
Selang beberapa menit kemudian Danu datang, dimana Siren mendekat dan memegang lengan lelaki yang menjadi suaminya.
Sedangkan Indah hanya melipatkan kedua tangan tak peduli dengan tingkah Siren pada Danu.
Pak Rt mendekat, ia sudah mengenal Danu. " Untung saja ada Pak Danu, oh ya saya mau meluruskan kekacauan ini. "
Danu mengerutkan dahinya dan dan bertanya dihadapan Rt di kediaman Indah." meluruskan tentang masalah apa? "
Pak Rt kini menjelaskan semuanya, hingga dimana Danu mulai paham, sedangkan Indah masih saja diam. Ia terlihat malas berdebat.
Ada rasa kesal dengan tingkah Siren yang seperti anak kecil, membuat Danu tentu saja muak. Bagaimana bisa ia bertahan dengan Siren.
"Siren, kenapa kamu masih mengganggu Indah, dia itu tidak salah, dan juga kamu ini sudah aku talak tinggal besok kita hadir dii persidangan."
"Mas, kamu ini jangan seperti ini dong. Aku tahu kamu berubah karna diakan."
"kamu ini ngomong apa sih, Siren, sudah jelaskan kamu yang sudah menjebak dan membohongiku. Jadi jangan selalu membalikkan fakta dan keadaan. Aku muak mendengar drama yang selalu kamu buat l, jadi sebaiknya kamu pergi dari sini. Aku tidak mau lagi berurusan dengan kamu, karena besok hari di mana pengadilan kita akan dilaksanakan dan sekarang juga aku tidak ada lagi tanggungan terhadap kamu, karena anak yang kamu kandung itu ternyata. Bukan darah dagingku sendiri sebaiknya kamu jangan selalu mengganggu kehidupan Indah, karena Ia memang tidak salah. "
Beberapa kali Danu mencoba mengusir Siren, akan tetapi Siren seperti tidak punya rasa malu sedikitpun, dia tetap berdiri di hadapan Danu.
Perkataan yang terlontar dari mulut Danu, tentu saja membuat kedua mata Siren mengeluarkan air mata, ia tak suka dengan nada bicara Danu. Hingga wanita itu mencoba mendekati Danu dengan cara keluguannya." tapi mas …."
Belum perkataan Siren terlontar semuanya, Danu tiba tiba membentak wanita yang pernah menjadi istrinya," Siren sudah cukup, sebaiknya kamu jangan terus menyela omongan aku, kamu sebagai wanita harusnya sadar diri akan kesalahan." Siren terlihat mengemis cinta dari Danu tapi, lelaki itu sudah tak peduli lagi, ia malas dengan raut wajah memelas Siren.
Sekali lagi, Danu mulai mengusir Siren kembali. "Sebaiknya kamu cepat pergi dari sini sudah cukup kamu tampilkan wajah memelas mu itu, aku sudah muak dan jijik. Oh ya, jika kamu masih menimpal ucapanku lagi, aku tak segan segan akan laporkan kamu ke polisi." Terlihat sekali Danu mengancam wanita yang akan menjadi mantan istrinya itu.
Mendengar perkataan Danu, membuat Siren sangat sakit hati, "Kenapa kamu jadi seperti ini kepadaku, kamu tega mas."
Mengusap kasar wajah, itulah yang kini dilakukan Deni, dihadapan Siren yang bersikukuh memelas akan apa yang ia inginkan.
__ADS_1
"Sudahlah Siren, aku lelah berdebat terus menerus dengan kamu, kamu malah bicara bahwa aku ini tega. Siren coba kamu pikirkan dulu ucapanmu itu. Bukannya kamu yang tega sudah membohongiku, dan ini untuk yang terakhir kalinya, sebaiknya cepat kamu pergi dari sini atau sekarang aku telepon polisi karena kamu sudah membuat kekacauan di rumah indah," Danu mulai memperlihatkan ponselnya. Dia segera menekan tombol untuk menelepon polisi, dimana Siren langsung menyuruh Danu untuk menghentikan apa yang akan ia lakukan.
