
"Kita tidak pernah tahu, An. Hati seseorang, bisa saja orang yang baik pada kita malah menusuk kita dari belakang."
Perkataan Pak Galih memang ada benarnya, kita tidak tahu hati seseorang.
"Mm, cie cie. Ada yang ngapel (Main) jam segini," sindir kak Idah kepadaku, di saat aku mengobrol serius dengan Pak Galih.
Menatap ke arah Kak Indah yang melipatkan kedua tangan dan berkata," kakak ini, orang lagi bicara serius di bilang ngapel."
"Ya elah, An. Bercanda, emang kalian tengah ngobrolin apa sih?" Pertanyaan Kak Indah membuat aku menatap ke arah Pak Galih, agar lelaki itu tidak mengatakan jika, aku tengah membicarakan masalah orang yang berani menerorku.
Beberapa kali aku mengedipkan mata kiri, begitu pun mata kananku. Pak Galih hanya mengertutkan dahi, aku berusaha membuat lelaki itu mengerti. Tapi dia malah bertanya," kenapa dengan mata kamu, An?"
"Ya elah ini laki, kenapa enggak ngerti ngerti. Sudah dikasih kode juga." Gerutu hati Anna.
"Heh, Anna. Mata kamu kenapa?" tanya kak Indah membuat aku gugup.
"Itu kak, mata aku kelilipan!" jawabku berbohong.
Tiba tiba saja Pak Galih mendekat ke arah wajahku, ia meniup satu persatu mataku. Kak Indah yang melihat adegan Pak Galih, kini tertawa dengan telepak tangan menutup bibirnya.
"Haduh, haredang (Panas)." Ucap Kak Indah berlalu pergi meninggalkan kami berdua.
Akhirnya wanita bermata sipit itu pergi, sembari mengipas ngipaskan tanganya pada dada.
Kedua tangan ini, perlahan mendorong pelan tubuh Pak Galih dari hadapanku. Wajah yang semakin dekat, membuat jantung tiba-tiba bergejolak tak karuan.
"Anna? Kenapa?"
"Maaf, pak!"
Anna kini menarik tangan Pak Galih, untuk menjelaskan apa yang ia lakukan dengan kedua mata yang mengedip ngedip.
"Sebaiknya kita bahasnya besok saja pak, sekarang saya tidak mau kak Indah tahu masalah saya saat ini."
"Mm, jadi karna itu. Ya sudah kalau begitu, saya pulang dulu sekarang."
Aku menatap sayu akan kepergian Pak Galih. Perlahan langkah Pak Galih semakin jauh, dimana lelaki itu sudah naik ke dalam mobilnya.
Sampai dimana kulangkahkan kaki, menuju pintu rumah.
"Astagfilulah, Kak Indah. Tahu tahu ada di sini."
Wanita dengan bola mata coklatnya itu menatap kearah wajahku." Ngapain pake segala kaget, Anna." Aku tersenyum kecil, dan mulai berjalan pergi dari hadapan Kak Indah.
Namun Kak Indah malah menarik tanganku dan berikata." Kamu mau ke mana, Anna."
"Aku mau tidur, Kak."
"Tapi pertanyaan Kakak belum kamu jawab?"
__ADS_1
Menghelap napas dan berkata." Ya. Cuman bahas untuk persiapan besok ke pegadilan."
Kak Indah menatapku jeli, seakan tak percaya dengan apa yang aku katakan.
"Sepertinya, kakak mencium bau kebohongan pada diri kamu."
Aku tak tahu harus belarasan apa lagi, hingga di mana Lulu manangis dan bisa kubuat alasan.
"Aduh kak, Lulu nangis. Ya udah aku ke kamar dulu ya."
"Anna."
Teriak Kak Indah, membuat aku mengabaikan teriaknya.
"Maafkan Anna kak, terpaksa Anna melakukan ini. Agar kakak tidak ikut dalam masalah ini."
Aku berusaha membaringkan badan bersiap untuk tidur di mana anakku Lulu, tertidur begitu nyeyak.
Besok adalah hari di mana aku akan menghadapi Mas Raka.
@@@@
Pagi menjelang.
Aku sudah selesai dengan rutinitas, di mana bersiap siap memakai baju untuk segera menemui Mas Raka di persidangan.
