Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 46 Mainan Radit.


__ADS_3

Rasa lelah kian terasa pada tubuh ini, setelah persidangan cerai dengan Mas Raka. Lega rasanya memenangkan apa yang aku inginkan.


Hanya saja dengan Bu Sumyati, ada apa dengan wanita tua itu?


"Anna,"


Lamunan seketika membuyar saat Pak Galih memanggil namaku." Ya, pak?"


"Besok aku akan menjemput kamu lagi!"


Aku mengerutkan dahi setelah Pak Galih berbicara seperti itu.


"Untuk?"


Pak Galih tersenyum tipis dan menjawab." Kamu lupa ya, bukanya kita akan memulai bisnis."


Memukul kepala dengan tangan kanan, aku sempat lupa. Dengan targetku, ini semua karna kepalaku yang terus memikirkan Bu Sumyati.


"Anna."


"Mm, iya. Kenapa?"


"Ya ampun Anna, saya dari tadi menjelaskan tentang bisnis kita, kamu malah melamun lagi? Sebenarnya apa yang saat ini kamu lamunin!"


Aku menatap sekilas ke arah Pak Galih, lelaki berkumis tipis yang berdiri di samping kiriku.


"Sebenarnya aku tengah memikirkan Bu Sumyati, apa rahasia yang ia sembunyikan dan apa kesalahanku kepada dia?"


Pak Galih tertawa terbahak bahak, setelah mendengar penjelasanku.


"Kenapa bapak tertawa, apa ada yang aneh?"


Lelaki berhidung mancung dengan bola mata bulatnya, mengelengkan kepala," tidak ada. Hanya saja kamu itu terkadang pintar terkadang polos."


"Mm, masa iya lawan kata pintar polos, yang ada bodoh kali, pak." cetusku pada Pak Galih. Ia terlihat berbeda, dirinya yang terlihat dingin dan kaku berubah menjadi sok lucu.


"Itu kamu yang bilang ya, bukan saya," ucap Pak Galih dengan tawanya yang terdengar begitu asik.


"Iya, iya," balasku sembari menyugingkan bibir bawah.


Lelaki berperawakan tinggi itu kini menatap jam mewahnya, " sudah jam delapan malam. Saya pulang dulu."


"Iya."


" Mm, hanya iya saja."


Mengerutkan dahi, setelah mendengar Pak Galih menjawab dengan wajah datarnya.

__ADS_1


"Terus."


"Ya sudahlah."


Aneh, lelaki bernama Galih itu kini membalikan badan dan menaiki mobil. Hingga dimana aku berteriak." Terima kasih Pak, atas bantuanya. Selamat malam dan selamat beristirahat."


Aku mengira teriakanku tidak dibalas olehnya, tapi ternyata. Pak Galih membalas dengan berteriak," Same with sweet angel."


Apa itu artinya? Kenapa lelaki berkumis tipis itu memakai bahasa inggris segala. Kan sebal.


Aku hanya berdiri mematung memikirkan kata kata dari bahasa yang aku anggap bahasa alien.


Karna memang aku tak mengerti. Tiba tiba saja Kak Indah keluar dari dalam rumah, tersenyum melihat kebingungan yang aku rasakan.


"Ngapain kakak, ketawa ketawa gitu. Oh ya tadi kakak dengar enggak Pak Galih ngomong bahasa inggris. Di bilang sewet ager. Gitu kalau enggak salah."


Bukan malah membalas ucapanku Kak Indah tertawa terbahak bahak, "Sweet angel. Anna."


Aku menunjukkan tangan kearah kakaku dan tersenyum berharap kak Indah memberitahu artinya padaku.


"Hah, iya kak itu. Apa artinya?"


"Pikirin aja sendiri, cari aja di kamus bahasa inggris!"


Kak Indah berlalu pergi dengan melabaikan tangan, ia tidak memberitahuku sama sekali, membuat aku tentulah jengkel. Ada ya kakak macam Kak Indah.


Karna tak mau banyak berpikir lagi, aku mulai berjalan ke dalam kamar tidur, untuk melihat Lulu. Apakah dia masih tidur apa belum?


Anak keduaku tengah duduk di ujung kasur, sembari melihat cahaya bulan dan bintang bintang berkelap kelip.


