Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 160 Perginya Intan


__ADS_3

Intan berusaha mendekat ke arah Ainun untuk meminta Kesempatan agar dia bisa bekerja lagi di rumah majikannya itu," Nyonya Ainun, apakah bisa anda memberi saya kesempatan satu kali ini saja, saya mohon."


Ainun memalingkan wajah dari hadapan Intan, ia berusaha tidak merasa kasihan terhadap pelayannya itu yang baru beberapa hari bekerja di rumahnya. Melangkah pergi dari hadapan Intan, tapi gadis manis itu tidak putus asa, ia memegang tangan Ainun dengan memperlihatkan wajah memelasnya.


Namun, Ainun berusaha tetap tegar, tidak memberi respon sedikit pun pada Intan. Karena hatinya sudah merasa tersakiti.


"Intan, maaf saya tidak bisa mempertahankanmu lagi berkerja di sini."


Mengepalkan kedua tangan, Intan menarik bahu Ainun tangan kanannya mulai melayang pada wajah wanita berkerudung merah itu, hanya saja dengan sigapnya Andi menahan tangan Intan.


" Lepaskan. Kenapa kamu mentahan tangan saya. Oh apa kamu mau membela pembohong ini," ucap Intan menatap ke arah Andi.


Lelaki berbadan kekar yang menjadi sahabat almarhum Ferdi, berusaha membuat suatu drama menyakinkan bahwa dirinya adalah pacar Intan.


" Kamu ini bagaimana sih sayang, sebaiknya kita pergi dari sini. Cepat kamu kemasi barang-barang kamu, jangan sampai kamu melakukan kekerasan dan malah merugikan diri kamu sendiri." Nasehat terlontar dari mulut Andi, yang berpura-pura menjadi pacar Intan agar Galih tak mencuragai gelagat dirinya yang menolong Ainun.


Intan berusaha melepaskan tangan Andi, " kamu ini bukan pacar saya, jadi jangan mengaku ngaku ya."


Intan mendorong tubuh lelaki itu dan pergi untuk segera mengemasi barang-barangnya.


Andi mencoba mengejar Intan, dengan bangkit dan meneriaki dengan kata-kata sayang.


Intan sangat risih dengan lelaki yang terus mengakui dirinya sebagai pacarnya.


Membuka pintu kamar, dengan bergitu keras.


Brakkk ....


Mengambil besar untuk memasukkan barang-barangnya yang berada di dalam lemari, sedangkan Galih masih menghitung uang untuk menggaji Intan.


Menangis dan meratapi nasibnya saat ini, Intan benar-benar kesal dengan rencana yang ia buat gagal total, malah dirinya yang terbuang dari rumah Galih.


Andi menatap ke arah Intan, mencoba membantu wanita itu untuk mengemasi barang, akan tetapi Intan yang memang sudah terlewat kesal.


Memarahi Andi habis habisan." Pergi dari sini, cepat."

__ADS_1


Inilah kesempatan Andi untuk pergi dari rumah Ainun saat Intan mengusir dirinya dan memarahinya habis-habisan.


"Akhinya aku bisa pergi, tanpa berdrama lagi." Gumam hati Andi.


Intan yang sudah membereskan pakaiannya bergegas keluar membawa tas besar yang sudah ia isi dengan barang-barang.


Hingga dimana Galih, memanggil Intan. Awalnya Intan merasa bahwa Galih masih membutuhkan dirinya untuk bekerja di rumah Ainun.


Namun siapa sangka, Galih kini menyodorkan uang gaji selama Intan bekerja di rumahnya dan juga di rumah Ainun. Padahal Intan sangat berharap sekali Jika sang Tuan mencegahnya untuk pergi dari rumah Ainun, tapi kenyataan tidak sesuai harapan, hingga pada akhirnya Intan menjadi sosok wanita yang menyedihkan.


"Ini gaji kamu Intan, selama kamu bekerja di sini saya berterima kasih sekali atas pekerjaanmu yang memuaskan, walau mungkin sekarang kamu mengecewakan saya. Saya berharap di luar sana kamu menemukan pekerjaan yang lebih baik lagi.'' Tegas Galih, menyodorkan uang lebaran berwarna merah pada Intan.


