
"Oh ya, Anna. Kamu tinggal di sini?" tanya Bu Dela, di saat aku menaruh jus untuk wanita tua itu.
Aku menatap dalam dalam map berwarna hijau muda itu, bertuliskan dari rumah sakit.
Semakin mataku melihat kebawah tulisan, aku membaca nama dari Map berwarna hijau muda itu. Danu Adi Nugraha.
Sepertinya di dalamanya ada lembar kertas tentang penyakit, yang entah aku tidak tahu isinya apa?
Kenapa semakin ke sini, aku semakin penasaran? Apa yang di sembuyikan Kak Indah?
Setelah meletakan minuman di atas meja, aku mulai berdiri tegak menghadap Bu Dela, menjawab pertanyaanya dengan senyuman manis." Iya. Bu."
"Ke mana suamimu, Raka?"
Pertanyaan yang sangat malas aku jawab, bagaimana bisa Bu Dela menanyakan Mas Raka, lelaki tak punya perasaan itu.
Aku merapihkan rambutku, yang hampir menutupi mata kiri," Mas Raka ada di rumah ibunya. Sebenarnya kami mau bercerai."
Mendengar jawaban dariku, Bu Dela membulatkan kedua matanya." Bercerai."
"Ya, jadi saya tinggal di rumah Kak Indah sementara waktu, setelah persidangan perceraian saya selesai dengan Mas Raka."
Bu Dela, mengusap bahuku, menenangkan kesedihan yang mungkin ia rasakan." yang sabar ya. An, ini mukin berat bagi kamu."
"Tidak berat kok, bu. Saya lega, bisa terbebas dari lelaki penghianat seperti Mas Raka."
Deg ....
Bu Dela melepaskan tangan yang mengusap pelan bahuku, sepertinya ia merasa jika anaknya sama seperti Mas Raka.
"Ya sudah kalau begitu, ibu mau pamit dulu. Kebetulan masih banyak urusan."
"Kenapa buru buru, bu. Minumanya belum di minum loh."
Bu Dela sepertinya tak enak hati, ia bergegas pergi dengan terburu buru, aku yang melihatnya hanya bisa diam. Tak bisa menahan atau pun membuat dia terus diam di rumah.
Bu Dela memeluk erat Kak Indah, seakan tak mau berpisah, " Indah, kamu pikirkan baik baik ya. Ibu masih berharap banyak padamu."
Kak Indah, hanya bisa tersenyum kecil, setelah mendengar perkataan dari mantan mertuanya.
"Anna, saya pamit pulang ya."
"Baik, bu."
Aku hanya menganggukan kepala tersenyum, dan kini mengantarkan Bu Dela menuju pintu ke luar rumah.
Sedangkan Kak Indah, pergi ke dalam kamar sembari mengambil map berwarna hijau muda itu.
"Kak."
Kak Indah sepertinya begitu banyak pikiran, saat aku memanggilnya, dia tak membalikkan badan.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Kak Indah ke luar dari kamarnya, ia berdadan begitu rapi.
"Kak, mau ke mana?" Tanyaku, wanita bermata sipit dengan hidung mancungnya, hanya menjawab." Kakak ke luar sebentar, An. Ada urusan. Kamu jaga rumah, kalau ada orang yang enggak kamu kenal jangan kamu terima masuk ke rumah ini."
Aku hanya mengerutkan dahi," baik kak."
Kak Indah bergegas pergi, mengambil kunci motor, ia seperti orang yang sangat panik.
Tiba tiba saja.
"Anna."
"Kenapa kak, kok balik lagi?"
"Ada yang ketinggalan!"
"Mm."
Kak Indah kembali ke kamarnya, ia megambil map berwarna hijau itu. "seberapa pentingnya sih map itu, aku penasaran, Mas Danu punya penyakit apa? TBC, atau Deman berdarah, ahk mana mungkin. Oh ya penyakit borok. Ih masa iya, enggak mungkin."
Aku kini fokus pada pekerjaan rumah, mengelap sebagian barang barang yang terkena debu.
Beres.
Tok ... tok ....
Haduh siapa lagi? Siang siang bolong begini, kenapa dari tadi pagi selalu ada saja tamu. Mudah mudahan tamunya enggak bikin emosi.
