Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 186 Keras kepala


__ADS_3

Ajeng berniat untuk menjenguk Raka besok di dalam penjara, ia ingin memberitahu bahwa mantan istrinya itu tak akan membebaskannya.


"Ya sudah sekarang cepat tidur, kamu jangan terlalu banyak melamun." Ucap Pak Arnyanto pada anaknya.


Ajeng hanya menganggukkan kepala dan tersenyum, mereka mulai pergi dari kamar anaknya untuk segera tidur dan beristirahat.


Setelah kedua orang tuanya sudah pergi dari dalam kamar, waktunya aja memikirkan cara untuk bisa merayu Anna.


"Bagaimana caranya agar aku bisa membebaskan Raka ya."


Dengan berpikir keras tanpa melihat resiko yang nanti akan terjadi pada dirimu, Ajeng begitu keras kepala, tetap ingin mempertahankan Raka bagaimanapun caranya itu. Karena cintanya yang memang amat dalam.


******


Pak Aryanto dan juga Bu Ayu, mereka terlihat sangat kuatir terhadap anaknya.


"Pak, ibu sangat kuatir sekali terhadap Ajeng, Ibu nyesel udah mempertemukan Ajeng dengan Raka, kalau ujungnya seperti ini."


Lelaki tua itu berusaha menenangkan istrinya yang terlihat cemas," sudah jangan terlalu di pikirkan."


" Tapi tetep, pak. Ibu coba melupakan dan tak memikirkan keadaan Ajeng, yang malah menginginkan Raka bebas. Itu tak mudah."


Pak Aryanto ini duduk diranjang tempat tidur, lelaki tua itu sebenarnya merasakan apa yang kini dirasakan istrinya. Mereka berdua tak mengerti dengan apa yang diinginkan sang anak.


" kenapa ya anak kita itu keras kepala sekali, dia bersikeras ingin membebaskan Raka dari dalam penjara. Sudah tahu Anna tidak akan membebaskan mantan suaminya itu dari dalam penjara."


Semua orang tua pasti akan sama seperti Pak Aryanto dan juga Bu Ayu, yang begitu memikirkan keadaan anaknya.


"Jadi apa yang harus kita lakukan, Bu?"


Pertanyaan Pak Aryanto membuat sang istri tentu saja bingung, jangankan memikirkan Ajeng. Mereka juga kini tengah kesulitan karena kondisi ekonomi dan juga keuangan yang hampir saja menipis.


Apa lagi Pak Aryanto yang kini sudah tak bekerja, membuat rasa pusing mengelilingi otak Bu Ayu. Bagaimana caranya untuk mereka agar bisa menjalani kehidupan seperti biasa.


"Ibu jangan kuatir ya, besok bapak pasti akan mencari pekerjaan agar kita bisa makan dan juga memenuhi kebutuhan sehari-hari."

__ADS_1


Bu Ayu hanya bisa sabar menjalani semuanya, walau mungkin terasa pahit.


" Ya sudah daripada kita memikirkan Ajeng terus-menerus, sebaiknya kita istirahat saja. Urusan aja biar besok kita pikirkan lagi."


Bu Ayu hanya bisa menurut apa yang dikatakan suaminya, wanita tua itu mulai merebahkan tubuhnya untuk beristirahat.


*****


Pagi hari menjelang, waktunya Ajeng bersiap-siap untuk menemui suaminya di dalam penjara. Rasa tak sabar dan juga rindu ingin segera datang menemui Raka begitu mengganggu pada hati Ajeng.


Begitu besar cinta Ajeng kepada Raka, sampai ia tak memperdulikan ucapan kedua orang tuanya yang terpenting ia bisa bersama dengan lelaki yang sangat ia cintai dan hidup bahagia.


kedua orang tuanya yang belum juga bangun, membuat Ajeng leluasa pergi sendirian dengan menggunakan taksi yang ia pesan.


Ajeng menyuruh sang sopir agar dengan cepat mengantarkannya, Iya tak mau jika kedua orang tuanya melihat kepergian Ajeng hanya untuk menemui Raka.


Rasa tak sabar menyelimuti hati wanita berbibir tebal itu.


Setelah sampai.


Senyuman yang selalu iya rindukan.


"Ajeng, kamu datang lagi, ada apa?"


