Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 188 Pergi ke penjara.


__ADS_3

Raut wajah wanita tua itu, memperlihatkan kekesalan pada Pak Sodikin, ia berkacak pinggang dan bertanya?" Kemana Si Sari?"


"Istri saya ada lagi pakai baju, ibu siapa ya!?"


"Sudah jangan banyak nanya, cepat panggilkan dia kesini."


Memutar bola mata dengan raut wajah tak menyenangkan, Pak Sodikin kini memanggil sang istri.


"Bu, ibu."


Belum ada jawaban.


Wanita dengan postur tubuh gendutnya, masih berdiri menunggu Bu Sari datang menghadapnya pada saat itu juga.


"Mana istrimu."


"Ya tunggu sebentar ya, bu."


"Cepat, saya masih banyak urusan."


"Baik, baik. Bu."


Pak Sodikin kini menghampiri istrinya yang masih berada di dalam kamar," Bu, sudah belum ganti bajunya?"


Wanita tua dengan rambutnya yang tergulung rapi, kini keluar dari dalam kamar," ini Pak baru beres, sabar napa."


" Bukan masalah sabarnya, ada orang yang nyariin kamu dari tadi."


"Nyariin aku? Siapa?"


"Gak tahu, dia itu kaya marah besar sama kamu. Orangnya gendut!"


Bu Sari menyipitkan kedua matanya, mengingat wanita bertubuh gendut. Yang ternyata itu adalah ibu kosan," yang tubuhnya gendut itu, seingat ibu orang yang punya kontrakan ini."


Terlihat Bu Sari ketakutan dan kebingungan. "Gimana ini."


Pak Sodikin merasa bingung dengan tingkah istrinya ia mulai bertanya?" Ibu ini kenapa, malah kaya orang ketakutan begitu."

__ADS_1


Mencoba tetap tenang dan menjawab perkataan sang suami." Gimana ibu nggak bingung. Ibu belum bayar uang kontrakan!"


Mendengar hal itu, tentulah membuat Pak Sodikin merasa heran, bukanya dia sering mengirim uang kepada istrinya, dengan nominal yang lumayan besar.


"Terus uang yang bapak kasih untuk ibu ke mana?"


Bu Sari menelan luda dan tentunya menjawab." Ya habis pak, pake ...."


"Pake apa? Masa ia uang baru kemarin sudah habis!"


"Ya, habisnya kurang!"


"Kurang, itu uang tiga juga bu, masa ia kurang. Uang itu hasil bapak jual padi sama orang."


"Kan pak, di kota .... "


"Alah, ibu banyak alasan saja."


Bu Sari terdiam, saat itulah suara teriakan terdengar kembali.


"Bu Sari keluar kamu."


Bu Sari memegang tangan suaminya, seakan meminta perlindungan," Ayo pak, kita samperin, ibu takut."


"Ya ibu, suruh siapa nunggak bayar kontrakan. Jadinya ke gini." ucap Pak Sodikin, ia kini melangkah bersama istrinya yang bersembunyi di balik punggung sang suami.


"Ayo, ibu yang ngomong sama ibu kontrakannya."


"Nggak ah pak, ibu takut."


"Bagian gini aja takut. Salah siapa uangnya habis."


"Ya elah pak, tinggal ngadepin aja susah amat."


"Hah, bukan ngadepinya. Ibunya aja tidak bisa megang amanat uang yang bapak berikan."


Sebenarnya Bu Sari tak menghamburkan uang yang diberikan suaminya kebanyakan uang itu habis untuk menaiki taksi, hanya untuk menemui Raka dan mengantarkan makanan yang selalu diminta oleh anaknya itu.

__ADS_1


Bu Sari sebenarnya bingung harus menjelaskan dari mana lagi, jika ia membahas habisnya uang yang diberikan sang suami untuk anaknya, kemungkinan besar sang suami akan memarahi Raka.


Pak Sodikin datang menghadapi orang yang mempunyai kontrakan, terlihat sekali Wanita itu sudah tak tahan ingin memarahi Bu Sari.


Di mana Bu Sari, tengah bersembunyi di balik punggung sang suami." kamu kenapa? Bersembunyi di sana, Sari. Cepat bayar uang kontrakan, bulan ini kamu belum bayar kontrakan spesial pun."


