikan, Intan mematikkan ponselnya, ia takut jika sewaktu waktu ponselnya menyala dan dilihat oleh Ainun. Mungkin pekerjaannya akan kelar sampai saat itu juga.
Ainun merasa senang, jika Intan begitu baik padanya, mau menemani dirinya saat ia tengah sakit dan ketakutan.
Intan langsung tidur dan tak mempedulikan majikannya yang masih membuka kedua mata.
Menarik napas, Ainun berucap dalam hati." Daniel aku sudah memaafkanmu jadi tenang lah di alam sana. Aku juga akan membuat Anna bahagia bersama Galih. Walau sebenarnya aku belum ingat siapa Anna dalam hidupmu."
Perlahan Ainun mulai menutup kedua matanya dan tertidur.
**********
Galih, masih berada di luar rumah sakit. Ia melihat bintang berjauhan. Merasakan akan hidupnya yang diambang kehancuran," apa sesakit ini berkata jujur."
Melihat bulan tampak bersinar terang, Galih hanya bisa menangis dengan meratapi nasibnya sendiri.
"Papah."
Mendengar suara Farhan yang memanggil dirinya dengan sebutan papah, membuat Galih dengan cepat menghilangkan kesedihan dan juga tangisan yang membanjiri kedua pipinya.
Farhan duduk, melihat Galih tampak begitu bersedih. Ia menarik napas kasar dan berkata." aku tidak tahu permasalahannya, hanya saja tolong pertahankan mamah Anna, jangan sakiti hati mamah Anna."
Galih menatap anak kandungnya sendiri, tersenyum lebar." andai kamu tahu ini papah aslimu Farhan, mungkin kamu tidak akan menduga." Gumam hati Galih. Menepuk punggung Farhan.
"Kamu jangan kuatir, Farhan. Papah akan tetap membuat mamahmu bahagia."
Farhan bernapas lega, ia berusaha memegang perkataan Galih, jika lelaki yang kini menjadi papahnya tidak akan ikar janji.
__ADS_1
"Farhan percaya dengan papah, jadi jangan kecewakan kami ya, pah."
"Iya, Farhan."