Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 104 Menjenguk.


__ADS_3

Sudah beberapa hari lamanya Raka yang masih di dalam penjara kini di datangi oleh sang ibu.


Bu Sari mulai menjenguk Raka di dalam penjara, melihat anak semata wayangnya. Apakah baik-baik saja? Saat masuk ke dalam penjara, betapa kagetnya Bu Sari melihat Pak Aryanto dan juga Bu Ayu datang ke dalam penjara wanita, rasa penasaran mulai terlintas dari pikiran Bu Sari. Ia perlahan mengikuti langkah kaki kedua orang tua Ajeng itu. Di mana mereka berdua adalah besan Bu Sari. 


"Ngapain ya, Bu Sari dan Pak Aryanto datang ke penjara wanita."


Awalnya polisi mulai menahan Bu Sari  yang mengikuti kedua orang tua Ajeng, polisi itu menanyakan apa maksud kedatangan Bu Sari, wanita tua itu beralasan jika dia datang bersama kedua orang yang bernama Pak Aryanto dan juga Bu Ayu. Sampai di mana polisi mempercayai Bu Sari, mempersilahkan wanita tua itu masuk menjenguk salah satu narapidana di dalam penjara. 


Bu Sari tak berani mendekat, ia hanya mengintip di balik tembok, kedua matanya menatap ke arah seorang wanita yang duduk di kursi roda. Sosok wanita yang menjadi menantunya. Mulut tiba tiba mengagah, dengan segera mungkin ia tutup.


"Apa yang terjadi pada, Ajeng. Kedua kakinya?" 


Menatap pada kaki Ajeng seakan tak percaya, jika wanita yang menjadi istri Raka itu kini tak memiliki sepasang kaki. 


Bu Ayu memulai percakapan, dimana Bu Sari mendengarkan obrolan mereka. 


"Akhirnya ibu datang juga, bu. Kemarin ada Anna datang ke sini, " ucap Ajeng dengan menampilkan wajah sedihnya. 


"Anna menjenguk kamu, terus apa dia mau membebaskan kamu?" tanya sang ibu dengan harapan, jawabanya terdengar menyenangkan. 


Ajeng menggelengkan kepala," Anna dia egois, dia tidak ada rasa kasihan pada Ajeng, padahal kedua kaki Ajeng sudah tidak ada begini! " jawaban yang memilukan bagi Bu Ayu, padahal dia sangat berharap banyak pada Anna, tapi nyatanya Anna seperti itu. 


Ajeng memegang kedua tangan sang ibunda dengan berkata," Ibu, kenapa tidak bujuk Bu Sumyati?"


Pertanyaan yang membuat sang ibu bingung, karena bukan Anna saja yang seperti itu, Bu Sumyati juga seakan acuh dengan kebebasan Ajeng. Mereka seperti memberi pelajaran untuk Ajeng," mengusap pelan rambut Ajeng." Bu sumyati juga begitu, Ajeng. Kamu harus sabar ya Ajeng."


Brakkk ….


Ajeng memukul meja dengan kedua tangan," Sabar, sabar. Bagaimana bu, sudah jelas Ajeng tidak betah di sini. kenapa mereka begitu egois."

__ADS_1


Karena kedua orang tua yang selalu memanjakan Ajeng, pada akhirnya mereka terkena imbasnya, Ajeng terkesan temperamental ia sering marah marah tak jelas jika kemaunnya tak dituruti. 


"Ajeng, nak. Kamu harus merubah kebiasaan burukmu ini, kamu harus lebih sabar, anggap semua ini adalah ujian dan pelajaran bagi diri kamu, nak. Agar kamu menjadi baik dan mau menerima takdir dan juga nasib kamu yang sekarang."


Bu Ayu baru kali ini menasehati Ajeng, biasanya dia selalu mendukung apa yang diinginkannya sekarang. Tak pernah menolak atau membuat Ajeng kecewa dan menunggu. 


Bu Ayu yang memang bergelimang harta, dari suaminya bergelar polisi, tak pernah merasakan kesengsaraan. 


Tapi sekarang Pak Aryanto tak mempunyai gelar atau jabatan dia hanya lelaki biasa. Hidupnya kini pas pasan, mengandalkan uang dari Bu Ayu penjual baju. 


