
Mereka berdua bergegas pergi, setelah bersiap-siap memakai pakaian yang begitu rapi.
Intan memegang tangan Lulu, untuk membawanya berjalan mencari sebuah ojek ataupun angkot umum.
Saat Lulu dan Intan berjalan, anak berumur tiga tahun itu melihat mobil bis terus melintas.
"Kak, bukannya ke supermarket harus naik bis ya, katanya di sini jauh."
Intan tak menyangka jika anak itu begitu pintar, iya tahu jika supermarket disini berada jauh jaraknya.
"Lulu, pinter tahu dari mana?" tanya Intan, begitu penasaran kepada anak berumur tiga tahun itu. Dari mana ia tahu perjalanan menuju supermarket.
"Kan, saat kita datang ke sini Lulu sudah mengingat semua jalan yang kita lalu!" jawab Lulu, Intan tak menyangka jika otak anak berumur tiga tahun itu begitu cerdas.
"Waw, Lulu hebat. Kakak sampai nggak nyangka Loh, Lulu bisa langsung mengigat jalan sampai sedetail itu," ucap Intan dengan kepura-puraannya, ia memuji agar anak itu mempercayai bahwa dirinya itu begitu baik dan tidak akan melakukan kesalahan seperti kemarin.
kedua pipi Lulu memerah, setelah mendapat pujian dari intan, anak berumur 3 tahun itu begitu senang dipuji, apalagi mendapat hadiah.
" Kebetulan sekali kakak sekarang nggak mau naik bis, gimana kalau kita naik ojek saja biar kelihatan seru gitu, " ucap Intan, merayu Lulu agar mau mengikuti sarannya. Jelas Intan sengaja, karena tujuan dia menemui Marimar.
Intan tersenyum lebar, ia sudah berhasil membawa Lulu keluar dari rumah Nita. " Ya sudah, ayo kak."
Begitu polosnya Lulu, menarik tangan Intan untuk segera mencari ojek." Tuh kak, ojegnya ada?"
"Iya, ayo kak."
Lulu seperti tak sabar, ia menarik narik tangan Intan untuk segera naik pada ojeg. "Ayo kamu naik duluan."
Intan membantu Lulu untuk naik ke motor, terlihat sekali Lulu begitu ceria akan dibawa oleh dirinya.
Saat di dalam perjalanan, terlihat Lulu seperti kebingungan melihat jalan yang baru ia lalui.
__ADS_1
"Loh, kak. Kita mau ke mana?" tanya Lulu pada Intan, dimana wanita bermata bulat itu sudah curiga jika Lulu pasti akan bertanya tentang keberangkatan mereka.
Intan mengusap pelan kepala rambut Lulu dengan lembut saat dalam perjalanan menaiki ojeg.
"Lulu sayang, nanti kamu juga akan tahu sendiri kok."
Senyuman jahat terpancar, waktu masih menunjukkan jam sebelas siang, masih banyak waktu untuk menjual Lulu ke Marimar, dan ia bisa pergi dengan membawa uang puluhan juta.
"Owhh, rasanya aku tak sabar memegang uang puluhan juta dari Marimar."
Intan membayangkan bahwa dirinya telah menghitung uang puluhan juta yang ia terima dari Marimar.
Lulu semakin tak nyaman dengan perjalanan, bersama dengan Intan, yang merasa tak enak hati. Perasaan tiba-tiba tak karuan, ya ketakutan sendiri.
"Kak, ini beneran kan kita mau ke supermarket, kok jalanannya beda banget yang dibayangkan Lulu?" pertanyaan Lulu membuat Intan sedikit geram, di setiap perjalanan anak berumur 3 tahun itu terus saja mengoceh, membuat kedua telinga Intan tak nyaman, ia sangatlah kesal.
Demi melancarkan aksinya, Intan berusaha keras dengan selalu bersabar menjawab perkataan Lulu, kalau sebenarnya ya begitu sangat kesal, ingin sekali membukam mulut anak itu rapat-rapat agar ia tidak terus mengoceh dan selalu bertanya.
"Loh, kak. Ini kan rumah mewah bukan supermarket?"