Dengan kemarahan yang masih menggebu pada hatinya, Intan mulai mengambil uang yang disodorkan Galih dengan cara tidak sopan.


"Terima kasih."


Intan langkah demi selangkah berjalan meninggalkan rumah Ainun yang baru saja ia tempati selama dua hari ini, hatinya benar-benar rapuh saat ini. Pekerjaan yang mengantarkannya dalam kebahagian, malah sirna begitu saja.


Padahal tinggal satu langkah lagi, jika Intan berhasil, tentulah Galih akan semakin mempercayai dirinya. Tapi sekarang, Intan sudah malas membahas semuanya, ia pergi dengan menangisi hati yang begitu perih.


Mengacak rambut, merasakan kekesalan yang mendera. Intan sudah sampai di jalanan, waktunya memberhentikkan mobil taksi untuk mengatarkannya ke sebuah penginapan sementara.


Namun, saat Intan melihat ke arah pinggir jalan. Ia melihat sosok lelaki yang mengakui dirinya sebagai pacar saat di rumah Ainun, lelaki itu memakai mobil mewah dan juga berdandan rapih tidak seperti tadi.


Rasa penasaran menggebu hati Intan, dengan kekesalan yang masih mendera ia berjalan berlari dengan membawa tas besar menghampiri lelaki bernama Andi itu.


"Mau pergi kemana dia, saya harus mengejar lekaki bernama Andi itu. Awas saja kalau dia pergi jauh dan kabur begitu saja, tak akan aku biarkan."


mengguru sambil berlari menghampiri Andi.


Setelah sampai, akhirnya Intan bisa meraih baju lelaki berbadan kekar itu dengan tangan kanannya.


"Mau lari ke mana kamu."


Andi kaget dengan kedatangan Intan, ia tersenyum kecil." Waw, ada pacarku. Bukanya tadi kamu itu mengusirku ya. Jadi sebaiknya jangan dekat dekat ya, kita kan sudah putus."

__ADS_1


Perkataan yang membuat Intan dengan beraninya menampar Andi.


Plakkk ....


Tamparan pada akhinya mendarat pada pipi kiri Andi, membuat lelaki itu menatap tajam ke arah Intan.


"Sakit, heh. Kamu itu jangan seenaknya ya, kamu sudah seenaknya memfitnah saya, jadi jangan kabur begitu saja."


Andi tertawa terbahak-bahak di depan Intan, merasa puas dengan apa yang sudah ia lakukan." Siapa yang mau kabur. Bukannya tadi kamu sudah mengusir aku dari rumah Ainun, jadi mau apa lagi kita kan sudah tidak ada urusan. Jadi sebaiknya kamu pergi dari hadapanku, atau aku akan membuat kamu menyesal."


" Aku tidak takut dengan lelaki seperti kamu."


"Waw, yang benar."


Andi memperlihatkan wajah yang terlihat begitu seram di hadapan Intan, seperti sesuatu yang akan terjadi pada Intan saat itu juga.


"Benar, saya tidak akan takut dengan kamu."


Andi mencolek dagu Intan, menatap tajam sembari tertawa. Ia mengangkat kedua tangannya, dan menepuk keras kedua tangannya itu.


Prok .... prok ....


Suara tepukan tangan terdengar, hingga beberapa lelaki keluar dari dalam mobil. Wajah mereka begitu menyeramkan seperti preman pasar yang akan memalak Intan.


"Mau apa kalian."


Intan terlihat melangkah mundur ketakutan melihat sosok lelaki lelaki berotot itu menghampirinya.


Lelaki berotot-otot itu mempermainkan Intan dengan memegang-megang tangan sang gadis manis.


" Jangan berani kalian menyentuh saya, bisa bisa saya akan berteriak memanggil semua orang agar menghajar kalian semua di sini."


Andi menyadarkan tubuhnya pada depan mobil, melipatkan kedua tangan melihat keseruan di depan matanya, begitu menyenangkan mempermainkan permainan bersama gadis manis bernama Intan.


"Kenapa pergi, ayo mendekat lah."

__ADS_1


Intan terlihat sangat ketakutan, ia mencoba berteriak. Tapi tak ada satu pun yang datang dan menolongnya, apalagi keadaan di jalan begitu sepi .


__ADS_2