
"Bu, saya berharap jika ibu mau mengizinkan istri saya untuk melihat pemakaman Danu. Hanya sebentar saja, untuk meluapkan rasa penyesalan."
"Enak sekali kamu berkata seperti itu? Kalau kata saya tidak ya tidak."
Bu Dela dengan lantangnya mendorong tubuh Indah, hingga tersungkur jatuh pada tanah dekat pemakanan." jika kamu mau melihat anak saya dan merasa menyesal, cepat mati biar bisa menyusul ke alam sana."
Deni berusaha membantu sang istri untuk berdiri, mengajak untuk pergi dari pemakaman Danu, tadinya Deni mengira jika Bu Dela akan menerima takdir. Tapi kenyataannya dia tetap saja keras kepala, menyalahkan penyebab semua ini pada Indah.
Wanita tua itu memalingkan wajah, enggan menatap kearah mantan menantunya itu. Indah tak pernah menyadari jika dirinya juga sama sifanya dengan Bu Dela. Tak menyadari keadaan.
"Ayo, Indah kita pergi dari sini. Percuma kamu berada di sini jika kehadiranmu tak dianggap Bu Dela sama sekali."
Indah menganggukan kepala, saat lelaki muda yang menjadi suaminya mengajaknya pergi dari pemakanan sang mantan.
Berjalan menuju mobil, ia teringat dengan Galih. Perlakuannya Bu Dela tak jauh berbeda denganya, memarahi tanpa mendengar penjelasan.
"Kamu kenapa, Indah?"
Raut wajah Indah, tampak gelisah ia menatap Deni dengan wajah sayunya. " Aku sudah salah, Deni."
Menangis histeris di dalam mobil, Deni berusaha menenangkan sang istri.
"Maafkan aku Deni, harusnya aku menyadari apa yang sudah aku perbuat pada Galih. Ini mungkin balasan untuk diriku."
Deni mengerti apa yang dikatakan istrinya, mungkin kata sabar mengantarkan pada kebaikan.
"Ya sudah kita pulang, ya."
Mesin mobil dinyalakan mereka bergegas untuk pergi ke rumah sakit melihat ke adaan Anna yang sekarang.
********
Di dalam rumah sakit suasana tampak canggung, kedua insan hanya membuang muka satu sama lain, masih belum bisa mengungkapkan segala sesuatu dalam hati.
Anna yang baru saja menjalani oprasi, menatap perlahan pada kekasih hati, hatinya tak karuan.
"Mas Galih."
__ADS_1
Suara lembut itu menyapa kedua telinga Galih, seakan mata begitu senang dikala bertatapan langsung dengan sang pujaan hati.
Bibir tipis dengan ringanya mengatakan, " ya. Kenapa?"
Hati masih belum bisa dibohongi, Galih takut jika Anna melepaskan dirinya." Apa Farhan itu anakmu."
Pertanyaan yang baru saja membuat Anna jatuh pingsan dan pada akhirnya harus di oprasi, kini terlontar kembali, menjadi sebuah pertanyaan.
"Sebaiknya jangan tanyakan itu lagi, aku tidak mau melihat kamu sakit lagi, Anna."
Kata kata formal kini kembali menjadi nada bicara seperti biasa, menyesuaikan diri karena sudah menjadi suami istri.
"Aku ingin mengetahui semuanya, agar pikiranku ini tenang, mas."
Menarik napas, mengeluarkan secara perlahan. Dada yang terasa sesak kini dipaksakan untuk berkata jujur." Tapi aku takut, sesuatu terjadi lagi dengan kamu seperti kemarin."
Tangan lembut yang terlihat ada jarum infusan, kini perlahan beranjang bangkit. Memegang punggung tangan sang suami. " Aku sudah mengigat semuanya, aku juga sudah mengikhlaskan apa yang terjadi pada hidupku."
Deg ....
Mendengar perkataan Anna, tentu saja membuat jantung Galih terasa tak karuan, ia tersenyum lembar dan menjawab." jadi, kamu tidak akan meninggalkanku, Anna."
"Tapi, aku ingin mendengar kejujuran kamu, Mas. Jika memang kamu masih mengharapkan keutuhan rumah tangga kita."
"Baik, aku akan berkata jujur."
"Kamu tadi belum jawab pertanyaanku?"