Tok .... tok ....
"Nih, kamu pasti tidak punya baju. Nah kakak pinjemin buat kamu."
"Kan ini hanya ke persidangan doank kak. Masa harus pake baju bagus begini."
Aku meraih salah satu baju yang terlihat anggun, jika semua wanita memakainya.
"Aduh Anna, kakak tuh bosennya jelasinnya sama kamu. Nih ya, kamu itu harus terlihat cantik didepan si Raka, biar ada rasa penyesalan dari lubuk hati si Raka, sudah pernah menghina kamu. Apalagi si wanita yang kamu bilang si Alot itu. Kamu perlihatkan kecantikan kamu yang terpendam ini. Biar dia tahu siapa yang lebih fres dan cantik."
Apa yang dikatakan Kak Indah memang benar, ketika aku berpisah dengan Mas Raka. Aku harus merubah penampilanku yang biasanya sederhana, kini menjadi berbeda.
Nanti ketika Mas Raka melihat dia akan menyesal telah menghinaku.
"Gimana?"
"Baiklah kak!"
Aku mulai memilih baju agar sedikit terlihat anggun.
"Coba kamu pakai baju ini, bagus loh. Biar terlihat anggun."
Karna kak Indah yang memilihkannya untukku, saat itulah aku mulai memakai baju simpel dengan warna silver dan sedikit corak putih.
__ADS_1
Selesai memakai baju, aku memperlihatkan penampilanku yang sekarang.
"Gimana, kak?"
Kedua mata Kak Indah membulat, setelah melihat penampilanku yang berbeda. " Anna, kamu begitu cantik."
Aku tersenyum dan bertanya kembali." Yang benar kak?"
"Iya, coba kamu ngaca."
Perlahan aku mendekat ke arah kaca, dan benar saja. Penampilanku berbeda sekali.
"Ini beneran aku kakak?"
Memegang kedua pipi dengan telapak tangan, bener benar berbeda, padahal aku sudah mempunyi anak dua. Tapi tubuhku tetap saja ramping.
Membuat baju yang dipilihkan Kak Indah begitu cocok. Kak Indah mendekat, ia melihat tubuhku dan berkata," tubuhmu Anna kurang bohay. Jadi ramping tapi cungkring."
"Memang tubuhku seperti ini kakak, Pantat tepos, muka jerawatan, kulit dekil. Kurus kering. Kebanyakan tekanan batin."
Kak Indah tertawa terbahak bahak, dikala aku menghina fisikku sendiri.
"Hey, Anna, tidak baik menghujat diri sendiri. Kamu itu harus yakin bahwa diri kamu itu cantik. Bukan karna tekanan batin, intinya kamu kurang duit buat ngurus tuh badan sama muka. Walau pun wanita badanya gedut, cungkiring. Apalah, jika dia menghargai dan mensyukuri apa yang ada pada dirinya, ia akan terlihat cantik oleh orang yang melihatnya begitu pun dengan dirinya sendiri."
"Maksud Kakak percaya diri gitu."
"Nah, itu kamu tahu."
"Ya iyalah kakak."
Kak Indah membawa beberapa alat make-up, dari tanganya.
"Coba kamu duduk sini."
"Mau apa kak?"
"Dipercantiklah!"
"Enggak perlu lah kak, ribet."
Kak Indah memaksaku, hingga aku duduk berhadapan dengan cermin. Aku melihat bekas air panas itu masih ada, membuat rasa tak percaya diri. Tapi kak Indah, selalu menyakiniku dan membuat kepercayaan diri perlahan lahan kembali.
"Oh, ya. Untuk kasus, wajah kamu yang terkena air panas ini, sudah selesai bukan. Siapa orang ya?"
Memegang pipi, dan berkata." Entahlah kak, aku tidak penah tahu siapa orangnya. Karna ibu dan Mas Raka yang tak peduli. Membuat siapa orang yang meyiram air panas ke wajahku, tidak diketahui sampai sekarang."
Kak Indah berdecak kesal dan berkata," kita harus usut tuntas masalah ini."
Aku menatap wajahku di mana Kakak Indah dengan lihainya memakaikan bedak pada wajahku, Kak Indah dengan telaten menandani wajahku.
__ADS_1
"Kalau di usut kita enggak punya bukti?"