
Aku menarik napas, mengeluarkan secara perlahan, berusaha tetap tenang dan berkata." aku akan mengalah. Ayolah Deni, aku akan mengeluarkan Bu Sumyati dari rumah sakit jiwa."
Sepertinya Deni tertarik, Adam yang menenangkan perdebatan kini bernapas lega, kita akan menyusun rencana, tidak ada dendam pada hati Deni lagi, dia tidak akan menggangguku.
"Anna, besok aku akan datang ke rumah kamu bersama Deni."
Aku hanya menganggukan kepala dan berkata," ya sudah aku tunggu kedatangan kamu."
Deni hanya terdiam, tak berkata satu patah katapun. Sampai dimana aku berpamitan pulang bersama Pak Galih.
Di dalam perjalanan," Anna. Sepertinya kita akan mengetahui semuanya secepatnya."
"Benar pak, aku sudah tidak sabar mengetahui siapa pelakunya. Kalau memang benar itu Mas Raka, aku tak akan mengampuni dia."
Kami berniat pergi untuk memulai pekerjaan yang terus tertunda, dimana usaha warung nasi akan segera dibuka.
Memang terasa melelahkan, tapi inilah kerja keras yang harus aku bangun saat ini juga.
Setelah sampai, aku mulai membuat beberapa resep masakan, menulisnya dan tinggal memberikan pada koki di tempat usahaku.
Kami membuka warung nasi full 24 jam, dengan memberi pegawai waktu jam kerja, karna Pak Galih yang ingin berbisnis denganku. Maka aku harus mengunakan kesempatan ini, membuat menu yang tak membosankan.
Apalagi namanya warung nasi, pasti banyak peminatnya, harga terjangkau dan kualitas tentulah enak. Awal percobaan aku membuat hidangan sederhana, untuk menarik pelagan, mencoba memberi hidangan geratis.
Pak Galih ternyata memberi aku 10 pegawai, agar di 24 jam ini, pegawai silih bergantian di jam kerja. aku beri 3 sip. Antara pagi sore dan malam.
Karna rasa lelah menghantuiku saat itu juga, aku merasa badanku terasa lemas, berusaha tetap kuat demi anak anak dan tak menyusahkan lagi kak Indah.
Perlahan demi perlahan, pelagan silih berdatangan. Padahal aku membuka dijam malam, karna kesibukan di siang hari.
Aku mencari ide agar warung nasi ini tak membosankan jika di lihat pengunjung. Dengan menatap beberapa poster seperti ala ala Cafe, memberikan ruangan nyaman, membuat para pelangan seperti puas.
Menu warung nasi, tapi suasana ala ala cafe. Jujur enggak nyambung dengan temanya tapi ini cara menarik semua pelangan dari yang muda kecil hingga tua.
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Baru buka para pengunjung silih berdatangan. Aku senang.
"Wah. Baru buka sudah ramai ya, sepertinya mereka suka dengan hidangan menu yang kamu buat, Anna."
Aku tersenyum di saat Pak Galih memujiku." Enggak usah memuji berlebihan pak, enggak baik. Semua inikan berkat bapak, dan lagi aku bisa bangkit dan menjadi pengusaha berkat bapak juga."
Tid .... tid ....
__ADS_1
Aku mendengar suara kelakson mobil, dimana mobil berwarna merah tiba tiba saja berhenti di warung nasiku ini.
" Dengan bapak Galih?"
"Iyah, saya sendiri!"
Lelaki yang mengendarai mobil itu memberikan dua kunci kepada Pak Galih." Ini kuncinya. Dan bapak tanda tangan ini dulu."
Lelaki berkumis tipis itu menandatangani surat yang diberikan lelaki yang memberikan kunci pada Pak Galih.
Setelah selesai," Terima kasih. Pak."
Lelaki itu pergi begitu saja. Hingga dimana Pak Galih memberikan aku kunci mobil, membuat aku terdiam dan heran.
"Ini apa ya, pak. Kok kunci mobilnya di kasih ke saya?"