Intan berusaha tetap tersenyum, membuat Lulu agar tidak ketakutan, saat bertemu dengan Marimar.
"Iya, kita ke sini dulu sebentar ya. Kak Intan mau bertemu sahabat kakak dulu, soalnya ada janji sama dia!"
Lulu hanya percaya begitu saja, di mana Intan menarik tangannya secara perlahan, membawa anak itu menuju ke rumah Marimar.
Rumah mewah yang dilihat Lulu terasa menyeramkan, apalagi dengan desain batu alam tanpa cat sedikit pun, membuat Lulu mengira itu adalah sebuah rumah penyihir.
"Kak, Lulu. Takut ke sini, kita pulang aja yuk, supermarket," ajak Lulu terlihat sekali anak kecil berumur 3 tahun itu merasakan sesuatu yang aneh pada hatinya.
Apalagi saat melihat burung-burung berwarna hitam, menatap ke arah Lulu. Seakan sebuah isarat agar Lulu berhati hati.
__ADS_1
"Lulu jangan takut, teman Kakak baik kok."
Intan terus meyakini anak itu.
Di mana sopir yang pernah mengantarkan Intan melihat anak kecil dibawa Intan dengan sengaja ke rumah majikannya.
Padahal sopir itu sudah memberitahu pada Intan agar berhati-hati dengan majikannya, tapi kenyataannya, Intan tak mengubrik perkataan sang sopir. Membuat sopir itu menggelengkan kepala, seakan ada sesuatu yang terjadi pada Intan dan Lulu.
"Loh, Nona datang lagi ke sini. Dan ini?" tanya sang sopir menunjuk ke arah Lulu, dimana anak itu terlihat ketakutan sekali, kedua matanya ia sipitkan. Pundak yang tegak ia turunkan kebawah, sopir sudah menduga, kalau Intan tak mendengarkan nasehat dan juga perkataanya.
"Eh, Pak Sopir kita ketemu lagi, kebetulan saya sama adik saya ada urusan sama Nyonya Marimar, apa ada dia di sini?" tanya Intan, lelaki muda berumur dua puluh tujuh tahun itu, menatap ke arah Lulu dengan raut wajah kasihan.
"Ya ampun kasihan sekali anak ini, sepertinya ia ketakutan sekali saat dibawa ke rumah Nyonya Marimar," gumam hati sang sopir melamun menatap ke arah Lulu.
Intan melambai-lambaikan tangan pada wajah sang sopir, " pak, pak sopir. Loh kok malah melamun?" tanya Intan merasa heran dengan gelagat sang sopir.
Lamunan sopir itu membuyar, ia menatap ke arah Intan, " eh. Saya nggak kenapa-kenapa kok Non, mau ke temu Nyonya Marimar."
Sopir itu tak tega, melihat Lulu, ia mulai mengatakan jika Marimar tidak ada." maaf sebelumnya Nona, Nyonya Marimarnya .... "
Belum perkataan sang sopir terlontar semuanya, Marimar muncul dari balik pintu, ia ternyata tengah menata bunga bunga di depan rumahnya.
"Bunga cantik."
Mendengar suara Marimar, membuat Intan mentapa ke arahnya. "Wah, Pak Sopir itu Nyonya Marimar."
Sopir itu mengusap kasar wajahnya, padahal ia berencana berbohong pada Intan bahwa Nyonya Marimar, tidak ada. Tapi.
"Bisa gawat, kalau sampai Nyonya Marimar senang lihat anak yang dibawa nona itu ke sini, kasihan sekali anak itu, seperti dipaksa datang ke sini." Guman hati Pak Sopir, terlihat sekali ia gelisah. Ingin menyelamatkan tapi tak berdaya, karena ia bergantung pada sang majikan. Yang sudah menggajihnya cukup lumayan besar.
"Ya sudah saya mau samperin Nyonya Marimar dulu, ayo Lulu kita ke sana." ucap Intan menarik tangan Lulu, terlihat raut wajah Lulu begitu menyedihkan dan ketakutan. Membuat sang sopir membuang wajah dari hadapan anak itu.
__ADS_1
Apa yang terjadi dengan Lulu, sebenarnya siapa Marimar itu?