
Intan berlari terbirit birit saat Andi dan temannya menakut-nakuti gadis polos itu, terlihat beberapa kali Intan terjatuh lagi dan lagi, membuat para lelaki berotot yang melihatnya tertawa terbahak-bahak.
"Apa dia pacarmu, atau?" Salah satu teman bertanya dengan nada mengejek. Andi hanya tersenyum tipis lalu menjawab." Dia hanya seorang pelayan di rumah Ainun."
"Tunggu, Ainun?" tanya kembali lelaki berotot dengan wajahnya yang sedikit terlihat sangar,
"Ya, Ainun. Adiknya Ferdi, apa kamu lupa!" jawab Andi membuat para sahabatnya semakin mengejeknya.
"Ngapain coba kamu masih berhubungan dengan Ainun, bukanya dia sudah menolakmu mentah-mentah. Ayolah sadar brow, masih banyak wanita diluar sana," ucap sang sahabat menepuk bahu Andi dengan begitu keras.
Andi hanya bisa menanggapi perkataan sahabatnya dengan senyuman ketir, tanpa berucap satu patah katapun. Ia kini membuka pintu mobil untuk segera pergi dari jalanan sepi yang mengantarkannya dalam kesedihan.
*******
Di dalam rumah.
Hening, seakan tak ada percakapan dari ketiga orang yang baru saja duduk.
Farhan mendekat, masih ada rasa canggung dalam diri anak remaja itu. Di rumah Ainun sekarang tidak ada pembantu sama sekali wanita berhijab merah muda itu kini bangkit dari tempat duduknya mengambil air untuk kedua tamunya.
Saat kaki melangkah menuju dapur, Galih kini memanggil mantan istrinya itu. "Ainun, tunggu."
Mendengar suara Galih, Ainun membalikkan badan, menatap ke arah mantan suaminya. "kenapa?"
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan kamu, ini penting." Mendengar perkataan Galih Ainun merasa heran ia berdiam diri, hingga pada akhirnya Galih menghampiri wanita berhijab merah muda itu, menarik tangannya untuk segera duduk.
Terlihat sekali tatapan mata keraguan kepada Farhan, saat melihat ibu kandungnya sendiri. Farhan kini kembali menundukkan kepala, sedangkan Galih mulai memberitahu tentang Alex kepada mantan istrinya.
" Kenapa kalian malah diam, Galih apa yang akan kamu katakan. Katanya kamu mau berbicara penting kepadaku?" pertanyaan Ainun membuat Galih berusaha mengatur nafas untuk memberitahu Farhan bahwa dia anak kandung Ainun yang sebenarnya.
__ADS_1
" Aku ingin memberitahu keberadaan Alex kepadamu!" jawaban yang begitu mengejutkan untuk Ainun, apalagi di tengah-tengah kesedihannya akan dirinya yang ingin berubah dia mendengar Galih mengatakan keberadaan anak kandungnya.
" Apa benar yang kamu katakan itu, Galih. Jika kamu sudah mengetahui keberadaan anakku, sekarang tunjukkan di mana dia berada, Aku ingin sekali meminta maaf kepadanya," ucap Ainun, menekan Galih untuk berkata. Di mana keberadaan anak kandungnya itu, Ainun sudah tak sabar ingin melihat sosok lelaki remaja berumur 17 tahun yang ia sia-siakan dulu.
Farhan melihat raut wajah kebahagiaan dari Ainun, saat Galih mengatakan di mana anak muda bernama Alex berada,
"Ayo katakan Galih, dimana Alex," tekan Ainun tak sabar.
Galih mulai menunjuk anak remaja bernama Alex itu pada Farhan, tentu saja membuat Ainun begitu terkejut, Iya masih tak percaya dengan apa yang diperlihatkan oleh Galih.
"Galih, maksud kamu Alex itu Farhan?" Ainun terlihat heran dengan apa yang ditunjukkan Galih. Wanita itu terdiam sejanak.
Dan Galih berkata kembali." Ya, Ainun. Dia itu anak kamu, Alex. Farhan anak remaja yang di urus Anna itu anak kamu. Aku yang sengaja mengatakan bahwa Alex di buang kepada kamu, ingin melihat reaksi kamu sebagai seorang ibu yang tak peduli kepada anaknya."
