Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 122 Ainun masuk rumah sakit


__ADS_3

Setelah sampai di rumah sakit.


Galih mulai turun, membuka pintu mobil. Membopong tubuh Ainun yang sudah basah dengan air hujan, para perawat dengan datang mendorong Brankar, meletakan Ainun dalam brankar dorong untuk di bawa ke ruang UGD.


Rasa cemas dirasakan Galih, ia bulak balik ke sana ke mari, mengkhawatirkan keadaan Ainun. Kenapa bisa Ainun jatuh pingsan di pinggir jalan? Menatap pada jam tangan, ternyata sudah pukul sepuluh malam. Malam pertama untuk Galih dan Anna, harusnya menjadi malam terindah, akan tetapi Galih yang diliputi dengan rasa trauma dan hadirnya Ainun kembali, membuat malam yang spesial menjadi malam yang tak menyenangkan, bagi kedua insan yang sudah menjalankan pernikahan.


Galih tak mengerti kenapa setiap ingin berhubungan dengan sang istri, kepalanya selalu mengingat akan jeritan Ainun yang meringis kesakitan, meminta tolong. Padahal kejadian pemerkosaan itu sudah lama sekali, 20 silam dan mungkin sudah terlupakan, tapi kenapa masih selalu terbayang-bayang kepada pikiran Galih.


"Apa setelah ini, aku harus mengatakan kejujuran yang sebenarnya, tapi. Aku takut Anna kecewa dan malah pergi meninggalkanku, aku sangat mencintai dia. "


Tangan kekar menyandar pada tembok rumah sakit, kepala menunduk kedua mata menatap pada atas lantai. Galih sadar akan kelakuan bej*dnya, sampai air mata keluar, membasahi pipi. Membayangkan bagaimana sakitnya Anna, jika ia tahu semuanya.


Di tengah bayangan dan lamunan Galih, dokter akhirnya keluar setelah mengecek pasien Ainun. "Keluarga pasien Ainun. "


Panggilan sang dokter membuat lamunan Galih membuyar, mengusap kasar air mata yang berjatuhan, ia malu jika dokter melihat ia menangis, " iya, dok. Saya keluarga dari pasien. "


"Setelah pengecekan pasien Ainun, pasien mengidap PTSDĀ (Post Traumatic Stress Disorder) atau gangguan stres pascatrauma adalah kondisi kesehatan jiwa yang dipicu oleh peristiwa traumatis. Apa sebelumnya bapak sudah tahu? Tentang penyakit pasien Ainun. "


Galih sudah menduga, Ainun belum sembuh total setelah ia kabur dari rumahnya, " Iya dok, saya sudah tahu. Sebelumnya pasien sudah saya obati, tapi tidak tuntas."


"Ya sudah, sebaiknya pasien jangan diberi tekanan dan lingkungan yang memicu rasa trauma itu datang lagi, begitu pun dengan orang orang yang memicu stres pada Pasien Ainun. Anda bisa mengobati pasien di rumah dengan metode yang nanti saya akan tulisakan. "


"Baik, dok. "


Galih merasa terbebani, saat datanganya Ainun. Karena sekarang dia sudah mempunyai istri yang harus di jaga perasaanya. Bagaimana bisa Ainun ikut ke rumah dalam posisi Galih yang sudah menikah.

__ADS_1


Dokter mulai beranjak pergi, dan mempersilahkan Galih untuk melihat ke adaan Ainun yang tenyata sudah dipindahkan di ruangan rawat inap.


Perasaanya kini tak menentu, ia bingung jika harus mengobati Ainun di dalam rumahnya. Tapi jika Galih membawa Ainun ke rumah sakit jiwa itu juga tak mungkin, karena dokter hanya mengatakan Ainun hanya memiliki rasa trauma saja.


Semua membuat Galih menjadi bingung.


Setelah sampai di ruangan Ainun, terlihat wanita itu masih tertidur. Galih mulai mendekat dan melihat keadaan Ainun.


Duduk di samping wanita yang dulu ia cintai, menatap wajah putih mulus Ainun yang masih berseri, sekarang tidak ada rasa apapun pada Ainun, rasa itu hilang saat tanggung jawab dan cintanya diabaikan.


Ainun pergi tanpa berpamitan pada Galih, meninggalkan anak semata wayangnya.


