Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 67 Kejujuran Radit.


__ADS_3

Aku terus merayu anakku agar memperlihatkan bekas luka yang masih terlihat baru. Membuat Radit perlahan membuka tangan kirinya, untuk ia perlihatkan tangan kanan yang terkena luka itu.


Meraih tangan kananya, melihat dengan jelas, jika luka ini bekas cipratan minyak goreng. " Kenapa dengan tanganmu ini, Radit. Apa yang dilakukan orang orang di rumah nenek kepadamu?"


Kedua mataku berkaca kaca, melihat tangan anakku penuh luka. "Mamah jangan sedih, ini semua ulah Radit sendiri."


"Kenapa kamu menyalahkan dirimu sendiri dari tadi, Radit. Kalau kamu berkata jujur, mamah tidak akan memarahi kamu kok, ayo cerita sama mamah."


Bibir mungil itu kini bercerita kembali," Radit kemarin minta uang jajan ke Tante Ajeng, karena Kata papa Kalau Radit pengen jajan Radit tinggal minta uang ke tante Ajeng. saat Radit minta uang, Tante Ajeng malah marah-marah dan membentak Radit, Tante Ajeng malah menyuruh Radit membuka telapak tangan kanan di saat tante Ajeng tengah memasak, saat tangan Radit dibuka Tante Ajeng malah menumpahkan minyak panas pada telapak tangan Radit."


Aku tak menyangka dengan perlakuan Ajeng kepada anakku, ia tega menyakiti anak kecil yang tak berdosa ini, meluapkan kemarahannya membuat aku benar-benar kesal dan ingin sekali membalaskan atas perlakuan Ajeng kepada anakku. Ingin rasanya kutumpahkan minyak panas pada wajahnya saat ini, agar dia merasakan betapa sakitnya apa yang dirasakan Radit saat dia melakukan semua itu.


Aku menyuruh pegawai untuk mengambilkan kotak P3K untuk mengobati luka Radit.


"Ini bu. kotaknya." Lisda menyodorkan kotak obat p3k kepadaku.


"Terima kasih, Lisda." Lisda pegawaiku yang begitu rajin, apapun ia kerjakan. Tak terlihat dirinya mengeluh saat warung begitu ramai, aku selalu menyebut ini warung tapi riasan dan desainya seperti restoran. Memang aku ini yang kampungan, karna terlalu lama hidup bersama ibu Mas Raka, hingga pengetahuanku yang minim dan kurangnya pergaulan. Ahk jangankan pergaulan di kampung mereka malah saling mengejekku, apalagi ibu mertua dan juga Bu Nunik.


Entah apa kabar wanita tua itu, sudah lama aku tak pernah melihatnya lagi.


Lisda menganggukan kepala dan tersenyum lebar dihadapanku.


"Sini sayang, tangannya biar mama obatin nanti lukanya biar cepat kering dan sembuh. Kalau sembuh kan nanti nggak kerasa sakit lagi."


Aku terus memperlihatkan sisi kelembutanku di depan Radit.


Radit menganggukkan kepala saat itulah ia menyodorkan tangannya ke padaku untuk segera diobati.


Di saat mengobati luka Radit, aku mulai bertanya lagi pada anak keduaku ini," Radit jauh jauh datang ke sini sama siapa?"


Aku bertanya pada anak mungil ini," Mamah memang belum tahu ya."


Mengerutkan dahi dan bertanya," maksud kamu sayang."


"Sekarangkan, Radit enggak di kampung sama nenek. Tante Ajeng membawa Radit dan papah ke rumahnya, mungkin sudah sekitar 4 hari ini."

__ADS_1


Jawaban Radit membuat aku baru tahu sekarang sekarang.


"Jadi Radit mengemis hanya ingin mempunyai uang jajan dan juga uang makan


karena Tante Ajeng jarang memberi makan Radit di rumahnya?"


Pertanyaanku membuat Radit menganggukan kepala.


Betapa sakitnya hati ini setelah tahu apa yang dilakukan keluarga Mas Raka, begitu pun Ajeng. Mereka tega membuat anakku tersiksa kelaparan tanpa perhatian.