Saat itu langkah kaki ini mulai mendekat ke arah Radit, duduk perlahan di sampingnya.


"Radit, ini sudah malah. Kamu belum tidur, sayang."


Kuusap rambut kepalanya dengan lembut, membuat Radit kini menjawab." Radit kangen papah!"


Deg.


"Loh, bukanya tadi Radit bertemu dengan papah?"


Wajah Radit yang tadinya melihat ke arah kaca, kini menatap ke arah wajahku." Mamah, kenapa mamah harus berpisah dengan papah? Radit malu mah, nanti apa kata kata teman Radit di sekolah."


Aku tak menyangka jika Radit akan berkata seperti itu, aku lupa jika dipernikahanku dengan Mas Raka. Ada dua benih yang harus aku jaga hatinya.


Perlahan kupeluk tubuh anakku, menjawab dengan nada pelan, berharap jika hati anak kecil yang belum mengerti ini bisa menerima.


"Radit, Mamah dan Papah berpisah karna alasan yang tidak akan kamu mengerti. Kamu tenang aja Radit, tak usah malu dengan teman temanmu di sekolah. Mereka pasti akan menemanimu. Dan tidak akan mempermalukanmu. Yakin sama mamah."

__ADS_1


Inilah yang selalu aku pertimbangkan dalam urusan rumah tangga, apalagi mempunyai dua anak yang masih memerlukan rasa kasih sayang dari seorang ayah.


Hanya dengan berusaha menguatkan anakku, agar dia bisa mengerti dan bertanya lagi, karna pertanyaan Radit selalu membuat hatiku sakit.


Jika Mas Raka tidak selingkuh dan menikah lagi, kemungkinan besar aku akan bertahan, walau dalam segi ekonomi pas pasan.


Tapi kenyataanya, dia seperti itu, aku berikan hidupku tapi dia, membalas dengan hinaan dan rasa sakit.


Apa pantas aku mempertahankan rumah tangga seperti itu?


Dari tangan kanannya, Radit tengah memegang sebuah mainan yang baru saja aku lihat.


"Dari mana anak ini mendapatkan mainan yang terbilang wow harganya. Apa pak Galih ya?"


Radit masih membungkukan kepalanya, dengan tangan memainkan mainan yang baru saja aku lihat.


Perlahan aku mulai bertanya pada anak laki lakiku.


"Radit, siapa yang sudah memberikan mainan mahal itu kepada kamu."


Terlihat sekali Radit enggak menjawab pertanyaanku, seakan ia takut jika mainan yang berada di tangannya aku rebut.


Kuusap pelan kepalanya kembali," ayo nak, katakan pada mamah, siapa yang sudah memberikan mainan ini pada kamu?"


Terlihat sekali wajah ragu dari Radit, saat aku terus menekanya untuk menjawab.


"Sebenarnya ini dari papah, kata papah kalau Radit mau lagi mainan. Radit harus bawa mama pulang ke rumah nenek. Papah akan berjaji memberikan mainan yang begitu banyak untuK Radit."


Kini anakku mulai mengungkapkan semuanya, dimana aku sudah menduga duga. Jika Radit mengeluh pasti ini ada kaitanya dengan Mas Raka.


Licik kamu mas, menipulasi anak agar aku balik lagi ke rumah bagai neraka itu.


Cacian dan hinaan pasti akan mengusik hidupku.


Dengan rasa kesal, tangan kanan ini mulai merebut mainan yang terus di pegang oleh Radit.


Radit kini menangis, meronta meminta mainannya di kembalikan. Akan tetapi aku tak mendengar teriakan Radit.


Aku mulai berdiri dari ranjang tempat tidur, membawa mainan Radit yang diberi oleh papahnya.


Radit yang melihat aku membawa mainanya, kini mengejar hingga berusaha merebut mainan ya dari tanganku.


"Lepaskan."


Radit terlihat marah besar, saat mainannya aku lemparkan ke tong sampah.


"Mama jahat mamah jahat."

__ADS_1


Radit menangis terus menerus, berteriak bahwa aku ini mama yang jahat.


Aku tak peduli, aku tidak mau Radit terus menerus terhipnotis akan ucapan Mas Raka, lelaki tidak tahu diri itu.


__ADS_2