
18+ silahakn baca
Lelaki yang berada di atas ranjang rumah sakit itu menangis, Bu Dela mendekat ke arah anak semata wayangnya. Memegang bahu Danu, " nak, apa yang terjadi. "
Pertanyaan sang ibu membuat Danu menatap ke arah wanita tua itu, terlihat kedua mata memerah mengeluarkan air mata. Sesekali Danu berusaha mengusap air matanya sendiri, ia tak tahu jika sang ibu merasakan apa yang ia rasakan.
" Kenapa kamu sampai melepaskan Indah begitu saja, Ibu sudah susah payah menyuruh dia datang ke sini, awalnya Ibu juga melepaskan dia. Tapi karena kamu seperti ini, Ibu ingin mempertahankan dia untuk kamu. "
Danu menatap lekat ke arah wajah wanita tua yang sudah melahirkannya, " Danu sudah merelakan dia. Bu, percuman jika dipertahankan. Indah pasti tidak akan bahagia dengan Danu. "
Bu Dela, memeluk erat tubuh anaknya, mengusap perlahan rambut kepala belakang Danu. Menangis dengan berkata. " kamu yang sabar ya, nak. "
*****
Sedangkan Indah dan juga Deni yang sudah keluar dari rumah sakit, mulai masuk ke dalam mobil untuk segera pulang.
Di dalam mobil.
Deni memulai percakapan, yakini bertanya kepada istrinya. " apa kamu masih masih mencintai Dia? "
Perkataan Deni membuat Indah menatap ke arah suaminya, kedua mata itu berkaca-kaca, menahan rasa sesak di dada. Deni ingin meyakinkan apa yang ia katakan pada istrinya.
" kenapa kamu malah berkata seperti itu, Deni. kita ini sudah menjadi suami istri, tak baik jika kita membicarakan masalah perasaan. Aku sudah melupakan Danu karena dia itu masa laluku. "
Bernapas pun terasa sangat sesak, Deni belum puas dengan jawaban dari Indah, masih ada sesuatu yang disimpan oleh wanita yang berada di sampingnya.
" Katakanlah yang sejujurnya. Jangan membohongi diri kamu sendiri. "
Deni seakan menekan pertanyaan kepada istrinya, agar berkata jujur.
" Aku sudah berkata jujur, tapi kenapa kamu tidak percaya kepadaku Deni. "
__ADS_1
kedua tangan masih memegang setir mobil, Deni berusaha fokus ke depan. Ia menahan amarah yang masih menggumpal di dadanya, ada sesuatu yang mengganjal dan belum terbuka.
" Aku bukan tidak percaya kepadamu, Indah, jika kamu memang mencintai Danu pergilah aku tidak akan melarang kamu. Tolong katakan yang sejujurnya. "
Indah mulai mengugkapkan apa yang ia rasakan pada hatinya di depan Deni, " sebenarnya rasa cinta itu sudah hilang sejak lama, aku hanya peduli pada dia karena kasihan dengan keadaannya sekarang."
" kalau begitu, apa kamu mencintai aku? "
Dengan perlahan kata-kata lembut itu keluar dari mulut Indah, " sekarang memang aku tidak mencintai kamu, Deni. karena kita belum menjalin hubungan yang dekat. Aku hanya kagum dengan keberaniannya yang mau melamarku dan menikahiku saat ini juga. kamu begitu baik, mengizinkan aku bertemu dengan mantan suamiku sendiri, walau sebenarnya kamu terluka dan menyembunyikan semua itu. "
Setelah mendengar kata-kata yang terlontar dari mulut Indah, saat itulah Deni mulai terdiam ia tak bertanya lagi, sepertinya Deni sudah puas dengan jawaban yang terlontar dari mulut istrinya itu.
*******
Sesampainya pulang di rumah, Indah mengajak Deni untuk berada di rumahnya. Ia tak mau rumah peninggalan ibunya kosong begitu saja, maka diputuskanlah Deni tinggal di rumah indah.