Pada akhinya Galih memberanikan diri, mengungkapkan semuanya didepan sang pujaan hati, mengatakan jika Farhan." Adalah anak kandungku dengan Ainun."
"Apah?"
Anna dan Galih tak tahu jika di depan pintu ruangan ada Farhan yang mendengarkan perkataan Galih," Farhan."
Langkah kaki anak muda itu mendekat dan bertanya lagi?" Apa maksud perkataan papah dan mamah."
Kedua air mata berlinang, mendengar kenyataan yang sulit diartikan oleh Farhan anak remaja berusia tuju belas tahun.
__ADS_1
Kedua mata saling menatap satu sama lain, bagaimana tidak Anna dan juga Galih bingung menjelaskan semuanya.
"Coba kalian jawab, Farhan ini tidak salah dengarkan?"
Anna yang masih lemah dengan keadaanya, berusaha menenangkan Farhan, dengan meraih tangan sang ibunda." Farhan, dengarkan dulu mamah ya."
"Dengarkan apa lagi, mah. Sudah jelas apa yang mamah katakan itu terdengar pada kedua telinga Farhan."
Galih mendekat, merangkul bahu sang anak remaja di hadapanya." papah akan jelaskan semuanya, kamu janga marah nak. Papah ini."
Farhan mencoba melepaskan tangan yang merangkul bahunya saat itu, ia berkata dalam kemarahan pada hatinya, karena sudah dibohongi." sudahlah katakan yang sejujurnya. Farhan ingin tahu semua yang kalian rahasiakan selama ini."
Galih mecoba berusaha menenangkan Farhan, jika menjelaskan dalam keadaan Farhan marah, bukan malah memperbaiki semuanya. Yang ada Farhan akan mengandalkan emosinya, merasa dibohongi selama ini.
Urat leher lelaki remaja itu menonjol, menunggu jawaban kedua orang tuanya.
" Cepat katakan. "
Anna baru melihat Farhan semarah itu, anak lelaki yang selalu ia anggap anak kandungnya sendiri, dulu terlihat lembut dan selalu tenang, tapi sekarang berubah menyeramkan.
"Farhan, kamu tenangkan dulu emosi kamu. Biar mamah jelaskan semuanya. Jika sebenarnya Farhan itu bukan anak kandung mamah dan papah Raka."
Mendengar penjelasan sang mamah, tentulah membuat Farhan kesal, ia berusaha meredam emosi. Tak percaya jika dirinya tidak dilahirkan dari rahim wanita yang begitu sayang kepadanya. Wanita yang ia puja, sebagai pelindung disaat dirinya kecil dan pelipur rala kesedihan.
Air mata yang terpendam, pada akhinya menetes juga, keluar dari perbatasan mata. Rasa sakit yang menyiksa baru dirasakan Farhan saat ini, " berarti selama ini, Farhan dibohongi mamah. Pantas saja, Nenek dan Papah Raka tidak pernah menganggap Farhan selama ini, mereka selalu mengabaikan Farhan, menganggap Farhan anak pembawa sial."
Anna berusaha meraih tangan Farhan, walau bukan anak kandungnya, Farhan itu bagaikan anugrah terindah dalam hidup Anna.
"Farhan, dengarkan dulu mama bicara, kamu jangan terus memotong perkataan mamah. Nak, mamah tidak berkata jujur, mamah berusaha mencari situasi yang baik. Agar kamu tidak sakit hati seperti ini."
Kedua mata Farhan sudah terlihat memerah, hatinya begitu sakit, seperti tercambik cambik mendengar kejujuran yang tak mau ia dengar.
"Nak, mamah ingin mengatakan semuanya pada kamu, tapi setelah mamah bertemu dengan kedua orang tuamu, dan sekarang waktu yang sangat tepat. Mamah sudah mengetahui orang tua kandung kamu."
Farhan masih diam, ia berusaha menahan rasa sesak di dada, tak percaya hal seperti ini akan terjadi dalam hidupnya. Ia juga belum tahu betul, kenapa orang tuanya tega membuang dia, membuat Anna mengurusnya dan membesarkannya hingga sekarang.
"Farhan, kedua orang tua kamu, Papah Galih dan Mamah Ainun."
__ADS_1
Apa tanggapan Farhan setelah ini?