"Itu buat kamu, saya memberikannya untuk kamu!:
Apa maskud Pak Galih, memberikan mobil baru ini padakku, tunggu, tunggu. Ini mimpikah, aku mencoba mencubit kedua pipiku karna tak percaya.
"Aw, sakit."
"Kamu kenapa, An?"
"Ehh, kata siapa. Kamu harus bayar perbulan dari hasil kerja kamu di tempat usahamu ini?"
"Tapi, saya baru buka usaha pak, dan harus bisa membagi hasil dengan bapak dan para pegawai, saya takut jika nanti mobil ini tidak bisa saya bayar."
"Anna. kamu pasti bisa membayar mobil ini, karna tempat usahamu rame, dan kamu harus yakin. Keberhasilan akan segera dekat pada kamu."
"Benar sih kata bapak, tapi saya tidak tahu cara pakainya."
"Nanti saya ajarin."
Aku tak menyangka, bisa langsung kaya mendadak, setelah dekat dengan Pak Galih, padahal tidak ada niatan hati ini untuk memoroti keuangan Pak Galih.
Karna sudah mulai malam, akhirnya kami berniat untuk pulang ke rumah, aku takut ketiga anak anakku begitu menghuatirkanku.
Di dalam mobil.
"Gimana rasanya punya tempat usaha sendiri."
__ADS_1
"Tentu saja bahagia Pak Galih, baru saja merasakan kesengsaraan saat ini juga saya langsung mendapatkan kejayaan."
Pak Galih, seakan mengigat sesuatu." Anna, apa kamu ingat?"
"Ingat apa pak?"
Pak Galih terlihat mengingat sesuatu yang tak aku ingat sama sekali. Entah apa, membuat aku tentu saja penasaran.
"Anna, kita lupa menunggu Siren di rumah sakit?"
Aku kira apa, ternyata Pak Galih membahas Siren, wanita perebut suami kakakku.
" Ya sudah lah Pak, gapain coba kita ingat sama si Siren itu, biarkan saja, toh itu ulah dia sendiri."
"Tapi kan, Anna,"
Belum perkataan Pak Galih terlontar semuanya, aku langsung berkata," sudahlah Pak, biarkan saja dia di rumah sakit, kan ada yang menemani dia di rumah sakit."
"Benar juga sih."
Aku tak memperdulikan lagi Siren, setelah mengantarkannya dia ke rumah sakit, ya, itu juga karna keterpaksaan Kak Indah, yang merasa kasihan pada anak itu. yang terpenting sekarang aku sudah membawa dia ke rumah sakit dan di tangani dokter langsung.
Setelah sampai di rumah, terlihat Kak Indah tengah bulak balik ke sana ke mari, membuat aku mengerutkan dahi.
"Kak, Anna pulang."
"Syukurlah kamu sudah pulang, oh ya. Kakak ingij tanya, bagaimana ke adaan si Siren?"
" Aku enggak tahu, kak. Setelah mengantarkan Siren ke rumah sakit, aku langsung pergi mengurus bisnisku."
"Ya ampun Anna, kamu kok tega. Dia kan lagi hamil, kasihan dia?"
"Sudahlah kak, walau pun dia lagi hamil, kita tak usah menolong dia berlebihan. Biarkan saja dia tanggung sendiri, bukanya dia sendiri yang mulai duluan."
Aku berjalan pergi, untuk segera masuk ke dalam kamar, teriakan Kak Indah tak aku dengar sama sekali, aku beruasaha cuek dan tak mau membahas tentang Siren yang tengah hamil itu.
Ting, satu pesan datang. Pak Galih, ada apa dia mengirim pesan.
(Anna, sampai bertemu besok kembali.)
Kedua mataku dan bibirku seperti salah tingkah, padahal hanya sebuah pesan datang, tapi hatiku merasakan detakan yang tak biasa.
__ADS_1
Membuat aku berusaha menahan perasaan ini, Pak Galih memang lelaki baik dan juga perhatian, membuat aku merasa sangat nyaman.
Perlahan aku mulai membalas pesan yang datang dari Pak Galih.( Iya, besok kita akan bertemu kembali.)