Raka begitu ramah dan lembut saat melihat kedatangan Ajeng, tentulah membuat wanita berambut panjang yang terikat rapih itu merasa terpesona.


Padahal di balik kelembutan yang diperlihatkan oleh Raka, hanyalah sebuah drama agar dirinya bisa keluar dari dalam penjara.


"Gimana? Apa bisa aku bebas dari dalam penjara?"


Bukannya menanyakan kabar, apa dengan terburu-burunya menanyakan Kapan ia bebas dari dalam penjara.


Tapi Ajeng tidak memperdulikan semua itu, Iya kini menjawab perkataan sang suami," Anna tidak mau membebaskan kamu, mas. Padahal aku sudah berusaha keras dengan memohon mohon kepada wanita itu. Tapi tidak ada hasil sama sekali, Anna membiarkanku begitu saja."


Kesal mendengar jawaban yang tak ingin didengar oleh Raka, ia mengira jika Ajeng mampu membuat hati Mantan istrinya itu luluh, tapi kenyataannya sama saja.

__ADS_1


"Tapi aku akan berusaha kok, mas."


Terlihat sekali dari kedua mata Raka, ya seakan enggan menatap Ajeng, karena tak bisa membuat Anna luluh.


Ajeng yang begitu cinta terhadap suaminya, memperlihatkan wajah penuh keyakinan. Bahwa dirinya bisa membebaskan Sang suami dari dalam penjara dengan waktu yang sangat dekat.


"Kamu yakin itu." Raka berusaha menahan amarah, agar dirinya tak memperlihatkan rasa kesal kepada Ajeng istrinya sendiri.


Jika ia meluapkan kekesalan yang terpendam dalam hatinya, kemungkinan besar Ajeng akan kena imbasnya.


Raka takut jika Ajeng tak mempercayainya lagi.


Raka berusaha berderma kembali, melihat dengan raut wajah sedihnya." Terima kasih kamu sudah mau berusaha, mas yakin kamu bisa merayu Anna, agar bisa membebaskan mas di dalam penjara."


Raka kini memeluk sang istri dengan begitu erat, meyakinkan Ajeng agar tetap percaya dengan dirinya.


*********


kedua orang tua Ajeng yang baru saja bangun, tentu saja sangat syok melihat ke dalam kamar anaknya, sudah tidak ada siapa-siapa, mereka berusaha mencari keberadaan sang anak di sekitar rumah berharap jika Ajeng tak pergi jauh karena kondisinya yang belum pulih sepenuhnya.


"Ajeng."


Bu Ayu terus berteriak memanggil nama anaknya.


Namun tak ada jawaban sama sekali, sampai Pak Aryanto menyuruh istrinya untuk bersiap-siap mengganti pakaian.


Pak Aryanto sepertinya curiga bahwa Ajeng tengah menengok sang suami yang berada di dalam penjara.


karena ia tahu begitu besarnya cinta Ajeng kepada suaminya. Sampai Iya tak mempedulikan kondisi tubuhnya sendiri, apalagi Ajeng yang tidak mempunyai kaki seutuhnya, tentulah membuat kedua orang tuanya berselimut dalam kepanikan.


Bu Ayu yang sudah mengganti pakaiannya kini terburu-buru menunggu taksi. Untuk mengantarkan mereka menemui Ajeng yang pastinya tengah menjenguk sang suami.


"Pah, kenapa ya Ajeng begitu nekat sekali menemui Raka sendirian. Padahal kan ada kita berdua apa salahny, ia menyuruh kita berdua untuk mengantarkannya menjenguk Raka."


"Mamah itu kayak nggak paham aja. Jelaskan Ajeng sangat bucin terhadap Raka, pastinya ia ingin menemui Raka kesendirian tanpa kita yang mengantar. kalau kita yang mengantar Ajeng menemui Raka, pastinya mereka tidak akan nyaman untuk mengobrolkan tentang kebebasan Raka."

__ADS_1


"Benar juga apa yang kamu katakan, pah. Ini semua tak bisa dibiarkan. kita harus mencegah kembali kedekatan mereka berdua jika ingin Ajeng sembuh. Dan ibu juga berharap ketika Ajeng sembuh dia bisa melupakan Raka dan memulai hidup baru tanpa beban dengan menuruti keinginan pasangan."


__ADS_2