"Ibu ini kenapa, malah menasehati  Ajeng segala. Ajeng tak suka dengan perkataan ibu seperti itu."


Sang ibu mengusap pelan bahu anaknya, " Ajeng, kamu jangan begini, kita ini sekarang hanya warga biasa, ayahmu sekarang jabatannya sudah turun, jadi semua itu tidak ada arti lagi Ajeng."


Seketika Ajeng berubah drastis, ia masih menyimpan rasa kesal pada Anna, yang tak mau membebaskannya. 


"Sudahlah bu, jika ibu hanya menasehatiku. Sebaiknya ibu pergi saja dari sini, Ajeng muak dengan nasib Ajeng seperti ini."


******


Bu Sari yang tak ingin dilihat oleh besannya, kini kembali pergi untuk segera menemui anaknya, setelah obrolan yang ia dengar. 


"Ibu, dari mana aja?"


Sosok lelaki tua yang menjadi suami Bu Sari, tiba-tiba mengagetkan dirinya yang telah berjalan terburu-buru keluar dari penjara wanita. 


Mengelus dada dan berkata," Bapak ini bikin ibu kaget saja."


"Ya habisnya bapak cariin nggak ketemu ketemu, bukanya sekarang kita mau menjenguk Raka di dalam penjara."

__ADS_1


"Ada urusan penting tadi. "


"Urusan apa sih bu? "


Pertantayaan sang suami membuat Bu Sari menjawab, " sudah bapak nggak usah kepo. Ayo kita jenguk Raka, kasihan dia belum kita lihat."


Kedua pasangan yang sudah terlihat paruh baya itu mulai masuk ke dalam penjara kusus laki laki, mereka bergegas untuk melihat ke adaan anaknya, Raka.


Setelah sampai, Raka keluar dari dalam penjara, ia melihat kedua orang tuanya datang.


"Bapak, ibu? "


Bertapa senangnya Raka melihat kedua orangnya datang, membawakan makanan.


"Raka, ini. Ibu bawain kamu makanan kesukaaan kamu, " ucap sang ibu menampilkan senyuman manis untuk sang anak.


"Kebetulan sekali bu, Raka ingin makan masakan ibu sekarang, " balas Raka tangannya mulai meraih rantang berisi nasi dan lauk pauk yang sudah dimasak oleh sang ibu.


Raka mulai mencuci makananya, melahap dengan penuh nafsu, selama dia di penjara, makanan yang ia makan tak mengunggah selera, membuat Raka jarang makan. Mengakibatkan tubuhnya semakin hari semakin kurus.


"Raka, kapan kamu mau menceraikan Ajeng? " Pertanyaan sang ibu membuat Raka tentu saja kaget. Kenapa bisa disituasi seperti ini, Raka diberi pertanyaan yang tak masuk akal.


"Ibu, ini. Ngomong apa? Bukanya si Ajeng yang mau mengugat Raka! " Jawaban Raka membuat, sang ibu membulatkan kedua matanya. "Ih, ngapain kamu nunggu dia, sebaiknya kamu talak saja dia sekarang! "


Jawaban sang ibu tentu saja membuat Raka semakin heran.


" Memangnya kenapa sih, bu. Sampai ngotot gitu, nyuruh Raka talak si Ajeng. Dia kan masih di dalam penjara, " timpal sang bapak. Lelaki tua itu merasa ada yang aneh dengan istrinya semejak datang ke penjara.


"Aduh bapak ini, ibu kasih tahu ya. Si Ajeng itu sudah masuk ke dalam penjara, " jawab wanita tua itu, membuat kedua lelaki yang berada di hadapan Bu Sari tentu saja kaget," Ah yang bener, bu?" tanya Raka masih belum percaya sebelum ia melihat semuanya.

__ADS_1


"Ya elah, Raka. Kamu masih tak percaya dengan apa yang dikatakan ibu, ibu ini tidak bohong ibu lihat sendiri dengan mata kepala ibu. Pak Aryanto dan juga Bu Ayu menengok Ajeng, dimana keadaan Ajeng sangat menghuatitkan!" jawab sang ibu dengan penuh keraguan. Apa Raka akan meninggalkan Ajeng, setelah tahu keadaan Ajeng yang sekarang?


__ADS_2