Ada rasa canggung menyelimuti Deni dan juga Indah, lelaki yang belum berpengalaman itu bingung setelah menikah apa yang harus ia lakukan, karena dirinya yang tak biasa menggoda wanita. Apalagi berdekatan begitupun berteman dengan wanita.
Deni harus bisa melupakan masa-masa remaja seperti orang lain rasakan, bagaimanapun itu, Deni tetap bersemangat karena ada sang ibu yang selalu menyemangatinya.
Indah yang memang sudah lelah dengan pesta perkawinan, kini beranjak untuk segera masuk ke dalam kamar mandi. Ia membasuh badannya, membersihkan semua keringat yang menempel seharian.
saat air mengguyur ujung kepalanya, terasa begitu menyegarkan. Pikiran yang menumpuk karena masalah, kini serasa sirna sekejap dengan siraman air yang sangat menyegarkan.
sedangkan Deni yang salah tingkah, bolak-balik di depan pintu kamar Indah. di momen setelah pernikahan, dia bingung harus mendekati Indah dengan cara bagaimana.
Naluri kelakiannya, terasa oleh dirinya sendiri. Iya tidak ingin menyia-nyiakan malam pertama yang selalu dinanti oleh sepasang pengantin.
Pintu kamar mandi terbuka, bau sabun menyeruak ke dalam kamar tidur. Deni yang mencium aroma sabun mandi itu, membuat hasratnya tiba-tiba muncul. apalagi dengan keadaan Indah yang begitu seski. Dengan handuk melingkar pada tubuhnya.
Deni benar-benar bingung, iya harus melakukan sesuatu yang pastinya membuat Indah senang. Tapi caranya bagaimana?
__ADS_1
Indah yang melihat Deni salah tingkah tentu saja mengerti, apa yang diinginkan anak remaja seusia Deni.
Indah yang memang sudah berpengalaman, perlahan mencoba mendekat ke arah remaja yang sudah berani mengatakan janji suci dalam sebuah ikatan pernikahan. Walaupun banyak masalah yang terjadi, Indah juga tak mau menyia-nyiakan momen yang seharusnya dinanti-nanti oleh sepasang pengantin.
"Deni."
Wajah Deni memerah setelah apa yang ia lihat, handuk yang tadinya melingkar pada tubuh Indah tiba-tiba terlepas. Tentu saja membuat kedua mata anak remaja itu membulat.
Indah semakin mendekat, melayangkan aksi yang seharusnya ia lakukan saat itu juga. Tapi dengan Deni, dadanya tiba-tiba bergetar tak karuan. ia mencoba menenangkan diri, walau sebenarnya naruri laki-lakiannya sudah terpancing.
"Apa yang terjadi denganku? " Gerutu hati Deni.
Mencoba mengatur napas, agar semua bisa terkendali. Seluruh tubuhnya bergetar.
"Deni, kamu kenapa? "
Tangan putih mulus Indah mulai mengusap perlahan pipi kiri Deni, mencoba untuk tetap tenang dan mengontrol diri." apa kamu gugup. "
Indah tak menyangka dengan apa yang ia lihat, Deni seperti lelaki yang ketakutan, padahal naluri kelakiannya sudah mengajaknya untuk bermain.
" santai saja Deni, aku juga tahu kamu ingin tapi kamu bingung melakukannya."
Deni menelan ludah, lihat kecantikan si pemilik mata sipit itu, bibir tipisnya semakin mendekat ke arah Deni.
Entah karena dorongan yang mungkin sudah dibuat oleh Indah, pada akhirnya Deni memberanikan diri, memeluk tubuh cantik dan mulus itu.
"Aku mencintai kamu, Indah. "
Mendengar kata kata yang terlontar dari mulut Deni, saat itulah pergulatan mereka berlanjut. Deni yang masih ragu ragu, ternyata melakukanya. Walau mungkin tidak sepengalaman Indah. Tapi bagi Indah, cinta akan mengantarkanya pada kebahagiaan.
Lampu yang tadinya menyala, kini dimatikan seketika. Membuat hawa panas membara bagi kedua insan yang memadu kasih.
__ADS_1
Bagaimana dengan nasib Anna dan Galih?