Lelaki memakai topi hitam dengan masker hitam.
Tok ... tok ....
Ketukan pintu beberapa kali orang itu layangkan, aku harus ingat pesan kak Indah, jangan membuka pintu pada orang asing yang tak di kenal.
Aku bergegas mengambil ponsel untuk menelepon kak Indah, memberitahu siapa yang datang.
Beberapa kali menelepon kak Indah, nomornya kenapa enggak aktip?
Tok .... tok ....
Ketukan pintu terdengar kembali. "Kak Indah, kenapa nomor kakak tidak aktif."
Yang aku ingat sekarang adalah anak-anak, berlari mencari keberadaan ketiga anak-anakku.
"Farhan, Radit. Lulu. Kemana kalian?"
Hatiku rasanya tak karuan, antara takut mereka kenapa kenapa. Berlari, mencari kebelakang rumah. Hanya ada mainan berserakan saja di sana.
"Farhan, Radit. Lulu."
Aku terus berteriak, hingga dimana Farhan datang dengan mengucek gucek kedua matanya." Ada apa, mah?"
__ADS_1
Bergegas menghampiri Farhan, memegang kedua bahunya." Kamu baik baik saja sayang? Kemana adik adikmu, nak?"
"Radit dan Lulu ada di kamar, mah!" jawab Farhan. Dengan mulut yang beberapa kali menguap.
Saat itu aku langsung bergegas menuju kamar anak anak, dan benar saja Radit dan Lulu tertidur pulas.
Tangan kanan ini mulai mengusap pelan dada, merasakan rasa tenang.
Tok .... tok ....
Ketukan pintu terdengar kembali, aku berusaha menyuruh Farhan untuk tidak keluar kamar.
"Ada apa, mah?"
"Sudah kamu cepat masuk ke dalam kamar!"
Dengan tergesa gesa, Anna masuk ke ruangan dapur, ia mencari pisau untuk mempertahankan diri jika orang itu berbuat macam macam padanya.
Berjalan ke arah pintu rumah, ketukan pintu itu kini terdengar lagi. Dengan keberanian yang aku punya, membuka pintu pelahan dan menutup kedua mata. Aku mulai melayangkan pisau ke arah orang itu.
"Anna, kamu ini kenapa?"
Aku mulai membuka kedua mata, bertapa terkejutnya hati ini," kak Indah!"
Saat itu Kak Indah masuk ke dalam rumah dengan raut wajah kesal, membuat aku kini melayangkan satu pertanyaan.
"Kenapa kak?"
Wanita bermata sipit itu, duduk di atas kursi, menaruh map berwarna hijau muda pada meja ruang tamu.
"Ahk." Berteriak kesal, Kak Indah mengacak rambutnya dengan kedua tangan.
Aku berusaha mendekat dengan perasaan tak karuan, duduk di samping sang kakak. Menenangkan rasa pusing pada kepalanya.
"Dasar wanita tidak, Ahk."
Aku tak mengerti perkataan Kak Indah," Kakak kenapa?"
Berusaha bertanya dengan nada lembut, membuat Kak Indah kini menjawab!" coba kamu baca pada map hijau muda itu!"
Kebetulan sekali, aku sangat penasaran dengan map hijau muda itu. Dengan rasa penasaran mengambil dan mulai membuka map hijau berwarna biru yang sudah berada pada kedua tanganku.
Kedua mataku membulat, membaca isi dari Map Hijau ini, "Yang benar ini kak?"
Aku berusaha menutup mulut yang mengagah, seakan tak percaya dengan apa yang aku lihat.
"Kalau Mas Danu mandul, terus si Siren itu hamil anak siapa. Mas anak setan, kak?"
Kak Indah mengacak rambut panjangnya, dan berkata." Entahlah, kakak tidak mengerti. Sepertinya Siren hamil anak laki laki lain, makanya ibu datang ke sini. Meminta tolong pada kakak, dan saat kakak mengecek keaslian dokumen itu di rumah sakit?"
" Asli apa palsu, Kak?" Aku bertanya dengan rasa penasaran pada hati ini, yang semakin mengebu gebu. Menunggu jawaban sang kakak.
__ADS_1