Aku mengepalkan tangan kanan di atas meja, merasakan rasa kesal yang memburu hatiku. Bagaimana aku bisa kuat mendengar setiap perkataan Radit, yang membuat hatiku teriris sakit.


"Ya sudah, sekarang kita pulang. Ke rumah mamah, bertemu Lulu dan juga Farhan."


Radit senang dengan ajakanku. Seperti biasa dijam 5 sore aku sudah pulang, yang mengurus semua warung adalah Lisda orang kepercayaanku.


Saat aku mulai mengajak Radit masuk ke dalam mobil, Radit terlihat kaget.


"Ayo sayang masuk."


Aku lupa jika Radit, tak mengetahui mobil baru ini.


"Ini mobil mamah sayang, ayo masuk."


Radit menganggukan kepala, ia tersenyum dan mulai masuk ke dalam mobil.


"Wah, mobilnya bagus. Enggak kaya mobil papah kuno. Cuman depannya aja pakai modip."


Aku yang tengah mengendarai setir mobil, hanya mendengarkan setiap celoteh anakku yang terlihat senang saat aku membawanya jalan jalan sebentar sebelum pulang ke rumah.


"Radit, tadi kamu bilang papah punya mobil?"


Radit kini menjawab pertanyaanku, anak keduaku ini seperti orang dewasa jika di tanya langsung nyambung.


"Iya mah. Radit jarang di ajak jalan jalan sama papah, itupun Radit tahu dalamnya mobil papah saat papah nyuruh Radit cuci mobil!"

__ADS_1


Mas Raka menyuruh anak kecil untuk membersihkan mobil, benar benar keterlaluan. Mantan suamiku itu, ia bisanya menyuruh dan mengabaikan Radit, aku tidak akan tinggal diam. Akan aku beri dia perhitungan.


"Radit, enggak usah sedih. Nanti mamah ajak jalan jalan Radit bareng lulu dan kak Farahan ya."


Setelah aku berkata seperti itu, Radit berteriak kegirangan ia seperti senang dengan ajakanku.


"Mamah, janji kan?" tanyanya.


"Iya sayang."


Terlihat wajah penuh kebahagian bersinar pada Radit. Hatiku tenang, anakku kembali lagi padaku, hanya saja. Dia kembali dalam ke adaan tak terurus.


Aku harus datang memberi perhitungan pada Mas Raka. Agar dia sadar dari perbuatanya.


Setelah sampai di rumah, aku membuka pintu mobil. Mempersilhakan Radit turun untuk bertemu dengan Farhan dan Lulu.


Hanya saja, saat aku Radit melangkah keluar dari mobil, sesuatu barang jatuh dari saku celananya. Membuat aku mengambil dan melihat barang itu.


Sebuah jam tangan, dengan ukiran nama di dalamnya, A/D. Apa maksud nama ini, kenapa aku malah mengigat namaku dan Daniel.


Mungkin jam ini hanya kebetulan sekali, aku kini mengambil jam tangan yang mungkin modelnya sudah lama.


Radit berlari, memeluk Farhan dan Lulu, akan tetapi aku menghentikan aksi anakku karna badanya yang kotor.


"Radit, sebelum kamu memeluk Farhan dan Lulu, sebaiknya kamu mandi dulu sayang, biar nyaman. Nanti Mbok Nun, bakal bantuin Radit mandi."


Aku memberi pengertian pada Radit, agar dia mengerti dan tak sakit hati. Karna anak keduaku ini sedikit agak berbeda, dia gampang terluka dengan omongan yang mampu membuatnya sakit hati.


Maka dari itu aku harus lebih sabar dan berusaha tetap berkata lembut padanya.


Aku menaruh jam tangan ini di kamarku, biar saja nanti malam aku tanya pada Radit, saat dia tengah bersantai sendirian.


Setelah dimandikan Mbok nun, kini luka bekas pukulan dan cubitan tak terlihat lagi, mungkin mereka takut akan teguran dan ancamanku saat itu, hanya saja yang aku sesali saat ini luka akibat cipratan minyak ulah Ajeng.


Entah kenapa dengan wanita itu, kenapa dia begitu tega melukai anakku, padahal dia harus bisa memposisikan diri menjadi ibu juga bagi Radit anak Mas Raka.

__ADS_1


__ADS_2