"Hentikan, jangan telepon polisi, aku sekarang juga akan pergi dari sini." Siren mulai menatap ke arah Indah dengan tatapan penuh kebencian.
Wanita berambut panjang itu, kini membalikkan badan untuk segera pergi dari hadapan Indah dan juga Danu. Dengan menaiki taksi. Melihat kepergian Siren membuat hati Indah sedikit lega.
******
Pak RT yang berada di sana, kini angkat bicara setelah kepergian Siren." Sepertinya saya harus pergi karena masalahnya sudah selesai." Pamitnya Pak Rt, membuat Indah mulai berjalan ke arah lelaki tua itu.
"Maafkan saya atas keributan ini pak RT." Indah berusaha menyejukan suasana dengan meminta maaf. Indah mulai melanjutkan perkataannya." Dan saya juga minta maaf sudah membuat pak RT jauh-jauh datang ke sini, hanya karena masalah saya dan Mas Danu."
Lelaki tua itu tersenyum lebar,"tidak usah meminta maaf, itu sudah jadi tugas saya sebagai RT di sini, untuk menjadikan warga nyaman dan aman."
" Terima kasih Pak RT. "
*******
Setelah kepergian Pak Rt begitupun Siren.
kini hanya ada Danu dan juga Indah, mereka berdua saling berhadapan satu sama lain.
Di mana rasa canggung terjadi kembali pada kedua insan yang saling bertatapan.
Padahal baru saja Danu datang bersama ibunya dan sekarang dia berada di hadapan Indah lagi.
"Indah."
Saat Danu mulai memanggil nama Indah, saat itulah Indah membalikkan badan dan masuk ke dalam rumah, ia tak memberikan kesempatan untuk Danu berbicara lagi.
__ADS_1
Danu berusaha mengejar Indah, memegang tangan Indah dengan berkata," Sampai kapan kamu akan menjauhi aku seperti ini, Indah."
Indah tak menyangka satu perkataan pun di depan Danu, ia menghempaskan tangan mantan suaminya dan membalikkan badan." Sudahlah mas, izinkan aku hidup tenang dan bahagia. Sekarang kamu tahu sendirikan, aku malah yang tersalahkan.
"Indah, kamu jangan dengarkan apa yang dikatakan Siren padamu."
Indah tak menjawab lagi perkataan Danu, ia tetap saja berjalan pergi hingga menutup pintu rumahnya.
Danu yang berada di luar rumah Indah, hanya bisa pasrah dengan perlakuan Indah, karena ulahnya sendiri, Danu yang merasakan penyesalan.
"Indah, aku pulang dulu. Oh ya Indah, aku mencintaimu."
Teriakan Danu membuat hati Indah merasa sakit,
"Dengan gampangnya kamu mengatakan kata cinta saat Siren sudah membohongimu, sekarang aku sudah memutuskan semuanya. Aku tak mau lagi bersama lelaki yang hanya mencintaiku di saat ia menyesali perbuatan nya, aku akan melepaskan rasa cintaku terhadapmu. Mas Danu."
Kata kata yang terlontar dari mulut Indah tentu saja terdengar oleh Danu, dimana ia masih berdiri di depan pintu rumah Indah.
"Aku akan tetap mengejar cinta kita, Indah. Aku tidak akan melepaskan kamu begitu saja."
Teriakan Danu malam membuat Indah menangis, ia ingin bebas tak mau terbelenggu akan Danu.
"Aku tak peduli mas, aku akan gugat kamu. Jika kamu bersikeras tidak mau membebaskanku."
"Indah, beri aku kesempatan lagi. Please."
"T idak ada kesempatan lagi untukmu mas, maafkan aku mungkin kita harus berjauhan agar kita terbiasa. Sebaiknya kamu pergi dari sini mas, sebelun aku melakukan hal yang bodoh untuk melukai diriku sendiri. "
"Jangan berbuat gila kamu, Indah. Aku akan pergi dari sini, tapi bagaimana pun aku akan mempertahankan keutuhan rumah tangga kita, karna kamu harapanku bisa bangkit Indah. "
__ADS_1