Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 225 Nekad.


__ADS_3

Karena saling berebut telur ceplok, pada akhirnya telor itu jatuh ke atas lantai, membuat nasi dan yang lainnya berserakan kemana mana.


Intan kesal, ia malah memukul kepala Lulu dan menyuruh anak itu langsung membersihkan telor yang berada di atas lantai dengan mulutnya.


"Cepat bersihkan telor itu dengan mulutmu ayo."


Intan menunjuk nunjuk ke atas lantai, menyuruh Lulu untuk cepat memakan telur berserakan itu.


Terlihat kedua mata Lulu berkaca kaca, ia menahan tangisan, agar tidak mendapatkan siksaan dari Intan lagi.


"Ayo makan."


Karena kekesalan Intan, dengan beraninya ia menjambak belakang rambut Lulu, membuat anak itu jatuh ke atas lantai.


Intan mendorong-dorong kepala Lulu," ayo cepat makan. "


Karena dipaksa Lulu akhirnya menangis, menolak perkataan Intan," Lulu tidak mau."


"Siapa suruh kamu memakan makananku, sudah aku katakan telor ceplok itu milikku."


Lulu menangis kembali, meraung raung dengan bentakan Intan.


"Nangisss terusss, bisanya nangis. "


Intan pusing ia mendorong kepala Lulu, bangkit dan pergi berjalan ke dalam kamar.


"Dasar anak tak berguna."


Intan mengambil uang untuk segera membeli nasi kuning di depan rumah Nita, " Heh, bersihin tuh telor dan seisi rumah ini, kalau aku sudah pulang semua harus bersih, kalau tidak kugantung kepalmu di atap. "


Acaman Intan membuat Lulu dengan tangan bergetarnya membersihkan telor yang berserakan, bertapa malangnya nasib anak itu.


"Kak Nita, ke mana sih."


Setelah membereskan telor, menyapu. Ia beranjak pergi ke dapur, dengan menahan rasa lapar pada perutnya.


Sampai setengah jam kemudian, Intan pulang ke rumah, ia melihat rumah sudah bersih. Tak menyangka jika anak yang berumur tiga tahun, sudah bisa mengerjakan pekerjaan rumah, ya walau belum rapi sepenuhnya.

__ADS_1


Tapi untuk Intan lumayan juga, dia bisa memanfaatkan kinerja Lulu agar dirinya bisa bersantai.


"Heh, ini nasi kuning buat kamu. Aku masih ingat sama kamu," ucap Intan pada Lulu meletakan keresek berisi nasi kuning yang ia beli.


Lulu terlihat sudah kelelahan, ia meraih nasi bungkus itu, tersenyum senang. Membuka dan memakan dengan begitu lahap.


"Terima kasih Kak Intan."


Intan menampilkan wajah sinisnya, ia tak menangapi ucapan Lulu, pergi dengan berkata." kasihan dia kelaparan."


Wanita berbola mata bulat itu, masuk kedalam kamar, menutup pintu kamar dengan begitu keras.


Brakkk ....


Suara pintu mengagetkan Lulu, membuat nasi yang ia suapkan berjatuhan.


Menelan dan merasakan perasaan tak bahagia, ia ingin pergi dari rumah Nita, tak kuat dengan perlakuan Intan.


Intan tertidur, merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia menatap layar ponsel. Ada rasa ragu menyalahkanya, karena pastinya akan ada panggilan tak terjawab dari Galih.


"Apa yang harus aku lakukan ya, ganti nomor ponsel saja. Mm, ide yang bagus."


Langkah kaki ia langkahkan, menuju ke luar kamar, melihat Lulu masih memakan makanan yang baru saja di beli oleh Intan. " Ck, masih makan ternyata."


Intan berjalan, banyak mata lelaki yang memandanginya. Ia belum tahu perkampungan Nita, karena baru pertama kali ia datang setelah perpisahaannya di tempat kerja.