Kedua mata mulai terbuka perlahan, melihat cahaya yang menyilaukan. Ainun kini bersuara. " Dimana aku."


Kedua bola mata berwarna coklat itu perlahan menatap kearah Galih yang bersuara," Galih. "


"Iya, ini aku. "


Galih sedikit terlihat malas menjawab pertanyaan dari Ainun, membuat lelaki berhidung mancung itu bertanya pada Ainun. " kenapa malam hari kamu masih ada di pinggir jalan, dalam ke adaan hujan hujanan? "


Ainun menjawab dengan nada cetus. " Aku lagi nungguin taksi lewat, tapi tidak ada satupun yang mau berhenti dan menumpangiku saat itu. "


Galih ingin sekali memerahi Ainun, karena kehadiranya, membuat Anna harus ditinggalkan di rumah.


" Jika kamu memang ingin pulang, kenapa kamu tidak bilang padaku untuk aku antarkan ke rumah."

__ADS_1


"Aku malas, takut menganggu malam pengantin kamu dengan istri barumu itu. " Terlihat raut wajah cemburu yang ditampikan Ainun pada Galih.


"Justru kamu ini pengganggu, karena hadirnya kamu merusak momen terindah untuk kedua pengantin yang sudah melangsungkan pernikahan." Gerutu hati Galih, ia tak mungkin mengatakan semua kata kata kekesalanya langsung pada Ainun. Karena ia tahu jika Ainun belum sembuh total dan takut membuat traumanya kambuh kembali.


" Ya sudah kalau begitu aku tinggalkan kamu saja di rumah sakit ini," ucap Galih memperlihatkan ketidakpeduliannya terhadap Ainun. Lelaki berbadan kekar dengan hidungnya yang mancung mulai beranjak berdiri dari tempat duduk, untuk segera pergi meninggalkan ruangan Ainun, akan tetapi Ainun yang masih membutuhkan Galih.


Ainun mulai meraih tangan Galih, wanita berhijab putih itu menyuruh Galih untuk tidak meninggalkan dirinya sendirian di rumah sakit," jangan tinggalkan aku sendirian di sini ,Galih. Aku takut, please tinggallah di sini dulu semalam."


Permohonan wanita berhijab putih dengan wajahnya yang memperlihatkan rasa ketakutan, membuat Galih hanya diam dan kembali duduk menunggu Ainun dalam perawatan di rumah sakit.


" Maafkan aku, Galih. "


Kata maaf yang terlontar dari mulut Ainun, seakan tak bisa diterima lagi oleh hati Galih, walau sebenarnya Ia yang sudah jahat dan membuat rasa tarauma itu. Tapi tetap saja, Galih benci saat Ainun meninggalkan dirinya dan juga anaknya.


"Aku sudah memafkan kamu, kenapa juga kamu harus meminta maaf, bukanya aku yang salah saat itu."


Galih masih merendahkan hati di depan Ainun, berusaha bersikap tenang. Agar tetap bisa mengontrol emosinya.


"Bukan sepenuhnya kamu juga yang salah, semua kesalahan Daniel. Aku yang terlalu cinta padanya, hingga rela meminum obat dan mau di gaulinya saat itu, dan kamu juga ikut serta dalam pergaulan itu, karena Daniel juga kan. Dia juga menjebakmu? "


Galih seperti sudah malas membahas masa lalu, yang sampai saat ini terbayang. Dimana dirinya antara sadar dan tak sadar. Merasakan penyesalan yang teramat sesal. Masa lalu itu selalu mengganggu pikirannya, bukanya setelah menikah kita tak usah mengatakan tentang masa lalu kita pada pasangan agar tidak menyakiti hatinya, tapi. Kenapa Galih sampai sekarang dihatui terus menerus akan masa lalu itu.


"Sebaiknya kamu jangan terlalu memikirkan masa lalu lagi, semua sudah berlalu , Ainun. Sebaiknya kamu pulihkan dulu pasca traumamu itu. Karena dokter berkata jika otakmu masih sering berhalusinasi dan tak sadar membuat ganguan pada sarap. Aku kuatir pada kamu , maka setelah kamu di rawat di sini, aku akan meminta pengertian pada Anna. "


Ainun masih bingung dengan perkataan Galih. Tentang meminta pengertian pada Anna.

__ADS_1


__ADS_2