Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 209 Obat.


__ADS_3

Di usia pernikahan yang kedua tahun Galih dan Anna. Farhan sudah mengijak umur sembilan belas tahun, dimana akan hadirnya seorang bayi mungil dalam perut Anna.


Namun dalam usia ke sembilan belas tahun ini, dia harus menjaga sang ibu yang terkadang selalu kambuh dalam masa trauma, apalagi setelah mendapatkan pemerkosaan sadis dari justin. Ainun harus berdiam diri di rumah sakit seperti dulu, mendapat pemeriksaan karena ditakuti rasa trauma yang tak diperlihatkan Ainun. Malah mucul dan tiba tiba mengancam nyawanya sendiri.


Farhan selalu berusaha mengigatkan sang ibunda, jika butuh sesuatu tinggal bilang, karena ia tahu Ainun butuh orang yang dekat dengannya dan memberi suport.


Mana mungkin Farhan akan membiarkan Galih menjaga Ainun. Karena sekarang Galih bukan siapa siapa lagi Ainun, hanya sekedar mantan.


Ia takut jika Ainun terlalu dekat dengan papahnya, malah akan merusak rumah tangga Anna.


Dengan sebisa mungkin, Farhan meluangkan waktu menjaga sang ibu dengan kesibukan kuliahnya.


"Farhan, apa kamu tidak kelelahan. Menunggu ibu di rumah sakit?" tanya Ainun. Anak semata wayangnya berusaha menghilangkan keluh kesah dan rasa lelah di hadapan sang ibu.


Memegang tangan, Farhan selalu menampilkan senyuman, saat ia menasehati atau memberi semangat kepada sang ibu." Farhan tidak lelah bu, Farhan senang jika dekat besama ibu setiap saat."


Ainun melihat ada tanda kebohongan dari wajah anaknya yang sengaja ditutupi agar sang ibu tidak bersedih.


"Kamu ini jangan bohongi ibu, terlihat sekali. Kamu ini sedang berbohong," tegas sang ibu. Memegang tangan Farhan, dengan begitu erat.


"Ya ampun bu, masa ia Farhan berbohong. Ibu tidak lihat senyum Farhan yang manis ini," gerutu Farhan, melebarkan kedua ujung bibir.


Ainun malah ingin tertawa dalam balik kesedihanya, melihat tingkah konyol anak semata wayangnya.


Ia teringat dengan Galih, seorang lelaki bertanggung jawab yang ia abaikan. Dulu tingkah Galih sama dengan Farhan, di saat Ainun sedih lelaki yang mencintainya selalu menghibur sama seperti Farhan.


Namun, dulu Ainun tak pernah menanggapi sedikit pun, ia malah lebih mengadalkan perawat yang sudah dibayar mahal oleh Galih.


Lamunan membuat Ainun masuk ke masa lalu, hingga Farhan mencubit kedua pipi ibunya.


"Ibuku yang cantik, kenapa melamun."


Ainun terdiam, lamunan membuyar.


"Malah diam." Farhan melepaskan cubitan tanganya yang ia cubitkan pada kedua pipi sang ibu.

__ADS_1


"Kenapa Farhan?"


Sudah jelas, Ainun melamun, sampai apa yang dikatakan Farhan tak ia sadari.


Menyenderkan dagu pada telapak tangan, Farhan menatap lekat ke arah sang ibunda," Apa sih yang sebenarnya ibu lamunin, setiap kali Farhan merayu ibu membuat Ibu tertawa, ibu itu selalu diam sampai melamun."


Mana mungkin Ainun mengatakan kejujurannya, di mana ia mengingat Galih yang mengurusnya saat traumanya selalu kambuh.


"Coba katakan sama, Farhan?"


Ainun sudah berjanji tidak akan membahas Galih di hadapan Farhan, ia mulai mencari alasan agar Farhan tidak mencurigai pikirannya yang memikirkan tentang mantan suami.


"Ayo katakan pada, Farhan?"


Ainun memajukan kedua bibirnya, agar Farhan tak terus bertanya," asal kamu tahu, Ibu ini bosan di rumah sakit terus, ingin cepat-cepat pulang."


"Mm, kalau Farhan dokternya, pasti Farhan Suruh ibu pulang. Biar bisa rebahan di kasur."