Menyelusuri semua gang kecil, banyak rumah sudah berteras keramik dan terlihat mewah di perkampungan Nita. Tidak ada bilik atau rumah panggung, seperti di kampung halamannya.


"Di sini rumah seperti istana, berjajar rapi."


Banyak lelaki tengah nongkrong, begitu pun ibu ibu di warung sedang bergosip ria. Intan melihat konter di dekat ibu ibu berkumpul.


"Eh, kamu tahu nggak. Tadi si Marimar lagi cari anak katanya, buat dia adopsi. Aku saranin sih ke panti asuhan. Dia kan udah dua puluh tahun tuh belum punya anak, duit banyak laki ganteng. "


"Ya elah, tahu sendirikan si Marimar kaya gimana ke kita, dia sombong."


"Mm, bener. Sombong pelit, kikir. Makanya nggak punya anak anak."

__ADS_1


Salah satu ibu ibu yang tak suka menjelekan orang lain, menimpal para ibu ibu." Hus, kalau ngomong itu di jaga ibu ibu, Ibu Marimar itu orang baik, dia ramah. Selalu berbagi, tidak punya anak itu bukan kesalahan, namanya ujian rumah tanggakan beda beda. "


Para ibu ibu menundukkan pandangan, mereka sedikit kesal dan tak suka dengan nada bicara Bu Euis sok seperti ustad.


"Eh, Bu Euis. Kalau ceramah itu di masjid, jangan di sini. Mana ada yang mau mendengarkan kata kata Bu Euis."


Wanita berhijab hitam itu menggelengkan kepala, melihat tingkah ibu ibu yang begitu senang membuat dosa.


"Saya bukan ceramah, hanya mengigatkan saja."


"Alah, sok alim banget. Dah lah. Bu Euis mending pergi dari tongkrongan kita deh, nggak cocok sama kita kita ini, ya nggak. Jadi orang jangalah sok suci."


Bu Euis, memegang dadanya. Merasakan rasa sesak dalam dada. Mendegar ibu ibu membantah nasehat baik dari mulutnya, ia pergi dan tak ingin berdebat lagi. Karena percuma para ibu ibu sudah di selimuti dengan rasa kesenangan akan dosa.


"Huu, sok alim Bu Euis." Sorak para ibu ibu pada Bu Euis yang sudah beranjak pergi menjauh.


Para ibu ibu kini bergosip lagi tentang Marimar.


"Heh, kamu tahu nggak. Si Marimar katanya nggak mau anak panti asuhan, dia ingin anak yatim piatu di desa ini. Kalau ada, si Marimar katanya mau ngasih imbalan sebesar dua puluh lima juta."


"Eleh, bu. Banyak banget tuh si Marimar duitnya, dari mana ya dia."


"Pake nanya segala, orang suaminya kan punya perusahaan, banyak bisnis yang mereka kelola, duit ya itu tak akan habis tujuh turunan. Ya sayangnya nggak punya anak. Kasihan."


"Ya elah, kalau duit segitu aku mau, siapa sih yang nggak tertarik mendengar duit puluhan juta. Sayangnya anakku udah gede semua. "


"Aduh, jadi kamu rela anakmu di jual sama si Marimar."


"Ya kalau duitnya gede siapa yang nggak mau."


"Parah kamu jadi ibu."


******


Intan tengah memilih nomor kartu, sembari mendengarkan obrolan para ibu ibu, Ia seakan tertarik dengan menjual Lulu pada wanita yang di sebut namanya Marimar.


"Duit nih, lumayan. Kalau si Lulu di jual kan nggak nyusahin, toh aku bisa kabur dengan duit itu ke manapun aku mau." Gumam hati Intan.

__ADS_1


"Yang mana neng, lama banget milih kartu satu aja." Gerutu sang penjual.


"Ya elah, baru juga mau milih. Sudah di omelin." Intan mengambil kartu yang asal ia pilih, karena tak sabar ingin menghampiri para ibu ibu yang tengah bergosip.


__ADS_2