Pak Sodikin yang tak tega melihat istrinya dimarahi orang lain, kini menyodorkan beberapa lembar uang berwarna merah pada pemilik kontrakan." ini kontrakannya sudah saya bayar."


"Nah gini dong, kalau begini kan enak bayarnya kali-kali jangan telat melulu ya, kalau telat lagi. Siapa siap kalian terusir dari sini, Sari." Ancan wanita pemilik kontrakan itu. Dengan wajah seperti ingin menekram Bu Sari yang terlihat ketakutan.


Pak sodikin menutup pintu rumahnya, ia mulai bertanya kembali kepada sang istri, setelah kepergian pemilik kontrakan yang ia tempati dengan istrinya itu sudah tak terlihat lagi.


"Bapak mau tanya sama ibu. Uang yang kemarin dikirim itu habis pakai apa? Cepat jawab yang jujur, " ucap sang suami melayangkan pertanyaan untuk Bu Sari.


"Sebenarnya uang itu habis pakai bolak-balik jenguk anak kita, Pak, belum lagi membuatkan makanan yang disukai Raka, jadi Raka sering sekali menyuruh ibu mengantarkan makanan padanya, karena ia tak bisa makan, makanan penjaran, " balas Bu Sari seperti tak ada raut penyesalan sama sekali dalam dirinya.


"Haduh ibu ini gimana, sih Ibu enggak kasihan apa sama bapak, banting tulang di kampung, uangnya habis hanya untuk Raka anak yang tidak tahu di untung itu." hardik lelaki tua dengan raut wajah yang sudah terlihat keriput.


"Bapak jangan ngomong gitu lah, bagaimanapun dia itu anak kita, " bela Bu Sari dengan begitu beraminya.


"S udahlah Bu. Jangan terus-terusan bela lagi Raka. Bapak sudah muak dengan pembelaan ibu yang tidak ada gunanya. Ayo sekarang kita berangkat, Bapak mau kasih pelajaran untuk anak tidak tahu diri itu, " ucap sang suami dengan berusaha menahan rasa kesal dalam dadanya.


"Pak, tunggu dulu. "Bu Sari kini memegang lengan sang suami agar berhenti sejenak. Iya kini mengatakan kepada suaminya untuk tidak memarahi Raka, karena dirinya yang tak tega jika anak semata wayangnya itu mendapatkan bentakan dari ayahnya sendiri.


Namun Pak sodikin tetap pada pendiriannya, ia akan memarahi anaknya sendiri dan memberi pelajaran agar tidak seenaknya memerintah kedua orang tuanya, hanya demi kepentingan dirinya sendiri.


"Pak Bapak dengar ibu ngomong nggak, kalau nanti kita sudah sampai di penjara. Ibu harap bapak jangan memarahi Raka ya, kalau sampai Bapak memarahi dia, ibu akan kena akibatnya"


Selalu perkataan itu lagi yang selalu di bahas Bu Sari terus menerus, seperti membuat kepala Pak Sodikin terasa ingin pecah.


"Sudahlah.Ibu tak usah ngatur bapak lagi, gimana bapak saja. Bapak sudah muak dengan tingkah anak kita itu yang semakin ke sini semakin berani memerintah orang tua," pekik sang ayah yang ingin segera memberi pelajaran pada anaknya sendiri.


"Bapak ini heran sama ibu, tadi ngomongnya iya. Terus sekarang beda lagi. Ibu itu mau terus-terusan diperbudak oleh anak sendiri?" tanya Pak Sodikin.


"Ya tidaklah, masa iya Ibu diperbudak oleh Raka ibu kan cuman .... "


"Sudah, sudah, jangan ngomong lagi. Bapak pusing, sebaiknya. Ayo cepat kita pergi menemui Raka. Bapak sudah malas mendengar penjelasan ngawur dari mulut ibu ini." cetus Pak Sodikin, sedikit mencubit bibir istrinya dengan pelan.

__ADS_1


Bu Sari mengerutkan kedua bibirnya, ia kini melangkah mengikuti langkah kaki sang suami, untuk menaiki angkutan umum karena hanya menaiki itu mereka bisa mengirit, dan menghemat uang untuk biasa sehari hari.


__ADS_2