Ainun tertawa dengan candaan Farhan, anak remaja berusia sembilan belas tahun merasa bahagia dikala melihat tawa sang ibunda terpancar begitu bercahaya, rasa lelah yang amat menyerang Farhan saat itu, hilang seketika dengan sebuah tawa yang terdengar begitu renyah.


"Kamu ini ada ada aja."


Sampai Farhan kini terlibat.


"Farhan, kalau kamu lelah tidurlah. Pulang ke rumah, biarkan ibu di jaga oleh suster."


Farhan tak setuju akan perkataan sang ibunda, Iya tetap saja mengelak tidak mau pulang atau meninggalkan ibunya di rumah sakit sendirian.


Ia tak mau jika ada orang jahat sampai menyakiti ibunya lagi, sebagai seorang anak. Farhan akan melakukan apa saja saat Ainun masih hidup.


"Kamu ini keras kepala ya, sama seperti .... "


Hampir saja Ainun, menyebut nama Galih, ia seketika menghentikan ucapannya sebelum Farhan menyadari apa yang ia katakan.


"Kenapa bu, kok langsung diam begitu?" tanya Farhan, Ainun berusaha menutup mulut. Ia mengalihkan pembicaraan ke hal yang lain.

__ADS_1


"Kamu sudah makan belum?" tanya Ainun berusaha mengalihkan pembicaraan, agar Farhan tadi mencurigai bahwa Ainun akan menyebut nama Papanya.


Mengerutkan alis Farhan merasa heran dengan pertanyaan yang berulang kali dikatakan ibunya. Padahal baru saja ibunya menanyakan perihal tentang makan.


"Kok, kamu malah diam sih Farhan, ibu tanya? Kamu sudah makan belum?" tanya kembali Ainun kepada anaknya.


"Loh, bukannya dari tadi ibu tanya Aku sudah makan apa belum!" jawaban Farhan membuat Ainun merasa Serba Salah, iya kembali gugup dengan pertanyaan yang terus berulang kali ia katakan sampai dirinya lupa.


"Oh iya ya. Ibu lupa." memukul jidat wanita tua itu memperlihatkan senyuman, tentu saja Farhan yang tak mencurigai perkataannya tertawa senang di saat Ibunda nya belajar bercanda.


"Apaan sih Ibu ini, nggak jelas tahu." kini terdengar dari kedua ibu dan anak di dalam ruangan tertawa bahagia.


Sedangkan Intan masih mengintip dan menyelidiki Ainun yang berada di dalam ruangan bersama anaknya.


Intan yang sudah berdandan rapi seperti suster, kini memakai masker agar tidak dicurigai oleh Ainun dan juga Farhan.


Ia mendekat ke arah Ainun, dengan membawa sebuah suntikan dan juga obat yang akan diberikan pada Ainun.


Intan sengaja menukarkan obat suntik untuk Ainun, dengan obat yang akan membuat Ainun menderita.


Farhan merasa kenal dengan raut wajah yang ditutupi masker, wajah Suster itu seakan tak asing.


Intan yang berpura-pura sebagai suster, kini menunjukkan sebuah jarum suntik. untuk disuntikkan segera kepada Ainun.


"Siapa-siap saja. Ainun, kamu akan merasakan apa yang aku rasakan saat dipecat oleh Tuan Galih," gumam hati Intan, yang sudah memulai rencananya untuk menyuntikkan jarum suntik pada infusan Ainun.


Farhan tiba-tiba saja menghentikan suster yang akan menyuntikkan jarum suntik pada infusan ibunya.


"Tunggu sus. Bukannya tadi ada suster datang ke ruangan ini mengecek Keadaan ibu, masa baru tadi sudah datang lagi seorang suster yang akan menyuntikkan jarum suntik pada infusan ibu saya, apa tidak berbahaya Sus."


Farhan terlihat begitu kuatir dengan ibunya, sampai dimana ia menghentikan sang suster menyuntikkan obat pada infusan Ainun.


"Tunggu."


Intan yang menjalankan aksinya merasa geram, melihat Farhan menghentikkan dirinya.

__ADS_1


"Kenapa ya?"


"Tidak kenapa kenapa, hanya saja saya tidak mau ibu saya di beri obat terus menerus!"


__ADS_2