Kedua mata Ainun berkaca-kaca, ingin rasanya ia memeluk Farhan anak kandungnya sendiri. Hatinya tak kuasa, sampai di mana Farhan berjalan mendekat dan berusaha tersenyum kehadapan Ibu kandungnya.
Ainun menganggukkan kepala dengan perkataan
anak remaja bernama Farhan itu. Pertanyaan yang membuat hatinya ingin memeluk sang ibu kandung.
Ainun tak tahan lagi, pada akhinya ia bangkit memeluk anak remaja dihadapannya. "Alex, kamu anak ibu, nak."
"Iya, bu."
Ainun kini meluapkan isi hatinya, dihadapan anaknya sendiri, ia menyesal dengan apa yang sudah ia perbuat pada Farhan. Meninggalkan anak kandungnya tanpa sebab yang pasti.
Terlihat begitu sempurna keluarga yang terlihat di depan mata Galih, andai saja Ainun tak pergi saat itu. Mungkin mereka akan bersama dalam kebahagian yang terlihat nyata seperti sekarang. Tapi karena takdir, Galih tak bisa menyalahkan Ainun atas semuanya.
Bagaimana pun jalan kehidupan semua sudah di atur dalam, kesedihan. Duka. Dan kebahagiaan.
__ADS_1
"Alex, maafin ibu ya. Andai saja ibu tidak egois dulu, mungkin kita bisa bersama seperti sekarang. "
Air mata mengalir deras, membasahi pipi. Tak tahan rasanya, ingin selalu bersama sang malaikat hati. Ainun tetap memanggil Farhan dengan sebutan Alex, yang ia tahu anaknya tetap bernama Alex.
Farhan yang tak ingin melukai hati sang ibu, hanya bisa mengikuti kata kata Ainun." Alex sudah memaafkan ibu dari dulu."
Galih yang hanya menatap menahan air mata, tersentak kaget, hatinya terasa perih ketika sang malaikat kecil yang ia titipkan pada Anna menyebut nama Alex, nama yang diberikan Ainun dan juga Galih.
"Alex, sudah maafkan ibu."
Farhan menganggukkan kepala, ia tetap rendah hati. Karena itulah sifat alami yang diajarkan Anna, dalam mendidik Farhan sejak kecil.
Pelukan yang erat itu terlepas, Ainun mencium kening anak remaja yang kini diketahui sebagai anaknya dengan tanda kasih sayang sebagai seorang ibu.
"Terima kasih, Nak. Kamu memang baik, beruntung kamu mendapatkan ibu seperti Anna yang mendidik kamu penuh kelembutan hati.
Farhan tersenyum lebar, Galih ingin ikut serta dalam kebahagian Ainun. Namun dia bukan siapa siapa lagi dengan Ainun, hanya. Menyandang setatus duda.
" Ibu juga, ibu yang baik. Jika tidak ada ibu, mungkin Alex tidak akan ada di dunia ini. Alex. Juga beruntung mempunyai orang tua, seperti ibu Ainun, cantik dan baik hati."
Perkataan yang mampu menggetarkan hati seorang Ainun, gadis berhijab merah muda itu semakin menangis terisak-isak dengan perkataan yang begitu menusuk jiwa dan juga raganya.
Beruntung sekali Ainun mendapatkan seorang anak lelaki yang mampu menerima dirinya apa adanya, dan mau memaafkan kesalahan yang sudah ia perbuat di masa lalu, di mana Ainun meninggalkannya tanpa memiliki rasa perasaan kasihan terhadap bayi mungil yang begitu masih kecil dan butuh perhatian seorang ibu.
kini ia tidak akan menyia-nyiakan anak semata wayangnya itu, walau memang dulu ia sempat menganggap anaknya sendiri adalah pembawa sial dalam kehidupannya, kenyataannya dia adalah seorang anak yang mampu membuat kebahagiaan pada hati Ainun dan juga kehidupannya.
Ainun sekarang mengerti tidak ada yang namanya anak pembawa sial, yang ada anak adalah sebuah anugerah yang dititipkan Tuhan untuk kita jaga.
Galih tersenyum dalam kebahagian yang ia lihat di depan matanya.
__ADS_1